MUQADDIMAH
Surat "Al Faatihah" (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri
dari 7 ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap
diantara surat-surat yang ada dalam Al Quraan dan termasuk golongan
surat Makkiyyah.
Surat ini disebut "Al Faatihah" (Pembukaan), karena dengan surat
inilah dibuka dan dimulainya Al Quraan.
Dinamakan "Ummul Quraan" (induk Al Quraan) atau "Ummul Kitaab"
(induk Al Kitaab) karena dia merupakan induk dari semua isi
Al Quraan, dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap
sembahyang.
Dinamakan pula "As Sab'ul matsaany" (tujuh yang berulang-ulang)
karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sembahyang.
Surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan
seluruh isi Al Quraan, yaitu :
I. Keimanan :
Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2,
dimana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan
ucapan syukur atas suatu ni'mat itu bagi Allah, karena
Allah adalah Pencipta dan sumber segala ni'mat yang
terdapat dalam alam ini.
Diantara ni'mat itu ialah : ni'mat menciptakan, ni'mat
mendidik dan menumbuhkan, sebab kata "Rab" dalam kalimat
"Rabbul-'aalamiin" tidak hanya berarti "Tuhan" atau
"Penguasa", tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu
mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa
segala ni'mat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya
sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah,
karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini.
Pendidikan, penjagaan dan Penumbuahn oleh Allah di alam
ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia
sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai
macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan
manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta
berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan)
itu merupakan masalah yang pokok, maka didalam surat
Al Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja,
tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu :
"Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin" ( hanya Engkau-lah
yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon
pertolongan). Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang
baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. Yang
dimaksud dengan "Yang Menguasai Hari Pembalasan" ialah
pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatu
tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap ni'mat dan
takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji
untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan
ancaman terhadap perbuatan yang buruk. "Ibadat" yang
terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah,
selanjutnya lihat not 6.
2. Hukum-hukum :
Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh
jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Maksud "Hidayah" disini ialah hidayah yang menjadi sebab
dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik
yang mengenai kepercayaan maupun akhlak, hukum-hukum dan
pelajaran.
3. Kisah-kisah :
Kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang
Allah. Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Quraan memuat
kisah-kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang
menentang. Yang dimaksud dengan orang yang diberi ni'mat
dalam ayat ini, ialah para Nabi, para shiddieqiin (orang-
orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa' (orang-
orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh).
"Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat,"
ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.
Perincian dari yang telah disebutkan diatas terdapat dalam ayat-
ayat Al Quraan pada surat-surat yang lain.
PENUTUP
Surat "Al Fatihaah" ini melengkapi unsur-unsur pokok syari'at Islam,
kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al Quraan yang 113
surat berikutnya. Persesuaian surat ini dengan surat "Al Baqarah"
dan surat-surat sesudahnya ialah surat Al Faatihah merupakan titik-
titik pembahasan yang akan diperinci dalam surat Al Baqarah dan
surat-surat yang sesudahnya. Dibahagian akhir surat "Al Faatihah"
disebutkan permohonan hamba supaya diberi petunjuk oleh Tuhan ke- jalan yang lurus, sedang surat "Al Baqarah" dimulai dengan penunjukan "al Kitaab" (Al Quraan) yang cukup sempurna sebagai pedoman menuju jalan yang dimaksudkan itu.
MUQADDIMAH
Surat "Al Baqarah" yang 286 ayat itu turun di Madinah yang sebahagian
besar diturunkan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan
di Mina pada Hajji wadaa' (hajji Nabi Muhammad s.a.w. yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan
surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur'an yang di dalamnya
terdapat pula ayat yang terpancang (ayat 282).
Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah
penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada BAni Israil (ayat
67 sampai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.
Dinamai "Fusthaatul-Qur'an" (puncak Al Qur'an) karena memuat beberapa hukum
yang tidak disebutkan dalam surat yang lain. Dinamai juga surat "alif-
laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Da'wah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab
dan para musyrikin.
2. Hukum-hukum:
Perintah mengerjakan shalat; menunaikan zakat; hukum puasa;
hukum haji dan umrah; hukum qishash; hal-hal yang halal dan
yang haram; bernafkah di jalan Allah; hukum arak dan judi; cara
menyantuni anak yatim, larangan riba; hutang piutang; nafkah
dan yang berhak menerimanya; wasiyat kepada dua orang ibu-bapa
dan kaum kerabat; hukum sumpah; kewajiban menyampaikan amanat;
sihir; hukum merusak mesjid; hukum merubah kitab-kitab Allah;
hukum haidh, 'iddah, thalak, khulu', ilaa' dan hukum susuan;
hukum melamar, mahar, larangan mengawini wanita musyrik dan
sebaliknya; hukum perang.
3. Kisah-kisah:
Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.; kisah Nabi Ibrahim a.s.; kisah
Nabi Musa a.s. dengan Bani Israil.
4. Dan lain-lain:
Sifat-sifat orang yang bertakwa; sifat orang-orang munafik;
sifat-sifat Allah; perumpamaan-perumpamaan; kiblat, kebangkitan
sesudah mati.
PENUTUP
Kesimpulan Surat Al Baqarah ialah:
1. Menjelaskan beberapa hukum dalam agama Islam.
2. Mengemukakan beberapa perumpamaan.
3. Mengemukakan hujjah-hujjah.
Persesuaian surat Al Baqarah dengan surat Ali 'Imran ialah:
1. Dalam surat Al Baqarah disebutkan Nabi Adam a.s. yang langsung
diciptakan Tuhan, sedang dalam surat Ali 'Imran disebutkan tentang
kelahiran Nabi 'Isa a.s. yang kedua-duanya dijadikan Allah menyimpang
dari kebiasaan.
2. Dalam surat Al Baqarah sifat dan perbuatan orang-orang Yahudi
dibentangkan secara luas, disertai dengan hujjah untuk mematahkan hujjah-
hujjah mereka yang membela kesesatan, sedang dalam surat Ali 'Imran
dibentangkan hal-hal yang serupa yang berhubungan dengan orang Nasrani.
3. Surat Al Baqarah dimulai dengan menyebutkan tiga golongan manusia, ialah
orang-orang mu'min, orang-orang kafir dan orang-orang munafik, sedang
surat Ali 'Imran dimulai dengan menyebutkan orang-orang yang suka
menta'wilkan ayat yang mutasyabihaat dengan ta'wil yang salah untuk
memfitnah orang mu'min dan menyebutkan orang yang mempunyai keahlian
dalam menta'wilkannya.
4. Surat Al Baqarah disudahi dengan permohonan kepada Allah agar diampuni
kesalahan-kesalahan dan kealpaan dalam melaksanakan ta'at, sedang surat
Ali 'Imrandisudahi dengan permohonan kepada Allah agar Dia memberi
pahala atas amal kebaikan hamba-Nya.
5. Surat Al Baqarah dimulai dengan menyebutkan sifat-sifat orang yang
bertakwa, sedang surat Ali 'Imran dimulai dengan perintah bertaqwa.
MUQADDIMAH
Surat "Ali 'Imran" yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat
"Madaniyyah". Dinamakan Ali 'Imran karena memuat kisah keluarga
'Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi 'Isa a.s.,
persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam a. s., kenabian dan beberapa
mu'jizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri 'Imran, ibu
dari Nabi 'Isa a.s.
Surat Al Baqarah dan Ali 'Imran ini dinamakan "Az Zahrawaani"
(dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal
yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan
kelahiran Nabi 'Isa a.s., kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. dan
sebagainya.
Pokok-pokok isinya, ialah:
I. Keimanan:
Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani
yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s.; ketauhidan adalah dasar
yang dibawa oleh seluruh Nabi.
2. Hukum-hukum:
Musyawarah; bermubahalah; larangan melakukan riba.
3. Kisah-kisah:
Kisah keluarga 'Imran; perang Badar dan Uhud dan pelajaran
yang dapat diambil dari padanya.
4. Dan lain-lain :
Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat
mutasyaabihaat; sifat-sifat Allah; sifat orang-orang yang
bertakwa; Islam satu-satunya agama yang diridhai Allah;
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman
kepercayaan; pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah;
perumpamaan-perumpamaan; peringatan-peringatan terhadap
Ahli Kitab; Ka'bah adalah rumah peribadatan yang tertua
dan bukti-buktinya; faedah mengingati Allah dan merenungkan
ciptaanNya.
PENUTUP
Surat Ali 'Imraan mengandung dalil-dalil dan alasan-alasan
untuk membantah kaum nasrani yang memper-Tuhankan Nabi 'Isa a.s.,
menerangkan peperangan Badar dan Uhud, agar kemenangan di
peperangan Badar dan kekalahan di peperangan Uhud yang dialami kaum
muslimin itu, dapat dijadikan pelajaran.
HUBUNGAN SURAT ALI 'IMRAAN DENGAN SURAT AN NISAA'.
1. Surat Ali 'Imraan disudahi dengan perintah bertakwa, sesuai
dengan permulaan surat An Nisaa'.
2. Dalam surat Ali 'Imraan disebutkan peperangan Badar dan Uhud
dengan sempurna, keterangan mana sebahagiannya diulangi dalam
surat An Nisaa'.
3. Dalam surat Ali 'Imraan dikisahkan peperangan Hamraa-ul Asad
yang terjadi setelah perang Uhud, dan peperangan itu
disinggung pula dalam surat An Nisaa'.
4. Dalam surat Ali 'Imraan disebutkan bahwa banyak yang gugur di
kalangan kaum muslimin sebagai Syuhadaa', yang berarti mereka
meninggalkan anak-anak dan isteri-isteri mereka, maka dalam
bahagian permulaan surat An Nisaa' disebutkan perintah
memelihara anak yatim serta pembahagian harta pusaka.
MUQADDIMAH
Surat An Nisaa' yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat
Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.
Dinamakan An Nisaa' karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal
yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling
membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain. Surat yang
lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surat
Ath Thalaq. Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa' dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Al Kubraa" (surat An Nisaa' yang besar), sedang surat
Ath Thalaq disebut dengan sebutan: "Surat An Nisaa' Ash Shughraa"
(surat An Nisaa' yang kecil).
Pokok-pokok isinya, ialah:
I. Keimanan:
Syirik (dosa yang paling besar); akibat kekafiran di hari
kemudian.
2. Hukum-hukum:
Kewajiban para washi dan para wali; hukum poligami; mas kawin;
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tak dapat
mengurus hartanya; pokok-pokok hukum warisan; perbuatan-
perbuatan keji dan hukumannya, wanita-wanita yang haram
dikawini; hukum-hukum mengawini budak wanita; larangan memakan
harta secara bathil; hukum syiqaq dan nusyuq; kesucian lahir
batin dalam sembahyang; hukum suaka; hukum membunuh seorang
Islam; shalat khauf; larangan melontarkan ucapan-ucapan
buruk; masalah pusaka kalalah.
3. Kisah-kisah:
Kisah-kisah tentang Nabi Musa a.s. dan pengikut-pengikutnya.
4. Da lain-lain:
Asal manusia adalah satu; keharusan menjauhi adat-adat zaman
jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita; norma-norma bergaul
dengan isteri; hak seseorang sesuai dengan kewajibannya;
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang diturunkan
kepadanya; dasar-dasar pemerintahan; cara mengadili perkara;
keharusan siap-siaga terhadap musuh; sikap-sikap orang munafik
dalam menghadapi peperangan; berperang di jalan Alllah adalah
kewajiban tiap-tiap mukallaf; norma dan adab dalam peperangan;
cara menghadapi orang-orang munafik; derajat orang-orang yang
berjihad.
PENUTUP
Surat An Nisaa' dimulai, dengan perintah bertakwa dan menyatakan bahwa
asal manusia itu adalah satu, kemudian menerangkan hukum-hukum yang
berhubungan dengan anak yatim, rumah tangga, warisan, wanita yang haram
dinikahi serta hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan. Selanjutnya
disebut tentang hukum-hukum perang serta pelajaran-pelajaran yang harus
diambil dari perang Badar dan Uhud. Pengutaraan hukum perang dan hukum
keluarga dalam surat ini, merupakan hujjah-hujjah yang dikemukakan kepada
Ahli Kitabm yang mana hujjah-hujjah ini ditegaskan pada bahagian terakhir
dari surat ini. Akhirnya surat ini ditutup dengan perintah kepada para
mu'min supaya mereka bersabar, mengeratkan hubungan sesama manusia dan
bertakwa kepada Allah, agar mendapat keberuntungan dunia akhirat.
HUBUNGAN SURAT AN NISAA' DENGAN SURAT AL MAA-IDAH
1. Surat An Nisaa' menerangkan beberapa macam 'aqad, seperti perkawinan,
perceraian, wasiat dan sebagainya. Sedang permulaan surat Al Maa-idah
menyatakan supaya hamba-hamba Allah memenuhi segala macam 'aqad-'aqad
yang telah dilakukan baik terhadap Allah maupun terhadap sesama
manusia di samping menerangkan 'aqad-'aqad yang lain.
2. Surat An Nisaa' mengemukakan beberapa hukum secara umum dan
mendatangkan jalan untuk menetapkan suatu hukum, kemudian surat
Al Maa-idah menjelaskan dan menegaskan hukum-hukum itu.
3. Sebagaimana halnya surat Al Baqarah dan surat Ali 'Imran mengemukakan
hal-hal yang berhubungan dengan pokok-pokok agama seperti keesaan Allah
dan kenabian, maka surat An Nisaa' dan Al Maa-idah menerangkan tentang
furu' agama (hukum fiqh), seperti hal-hal yang berhubungan dengan
hukum keluarga dan sebagainya.
4. Akhir surat An Nisaa' mengemukakan hujjah-hujjah atas kekeliruan orang-
orang Yahudi dan Nasrani serta kekeliruan kaum musyrikin dan munafikin.
Hal yang serupa diterangkan secara panjang lebar oleh surat Al Maa-idah.
5. Surat An Nisaa' dimulai dengan "Yaa ayyuhannaas" yang nadanya sama
dengan nada surat Makkiyyah, sedang surat Al Maa-idah sebagai surat
Madaniyyah dimulai dengan: "Yaa ayyuhal ladziina aamanu" Hal ini
menyatakan bahwa: sekalipun nadanya berlainan, tetapi yang dituju
oleh kedua surat ini ialah seluruh manusia.
MUQADDIMAH
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat; termasuk golongan surat
Madaniyyah. Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat
ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Medinah,
yaitu di waktu haji wadaa'.
Surat ini dinamakan "Al Maa-idah" (hidangan) karena memuat kisah
pengikut-pengikut setia Nabi 'Isa a.s. meminta kepada Nabi 'Isa a.s.
agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan)
dari langit (ayat 112). Dan dinamakan "Al Uqud" (perjanjian), karena
kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, dimana Allah menyuruh
agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan
perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.
Dinamakan juga "Al Munqidz" (yang menyelamatkan), karena akhir surat
ini mengandung kisah tentang Nabi 'Isa a.s. penyelamat
pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.
Pokok-pokok isinya.
I. Keimanan :
Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s.
2. Hukum-hukum :
Keharusan memenuhi perjanjian; hukum melanggar syi'ar Allah;
makanan yang dihalalkan dan diharamkan; hukum mengawini ahli kitab;
wudhu'; tayammum; mandi; hukum membunuh orang; hukum mengacau dan
mengganggu keamanan; hukum qishaas; hukum melanggar sumpah dan
kafaaratnya; hukum binatang waktu ihram; hukum persaksian dalam
berwasiat.
3. Kisah-kisah :
Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina;
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi 'Isa a.s.
4. Dan lain-lain :
Keharusan bersifat lemah lembut terhadap sesama mu'min bersikap
keras terhadap orang-orang kafir; penyempurnaan Agama Islam di
zaman Nabi Muhammad s.a.w.; keharusan jujur dan berlaku adil;
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong; akibat berteman
akrab dengan orang yang bukan muslim; kutukan Allah terhadap
orang-orang Yahudi, kewajiban rasul hanya menyampaikan agama;
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam; Ka'bah sokoguru
kehidupan manusia; peringatan Allah supaya meninggalkan kebiasaan
Arab jahiliyah; larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan
yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.
PENUTUP
Surat Al Maa-idah mengemukakan bagaimana seharusnya orang mu'min
bersikap terhadap sesamanya maupun terhadap orang bukan mu'min;
manfaat memenuhi janji prasetia terhadap Allah, perjanjian yang
dilakukan oleh sesama manusia, dan ketauhidan Allah.
HUBUNGAN SURAT AL MAA-IDAH DENGAN SURAT AL AN'AAM.
1. Surat Al Maa-idah mengemukakan hujjah terhadap ahli kitab, sedang
surat Al An'aam mengemukakan hujjah terhadap kaum musyrikin.
2. Surat Al An'aam memuat makanan-makanan yang diharamkan dan binatang
sembelihan secara umum, sedang surat Al Maa-idah memuat secara
terperinci.
3. Akhir Surat Al Maa-idah mengemukakan bahwa Allah s.w.t. menguasai
langit dan bumi, memberi balaan terhadap perbuatan-perbuatan manusia
selama didunia, sedang permulaan surat Al An'aam mengutarakan bahwa
segala puji hanya untuk Allah, Pencipta langit dan bumi dan Sumber
kebahagiaan manusia.
MUQADDIMAH
Surat Al An'aam (binatang ternak: unta, sapi, biri-biri dan kambing)
yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyah, karena
hampur seluruh ayat-ayat-Nya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.
Dinamakan Al An'aam karena di dalamnya disebut kata "An'aam" dalam
hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka
binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan
diri kepada tuhan mereka. Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum
yang berkenaan dengan binatang ternak itu.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempurnaan sifat-sifatNya;
kebenaran kenabian Nabi Muhammad s.a.w.; penyaksian Alla
atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya'qub, Nuh, Daud, Sulaiman,
Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, 'Isa, Ilayas,
Alyasa', Yunus dan Luth; penegasan tentang adanya risalah
dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan,
kepalsuan kepercayaan orang-orang musyrik dan keingkaran
mereka terhadap hari kiamat.
2. Hukum-hukum:
Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum
Jahiliyah; makanan yang halal dan yang haram; wasiat yang
sepuluh dari Al Quraan, tentang tauhid keadilan dan
hukum-hukum; larangan mencaci maki berhala orang musyrik
karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.
3. Kisah-kisah
Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul; kisah pengalaman
Nabi Muahammad s.a.w. dan para nabi pada umumnya; cerita Nabi
Ibrahim a.s. membimbing kaumnya kepada tauhid.
4. Dan lain-lain:
Sikap kepala batu kaum musyrikin, cara seorang nabi memimpin
umatnya; bidang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul;
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul; kepercayaan
orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat;
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan; nilai
hidup duniawi.
PENUTUP
Dalam surat Al An'aam Allah menjelaskan keesaaan dan kesempurnaan
sifat-sifat-Nya, menyatakan kebatalan kepercayaan orang-orang musyrik
dengan bantahan-bantahan yang logis dan mudah diterima oleh akal.
Hukuman yang berat akan dijatuhkan atas mereka yang berkepala batu
menolak kebenaran.
Hubungan surat Al Anaam dengan surat Al A'raaf adalah sebagai berikut:
1. Kedua surat tersebut termasuk di antara 7 surat yang panjang
(assab'uththiwaal), keduanya sama-sama emmbicarakan pokok aqidah agama.
Dalam surat Al An'aam dikemukakan garis-garis besar aqidah-aqidah itu,
sedang surat Al A'raaf menjelaskannya.
2. Dalam surat Al An'aam Allah menerangkan asal usul kejadian manusia yaitu
dari tanah serta menjelaskan tentang beberapa generasi manusia yang telah
dibinasakan Allah, kemudian disinggung pula tentang rasul-rasul
dengan menyebut beberapa nama mereka secara garis besarnya, sedang
surat Al A'raaf menjelaskannya.
3. Pada bahagian terakhir surat Al An'aam, Allah mengatakan bahwa Dia
menjadikanmanusia khalifah-khalifah di bumi serta mengangkat derajat
sebahagian mereka, maka bagian permulaan surat Al A'raaf Allah
mengemukakan penciptaan Adam a.s. dan anak cucunya dan dijadikan-Nya
Khalifah di atas bumi begitu juga anak cucunya.
MUQADDIMAH
Surat Al A'raaf yang berjumlah 206 ayat termasuk golongan surat
Makkiyah, diturunkan sebelum turunnya surat Al An'aam dan termasuk
golongan surat "Assab 'uththiwaal" (tujuh surat yang panjang).
Dinamakan "Al A'raaf" karena perkataan Al A'raaf terdapat dalam ayat 46
yang mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas
Al A'raaf yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Mentauhidkan Allah dalam berdo'a dan beribadat; hanya Allah sendiri
yang mengatur dan menjaga alam; menciptakan undang-undang dan
hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat;
Allah bersemayam di 'Arasy; bantahan terhadap kepalsuan syirik;
ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manusia; Musa berbicara dengan
Allah; tentang melihat Allah; perintah beribadat sambil merendahkan
diri kepada Allah; Allah mempunyai al asmaaul husnaa.
2. Hukum-hukum:
Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk; kewajiban
mengikuti Allah dan rasul; perintah berhias waktu akan sembahyang;
bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang
dianugerahkan Allah; perintah memakan makanan yang halal lagi
baik dan larangan memakan yang sebaliknya.
3. Kisah-kisah:
Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis; kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya;
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya; kisah Nabi Syu'aib a.s.
dengan kaumnya; kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun.
4. Dan lain-lain:
Al Qur'an diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah
mengikutinya; Nabi Muhammad s.a.w. diutus untuk seluruh manusia; adab
orang mukmin, adab mendengar pembacaan Al Qur'an dan berzikir; rasul
bertanggung jawab menyampaikan seruan Allah; balasan terhadap
orang-orang yang mengikuti dan mengingkari rasul; da'wah rasul-rasul
yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah; tentang ashhaabul
A'raaf yang berada antara syurga dan neraka; Allah pencipta makhluk;
manusia adalah makhluk yang terbaik dijadikan Allah serta mempunyai
kesediaan untuk baik dan untuk buruk; permusuhan syaitan terhadap
Bani Adam; manusia khalifah Allah di muka bumi; kehancuran sesuatu
kaum adalah karena perbuatan mereka sendiri; tiap-tiap bangsa
mempunyai masa jaya dan masa kehancuran; Allah mencoba manusia
dengan kakayaan dan kemiskinan; istidraj azab Allah terhadap
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya.
PENUTUP
Surat Al A'raaf dimulai dengan pengutaraan tentang kewajiban
manusia mengikuti rasul serta akibat-akibat mengingkarinya.
Selanjutnya diterangkan tentang perselisihan antara Nabi Adam dan
iblis di surga yang juga merupakan permulaan perselisihan antara
golongan yang ta'at kepada perintah Allah dan golongan yang
mengingkari sebagaimana yang terjadi pada nabi-nabi dahulu dengan
umat-umatnya. Kemudian surat ini ditutup dengan adab-adab orang
mu'min, adab-adab mendengarkan ayat-ayat Allah dan bagaimana cara
berdo'a dan berzikir kepada-Nya.
PERSESUAIAN ANTARA SURAT AL-A'RAAF DENGAN SURAT AL ANFAAL.
1. Akhir surat Al A'raaf mengemukakan keadaan beberapa orang rasul
sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dalam menghadapi kaumnya, sedang
permulaan surat Al Anfaal menerangkan keadaan Nabi Muhammad s.a.w.
dalam menghadapi umatnya.
2. Permusuhan antara Adam dan iblis di surga kemudian dilanjutkan
dengan permusuhan antara manusia yang menerima petunjuk Allah dengan
yang mengingkarinya, hal ini diterangkan dalam surat Al A'raaf. Hal
yang serupa diterangkan lebih jelas dalam surat Al Anfaal sebagaimana
pertentangan ke dua golongan itu, serta tingkah laku mereka dalam
peperangan Badar.
Surat Al A'raaf termasuk surat yang banyak persesuaiannya dengan
surat-surat Al Qur'an yang lain: seperti dengan surat Al Baqarah,
Ali 'Imran, At Tau-bah, Yunus dan sebagainya.
MUQADDIMAH
Surat Al Anfaal terdiri aras 75 ayat dan termasuk golongan
surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di
Madinah.
Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang
berhubung kata Al Anfaal terdapat pada permulaan surat ini dan
juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta
rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan
peperangan pada umumnya. Menurut riwayat Ibnu Abbas r.a. surat
ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi
pada tahun kedua hijrah. Peperangan ini sangat penting artinya,
karena dialah yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam.
Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama
kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang berjumlah besar, dan
berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini
memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.
Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta
rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama
dari surat ini. Selain hal-hal tersebut di atas maka Pokok-pokok
isinya adalah sebagai berikut:
I. Keimanan:
Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi
mereka; menentukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah;
jaminan Allah terhadap kemenangan umat yang beriman; 'inayat
Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal; hanyalah Allah yang
dapat mempersatukan hati orang yang beriman; tindakan-tindakan
dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia;
adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang
Badar; adanya gangguan-gangguan syaitan pada orang-orang mu'min
dan tipu daya mereka pada orang-orang musyrikin; syirik adalah
dosa berat.
2. Hukum-hukum:
Aturan pembagian harta rampasan perang; kebolehan memakan harta
rampasan perang; larangan lari/mundur dalam peperangan; hukum
mengenai tawanan perang pada permulaan Islam; kewajiban ta'at
kepada pimpinan dalam perang; keharusan mengusahakan perdamaian;
kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat perlengkapan
perang; ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat
Allah dalam peperangan; tujuan perang dalam Islam; larangan
khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat; larangan
mengkhianati perjanjian.
3. Kisah-kisah:
Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar, suasana
kaum muslimin di waktu perang Badar,
sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung; keadaan Nabi
Muhammad s.a.w. sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyrikin
terhadap beliau; orang yahudi membatalkan perjanjian damai dengan
Nabi Muhammad s.a.w.; kisah keadaan orang kafir musyrikin dan
Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.
4. Dan lain lain:
Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang
beriman; sunnatullah pada seseorang dan masyarakat.
PENUTUP
Surat Al Anfaal menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan
pada umumnya, khususnya menerangkan Perang Badar, yaitu peperangan yang
menentukan jalan sejarah Islam dan muslimin, bahkan tidak akan salah kiranya
kalau dikatakan bahwa Perang Badar itu menetukan jalan sejarah umat manusia
pada umumnya. Sebahagian besar surat ini mengandung hal-hal yang berhubungan
dengan perdamaian dan peperangan; tingkah laku orang-orang kafir, orang-
orang munafik dan sebahagian orang-orang Islam yang tidak kuat imannya
dalam peperangan. Kemudian ditegaskan bahwa Allah menolong orang-orang yang
beriman dan menghancurkan orang-orang kafir dan munafik itu, adalah
merupakan sunnah-Nya yang tidak dapat dimungkiri berlakunya, sebagaimana
pernah terjadi pada Fir'aun dan kaumnya serta umat-umat yang sebelumnya.
PERSESUAIAN SURAT AL ANFAAL DENGAN SURAT AT TAUBAH
Sebagaimana halnya hubungan surat-surat yang lain dengan surat-surat
yang sesudahnya, maka hal yang dikemukakan oleh surat Al Anfaal, seperti
hal-hal yang berhubungan dengan pokok-pokok agama dan furu'nya, sunnah
Allah, syari'at hukum-hukum perjanjian dan janji setia, hukum perang dan
damai dan sebagainya disebutkan dalam surat At Taubah, umpamanya:
1. Perjanjian yang dikemukakan surat Al Anfaal dijelaskan oleh surat
At Taubah, terutama hal-hal yang berhubungan dengan pengkhianatan
musuh terhadap janji-janji mereka.
2. Sama-sama menerangkan tentang memerangi orang-orang musyrikin dan Ahli
Kitab.
3. Surat Al Anfaal mengemukakan bahwa yang mengurus dan memakmurkan
Masjidilharam itu ialah orang-orang yang bertakwa, sedang surat At Taubah
menerangkan bahwa orang-orang musyrik tidak pantas mengurus dan
memakmurkan mesjid, bahkan mereka akan menghalang-halangi orang-orang
Islam terhadapnya.
4. Surat Al Anfaal menyebut sifat-sifat orang-orang yang sempurna imannya,
dan sifat-sifat orang-orang kafir, lalu pada akhir surat diterangkan
pula tentang hukum perlindungan atas orang-orang muslim yang berhijrah,
orang-orang muslim yang tidak berhijrah serta orang-orang kafir. Hal
yang serupa dikemukakan pula pada surat At Taubah.
5. Surat Al Anfaal menganjurkan agar bernafkah di jalan Allah, sedang
surat At Taubah menegaskan sekali lagi. Begitu pula dalam surat Al Anfaal
diterangkan tentang penggunaan harta rampasan perang, sedang surat
At Taubah menerangkan penggunaan zakat.
6. Surat Al Anfaal mengemukakan tentang orang-orang munafik dan orang-
orang yang ada penyakit dalam hatinya, kemudian surat At Taubah
menerangkannya lebih luas.
Kalau kita perhatikan, ternyata bahwa antara surat Al Anfaal dan
surat At Taubah terdapat hubungan yang erat sekali. Seakan-akan keduanya
merupakan satu surat, bahkan sebahagian ahli tafsir mengatakan bahwa: Kalau
tidaklah karena ketentuan Allah, maka mereka akan memandang surat Al Anfaal
dan surat At Taubah sebagai satu surat.
MUQADDIMAH
Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat termasuk golongan surat-surat
Madaniyyah. Surat ini dinamakan "At Taubah" yang berarti pengampunan
berhubung kata "At Taubah" berulang kali disebut dalam surat ini.
Dinamakan juga dengan "Baraah" yang berarti berlepas diri yang di sini
maksudnya pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan
pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai
dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang
lain yang merupakan sifat dari surat ini.
Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini
tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang
dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi
seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan
cinta kasih Allah.
Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad s.a.w. kembali dari peperangan
Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H. Pengumuman ini disampaikan oleh
Saidina 'Ali r.a. pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum
musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai
berikut:
I. Keimanan:
Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman;
pembalasan atas amalan-amalan manusia hanya dari Allah;
segala sesuatu menurut sunnatullah; perlindungan Allah
bagi orang-orang yang beriman; kedudukan Nabi Muhammad s.a.w.
di sisi Allah.
2. Hukum-hukum:
Kewajiban menafkahkan harta; macam-macam harta dalam
agama serta penggunaannya; jizyah; perjanjian dan perdamaian;
kewajiban umat Islam terhadap Nabinya; sebab-sebab orang
Islam melakukan perang total; beberapa dasar politik
kenegaraan dan peperangan dalam Islam.
3. Kisah-kisah:
Nabi Muhammad s.a.w. dengan Abu Bakar r.a. di suatu
gua di bukit Tsur ketika hijrah; perang Hunain (perang
Authas atau perang Hawazin); perang Tabuk.
4. Dan lain-lain:
Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.
PENUTUP
Surat At-Taubah mengandung pernyatan pembatalan perjanjian damai pleh
Nabi Muhammad s.a.w. dengan kaum musyrikin, karena mereka tidak memenuhi
syarat-syarat perjanjian damai pada perjanjian Hudaibiyyah. Selanjutnya
Surat At Taubah mengandung hukum peperangan dan perdamaian, hukum
kenegaraan, keadaan Nabi Muhammad s.a.w. di waktu hijrah, dan kewajiban
menafkahkan harta dan orang-orang yang berhak menerimanya.
HUBUNGAN SURAT AT-TAUBAH DENGAN SURAT YUNUS.
1. Akhir surat At-Taubah ditutup dengan menyebutkan tentang risalah
Nabi Muhammad s.a.w. dan hal-hal serupa disebutkan pula pada akhir surat
Yunus.
2. Surat At-Taubah menyebutkan keadaan orang-orang munafik serta menerangkan
perbuatan mereka di waktu Al Qur'an diturunkan, sedang surat Yunus
menerangkan sikap orang kafir terhadap Al Qur'an.
MUQADDIMAH
Surat Yunus terdiri atas 109 ayat, termasuk golongan
surat-surat Makkiyyah kecuali ayat 40, 94, 95, yang diturunkan pada
masa Nabi Muhmmad s.a.w. berada di Madinah.
Surat ini dinamai "surat Yunus" karena dalam surat ini
terutama ditampilkan kisah Nabi Yunus a.s. dan pengikut-pengikutnya
yang teguh imannya.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Al Qur'an bukanlah sihir, Allah mengatur alam semesta dari
Arasy-Nya; syafa'at hanyalah dengan izin Allah; Wali-wali
Allah; wahyu Allah yang menerangkan yang ghaib kepada manusia;
Allah menyaksikan dan mengamat-amati perbuatan
hamba-hamba-Nya di dunia; Allah tidak mempunyai anak.
2. Hukum:
Menentukan perhitungan tahun dan waktu dengan perjalanan
matahari dan bulan; hukum mengada-adakan sesuatu terhadap
Allah dan mendustakan ayat-ayat-Nya.
3. Kisah-kisah:
Kisah Nabi Nuh a.s. dengan kaumnya; Nabi Musa dengan Fir'aun
dan tukang-tukang sihir; kisah Bani Israil setelah ke luar
dari negeri Mesir; Nabi Yunus a.s. dengan kaumnya.
4. Dan lain-lain:
Manusia ingat kepada Allah di waktu kesukaran dan lupa di
waktu senang; keadaan orang-orang baik dan orang-orang jahat
di hari kiamat; Al Qur'an tidak dapat ditandingi; rasul hanya
menyampaikan risalah.
PENUTUP
Surat Yunus mengandung hal-hal yang berhubungan dengan
pokok-pokok kepercayaan, lenyapnya syirik, pengutusan rasul, hari
berbangkit, hari pembalasan dan hal-hal yang berhubungan dengan
pokok-pokok agama sebagaimana biasa didapati dalam surat-surat
Makkiyyah.
HUBUNGAN SURAT YUNUS DENGAN SURAT HUUD
1. Kedua surat ini sama-sama dimulai dengan "alif laam raa",
kemudian diiringi dengan menyebutkan risalah nabi-nabi yang
diutus Allah dan menerangkan kedudukan para rasul sebagai
pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.
2. Kedua surat ini pada pertengahannya sama-sama menerangkan
tentang keingkaran orang-orang kafir terhadap Al Qur'an,
bantahan terhadap anggapan kepalsuan risalah para rasul,
keingkaran kaum musyrikin terhadap pokok agama. Kemudian kedua
surat ini sama-sama ditutup dengan seruan agar mengikuti
rasul, bersabar terhadap semua tindakan jahat kaum musyrikin,
istiqaamah dan bertawakkal kepada Allah.
3. Sama-sama menerangkan kisah para nabi, tetapi kisah para
disebut dalam surat Huud bersifat menjelaskan apa yang telah
dalam surat Yunus. Pada umumnya apa yang diutarakan dalam
surat Huud merupakan penjelasan dari apa yang telah disebut
dalam surat Yunus.
MUQADDIMAH
Surat Huud termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, terdiri dari 123 ayat
diturunkan sesudah surat Yunus. Surat ini dinamai surat Huud karena ada
hubungan dengan terdapatnya kisah Nabi Huud a.s. dan kaumnya dalam surat ini
terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh a.s., Shaleh a.s.,
Ibrahim a.s., Luth a.s., Syu'aib a.s. dan Musa a.s.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Adanya 'Arsy Allah; kejadian alam dalam 6 phase; adanya golongan-golongan
manusia di hari kiamat.
2 Hukum-hukum:
Agama membolehkan menikmati yang baik-baik dan memakai perhiasan asal
tidak berlebih-lebihan; tidak boleh berlaku sombong; tidak boleh mendo'a
atau mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin menurut sunnah Allah.
3 Kisah-kisah:
Kisah Nuh a.s. dan kaumnya; kisah Huud a.s. dan kaumnya; kisah Shaleh a.s.
dan kaumnya; kisah Ibrahim a.s. dan kaumnya; kisah Syu'aib a.s. dan
kaumnya; kisah Luth a.s. dan kaumnya; kisah Musa a.s. dan kaumnya.
4. Dan lain-lain.
Pelajaran-peIajaran yang diambil dari kisah-kisah para nabi; air sumber
segala kehidupan; sembahyang itu memperkuat iman; sunnah Allah yang
berhubungan dengan kebinasaan suatu kaum.
PENUTUP
Surat Hud mengandung hal-hal yang berhubungan dengan pokok-pokok agama,
seperti: Ketauhidan, kerasulan, hari berbangkit, kemudian dihubungkan dengan
da'wah yang telah dilakukan oleh para Nabi kepada kaumnya.
Hubungan surat Hud dengan surat Yusuf
1. Kedua surat ini sama-sama dimulai dengan aliif laam raa dan kemudian
diiringi dengan penjelasan tentang Al Qur'an.
2. Surat Yusuf menyempurnakan penjelasan kisah para rasul yang disebut dalam
surat Hud dan surat Yusuf, kemudian kisah itu dijadikan dalil untuk
menyatakan bahwa Al Qur'an itu adalah wahyu Ilahi; tidak ada lagi sesudah
Nabi Muhammad s.a.w. nabi-nabi atau rasul-rasul yang diutus Allah.
3. Perbedaan kedua surat ini dalam menjelaskan kisah-kisah para Nabi ialah
bahwa dalam surat Hud diutarakan kisah beberapa orang rasul dengan kaumnya
dalam menyampaikan risalahnya, akibat-akibat bagi orang yang mengikuti
mereka dan akibat bagi orang yang mendustakan, kemudian dijadikan
perbandingan dan khabar yang mengancam kaum musyrikin Arab beserta
pengikut-pengikutnya. Dalam surat Yusuf diterangkan tentang kehidupan Nabi
Yusuf yang mula-mula dianiaya oleh saudara-saudaranya yang kemudian menjadi
orang yang berkuasa yang dapat menolong saudara-saudaranya dan ibu bapanya.
Pribadi Nabi Yusuf a.s. ini harus dijadikan teladan oleh semua yang beriman
kepada Nabi Muhammad s.a.w.
MUQADDIMAH
Surat Yusuf ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan
surat-surat Makkiyyah karena diturunkan di Mekah sebelum hijrah.
Surat ini dinamakan surat Yusuf adalah karena titik berat dari
isinya mengenai riwayat Nabi Yusuf a.s. Riwayat tersebut salah
satu di antara cerita-cerita ghaib yang diwahyukan kepada Nabi
Muhammad s.a.w. sebagai mu'jizat bagi beliau, sedang beliau sebelum
diturunkan surat ini tidak mengetahuinya. Menurut riwayat Al
Baihaqi dalam kitab "Ad Dalail" bahwa segolongan orang Yahudi masuk
agama Islam sesudah mereka mendengar cerita Yusuf a.s. ini, karena
sesuai dengan cerita-cerita yang mereka ketahui.
Dari cerita Yusuf a.s. ini, Nabi Muhammad s.a.w. mengambil
pelajaran-pelajaran yang banyak dan merupakan penghibur terhadap
beliau dalam menjalankan tugasnya.
POKOK-POKOK ISINYA:
I. Keimanan:
Kenabian Yusuf a.s. dan mu'jizat-mu'jizatnya; ketentuan yang
berhubungan dengan keagamaan adalah hak Allah semata-mata;
qadha Allah tak dapat dirobah; para rasul semuanya laki-laki.
2. Hukum-hukum:
Keharusan merahasiakan sesuatu untuk menghindari fitnah;
barang dan anak temuan wajib dipungut tidak boleh dibiarkan;
boleh melakukan helah yang tidak merugikan orang lain untuk
memperoleh sesuatu kemaslahatan.
3. Kisah-kisah:
Riwayat Nabi Yusuf a.s. bersaudara dengan orang tua mereka
Ya'qub a.s.
4. Dan lain-lain:
Beberapa sifat dan suri tauladan yang mulia yang dapat diambil
dari cerita Yusuf a.s: persamaan antara agama para nabi-nabi
ialah tauhid.
PENUTUP
Surat Yusuf ini seluruh isinya berkisar pada cerita Nabi Yusuf
a.s. dan saudara-saudaranya beserta orang tua mereka. Cara
penuturan kisah Nabi Yusuf ini kepada Nabi Muhammad s.a.w. berbeda
dengan kisah-kisah nabi-nabi yang lain, yaitu kisah Nabi Yusuf
a.s. ini khusus diceritakan dalam satu surat sedang kisah-kisah
nabi-nabi yang lain disebutkan dalam beberapa surat. Isi dari
kisah Nabi Yusuf a.s. ini berlainan pula dengan kisah-kisah nabi-
nabi yang lain. Dalam kisah nabi-nabi yang lain Allah menitik berat-
kan kepada tantangan yang bermacam-macam dari kaum mereka, kemudian
mengakhiri kisah itu dengan kemusnahan para penantang para nabi itu.
Didalam kisah Nabi Yusuf a.s ini, Allah s.w.t. menonjolkan akibat
yang baik daripada kesabaran, dan bahwa kesenangan itu datangnya
sesudah penderitaan. Allah menguji Nabi Ya'qub a.s. dengan kehilangan
puteranya Yusuf a.s. dan penglihatannya, dan menguji ketabahan dan
kesabaran Yusuf a.s. dengan dipisahkan dari ibu bapanya, dibuang ke
dalam sumur, dan diperdagangkan sebagai budak. Kemudian Allah s.w.t
menguji imannya dengan godaan wanita cantik lagi bangsawan dan akhirnya
dimasukkan kedalam penjara. Kemudian Allah s.w.t. melepaskan Yusuf a.s.
dan ayahnya dari segala penderitaan dan cobaan itu; menghimpunkan mereka
kembali; mangembalikan penglihatan Ya'qub a.s. dan menghidupkan
lagi cinta kasih antara mereka dengan Yusuf a.s.
HUBUNGAN SURAT YUSUF DENGAN SURAT AR RA'D.
1. Dalam surat ini Allah secara umum mengemukakan adanya
tanda-tanda keesaan Allah di langit dan di bumi. Didalam
surat Ar Ra'd Allah mengemukannya lagi secara lebih jelas.
2. Kedua surat tersebut sama-sama memuat pengalaman nabi-nabi
zaman dahulu beserta umatnya. Yang menentang kebenaran
mengalami kehancuran sedang yang mengikuti kabenaran mendapat
kemenangan.
3. Pada akhir surat Yusuf diterangkan bahwa Al Qur'an itu
bukanlah perkataan yang diada-adakan, melainkan petunjuk dan
rahmat bagi orang yang beriman, dan keterangan yang demikian
itu diulangi lagi di awal surat Ar Ra'd.
MUQADDIMAH.
Surat Ar Ra'd ini terdiri atas 43 ayat termasuk golongan
surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan "Ar Ra'd" yang berarti "guruh" karena
dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya "Dan guruh itu bertasbih
sambil memuji-Nya", menunjukkan sifat kesucian dan kesempurnaan
Allah s.w.t. Dan lagi sesuai dengan sifat Al Quraan yang
mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi
guruh itu menimbulkan kecemasan dan harapan kepada manusia. Isi
yang terpenting dari surat ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada
makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat. Bagi
Allah s.w.t. tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dan ketaatan atau keingkaran
terhadap hukum Allah.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Allah-lah yang menciptakan alam semesta serta mengaturnya;
ilmu Allah meliputi segala sesuatu; adanya malaikat yang
selalu memelihara manusia yang datang silih berganti, yaitu
malaikat Hafazhah; hanya Allah yang menerima do'a dari
hamba-Nya; memberi taufiq hanya hak Allah, sedang tugas rasul
menyampaikan agama Allah.
II. Hukum-hukum:
Manusia dilarang mendo'akan yang jelek-jelek untuk dirinya;
kewajiban mencegah perbuatan-perbuatan yang mungkar.
III. Kisah-kisah:
Kisah pengalaman nabi-nabi zaman dahulu.
IV. Dan lain-lain:
Beberapa sifat yang terpuji; perumpamaan bagi orang-orang yang
menyembah berhala dan orang-orang yang menyembah Allah; Allah
tidak merobah nasib sesuatu bangsa sehingga mereka merobah
keadaan mereka sendiri.
PENUTUP
Surat Ar-Ra'd lebih banyak menitik beratkan pada pembuktian
kebenaran keesaan Allah, kepastian akan terjadinya hari berbangkit.
Dijelaskan pula tugas-tugas para rasul dan kebenaran dari
kitab-kitab suci yang dibawa mereka. Terhadap mereka yang ingkar
dan memusuhi para nabi-nabi itu, diterangkan bahwa mereka pasti
mengalami kegagalan dan kehancuran.
HUBUNGAN SURAT AR RA'D DENGAN SURAT IBRAHIM
1. Dalam surat Ar Ra'd disebutkan bahwa Al Quraan itu diturunkan
dalam bahasa Arab, sebagai pemisah antara yang baik dengan
yang bathil, sedangkan hikmah menurunkan dalam bahasa Arab itu
belum dijelaskan. Dalam surat Ibrahim hikmah itu dijelaskan.
2. Dalam surat Ar Ra'd Allah mengatakan bahwa seorang rasul tak
akan dapat melakukan suatu mu'jizat tanpa izin dari Allah,
maka dalam surat Ibrahim para rasul menegaskan bahwa
beliau-beliau adalah manusia biasa, tak dapat mendatangkan
suatu mu'jizat tanpa izin Allah.
3. Dalam surat Ar Ra'd disebutkan bahwa Nabi Muhammad s.a.w.
menyerukan agar manusia bertawakkal kepada Allah, dan dalam
surat Ibrahim Nabi Muhammad s.a.w. menerangkan bahwa para
rasul bertawakkal hanya kepada Allah.
4. Dalam surat Ar Ra'd Allah menyebutkan perbuatan-perbuatan
makar orang-orang kafir, maka di surat Ibrahim diulangi lagi,
dan disebutkan pula sifat-sifat mereka yang tidak tersebut
dalam surat Ar Ra'd itu.
MUQADDIMAH
Surat Ibrahim ini terdiri atas 52 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah karena diturunkan di Mekah sebelum Hijrah. Dinamakan
"IBRAHIM", karena surat ini mengandung do'a Nabi Ibrahim a.s. yaitu
***14:1***
ayat 35 sampai dengan 41. Do'a ini isinya antara lain: permohonan agar
keturunannya mendirikan shalat, dijauhkan dari menyembah berhala-berhala
dan agar Mekah dan daerah sekitarnya menjadi daerah yang aman dan makmur.
Doa Nabi Ibrahim a.s. ini telah diperkenankan oleh Allah s.w.t. sebagaimana
telah terbukti keamanannya sejak dahulu sampai sekarang. Do'a tersebut
dipanjatkan beliau ke hadirat Allah s.w.t. sesudah selesai membina Ka'bah
bersama puteranya Ismail a.s., di dataran tanah Mekah yang tandus.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Al Qur'an adalah pembimbing manusia ke jalan Allah;
segala sesuatu dalam alam ini kepunyaan Allah; keingkaran
manusia terhadap Allah tidaklah mengurangi kesempurnaan-Nya;
nabi-nabi membawa mu'jizat atas izin Allah semata-mata;
Allah kuasa mematikan manusia dan membangkitkannya kembali
dalam bentuk baru; ilmu Allah meliputi yang lahir dan yang bathin.
II. Hukum-hukum:
Perintah mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian
harta baik secara rahasia maupun secara terang-terangan.
III. Kisah-kisah:
Kisah Nabi Musa a.s. dengan kaumnya, serta kisah para
rasul zaman dahulu.
IV. Dan lain-lain:
Sebabnya rasul-rasul diutus dengan bahasa kaumnya sendiri;
perumpamaan tentang perbuatan dan perkataan yang hak
dengan yang bathil; kejadian langit dan bumi mengandung
hikmah-hikmah; macam-macam ni'mat Allah kepada manusia dan
janji Allah kepada hamba-hamba yang mensyukuriNya.
PENUTUP
Surat Ibrahim mengandung petunjuk-petunjuk bagi manusia untuk
mengenal Tuhan mereka dan janji Allah menyediakan syurga kepada
orang-orang yang beriman. Dalam surat ini Allah menjelaskan bahwa
rasul-rasul itu diutus dengan mempergunakan bahasa kaumnya agar mudah
bagi kaum itu memahami perintah dan larangan Allah. Kemudian Allah
menjelaskan pula apa yang terjadi antara rasul-rasul itu dengan kaumnya.
PERSESUAIAN SURAT IBRAHIM DENGAN SURAT AL HIJR :
1. Kedua-duanya sama-sama dimulai dengan "Alief laam Raa" dan
menerangkan sifat Al Quraanul Karim.
2. Dalam surat Ibrahim Allah menjelaskan bahwa Al Qur'an itu pembimbing
manusia ke jalan Allah, kemudian dalam surat Al Hijr Allah menambahkan
lagi bahwa Al Qur'an itu akan tetap dijaga kemurniannya sepanjang masa.
3. Masing-masing surat ini melukiskan keadaan langit dan bumi dan sama-sama
menjelaskan bahwa kejadian-kejadian alam ini mengandung hikmah, sebagai
tanda keesaan dan kebesaran Allah s.w.t.
4. Keduanya mengandung kisah Nabi Ibrahim a.s. dengan terperinci.
5. Keduanya sama-sama menerangkan keadaan orang-orang kafir di hari kiamat
dan penyesalan mereka, mengapa mereka sewaktu hidup di dunia tidak jadi
orang mu'min.
6. Kedua surat ini sama-sama menceritakan kisah-kisah nabi zaman dahulu
dengan kaumnya serta menerangkan keadaan orang-orang yang ingkar kepada
nabi-nabi itu pada hari kiamat. Kisah-kisah itu disampaikan kepada
Nabi Muhammad s.a.w. untuk menghibur hati beliau di waktu menghadapi
berbagai kesulitan yang beliau temui dalam menyiarkan agama Islam.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 99 ayat, termasuk golongan surat-
surat Makkiyyah, karena diturunkan di Mekah sebelum hijrah.
Al Hijr adalah nama sebuah daerah pegunungan yang didiami
zaman dahulu oleh kaum Tsamud terletak di pinggir jalan
antara Madinah dan Syam (Syria).
Nama surat ini diambil dari nama daerah pegunungan itu,
berhubung nasib penduduknya yaitu kaum Tsamud diceritakan
pada ayat 80 sampai dengan 84, mereka telah dimusnahkan
Allah s.w.t., karena mendustakan Nabi Shaleh a.s. dan
berpaling dari ayat-ayat Allah. Dalam surat ini terdapat
juga kisah-kisah kaum yang lain yang telah dibinasakan oleh
Allah seperti kaum Luth a.s. dan kaum Syu'aib a.s. Dari ke
semua kisah-kisah itu dapat diambil pelajaran bahwa orang-
orang yang menentang ajaran rasul-rasul akan mengalami
kehancuran.
Pokok-pokok isinya :
I. Keimanan:
Kepastian nasib suatu bangsa hanya di tangan Allah; Allah
menjamin kemurnian Al Qur'an sepanjang masa; syaitan tidak
dapat menaiki alam malakut, karena ada yang menjaganya, alam
malakut (langit) senantiasa dijaga dari syaitan; kadar rezki
yang diberikan kepada manusia sesuai dengan hikmah
kebijaksanaan Allah; Allah memelihara hambaNya yang telah
mendapat taufiq dari godaan syaitan; Allah di samping
bersifat pengampun dan penyayang juga mengazab orang-orang
yang ingkar; manusia dihimpun pada hari kiamat.
2. Hukum-hukum:
Larangan melakukan homosexuel; kewajiban melakukan ibadah
selama hidup; larangan menginginkan harta orang kafir;
perintah kepada Nabi Muhammad s.a.w. agar melakukan da'wah
agama secara terang-terangan; larangan berputus asa terhadap
rahmat Allah.
3. Kisah-kisah:
Nabi Ibrahim a.s. dengan kaumnya; Nabi Luth a.s. dengan
kaumnya; kaum Syu'aib dan kaum Shaleh a.s. (Tsamud).
4. Dan lain-lain:
Kejadian-kejadian dalam alam ini menunjukkan kebesaran
Allah; kejadian alam dan isinya mengandung hikmah; angin
mengawinkan tepung sari bunga-bungaan; asal kejadian Adam a.s.
PENUTUP
Dalam surat Al Hijr ini banyak terdapat ayat-ayat yang
menunjukkan bukti-bukti adanya Allah serta kekuasaan-Nya,
baik bukti-bukti yang ada di langit dan di bumi, maupun yang
ada pada kejadian manusia serta kehidupan mereka. Disebutkan
pula di dalamnya kisah-kisah beberapa nabi dan macam-macam
azab yang ditimpakan kepada kaum yang mendustakan para rasul
Allah itu. Tercantum juga tentang anugerah Allah yang besar
yang diberikan kepada Nabi Muhammad s.a.w. ya'ni As Sab'ul
Matsaani atau surat Al Faatihah dan Al Qur'anul Karim.
HUBUNGAN SURAT AL HIJR DENGAN SURAT AN NAHL.
1. Sebagaimana umumnya surat-surat yang turun di Mekah
sebelum hijrah berisi soal-soal ketauhidan, kerasulan dan
hari kiamat, begitu pulalah kedua surat ini.
2. Pada bagian akhir surat Al Hijr (ayat 92, 93), Allah
menyatakan bahwa manusia akan diminta pertanggungan jawabnya
pada hari kiamat terhadap apa yang telah dikerjakannya di
dunia ini, maka pada awal surat An Nahl, Allah menegaskan
kepastian datangnya hari kiamat itu, dan pada ayat 93 An
Nahl ditegaskan lagi pertanggungan jawab manusia itu.
3. Pada bagian pertama surat Al Hijr, Allah menerangkan
tentang kebenaran Al Qur'an serta jaminan-Nya untuk
memeliharanya, sedang dalam surat An Nahl terdapat ancaman-
ancaman terhadap mereka yang mendustakan kebenaran Al Qur'an itu.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah. Surat ini dinamakan "An Nahl" yang berarti "lebah" karena
di dalamnya, terdapat firman Allah s.w.t. ayat 68 yang artinya :
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan
keni'matan kepada manusia. Ada persamaan antara madu yang
dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur'anul Karim. Madu berasal dari
bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam
penyakit manusia (lihat ayat 69). Sedang Al Qur'an mengandung inti
sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman
dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua
bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al Isra' ayat 82).
Surat ini dinamakan pula "An Ni'am" artinya ni'mat-ni'mat, karena
di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni'mat untuk
hamba-hamba-Nya.
Pokok-pokok isinya :
I. Keimanan:
Kepastian adanya hari kiamat; keesaan Allah; kekuasaan-Nya dan
kesempurnaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya; pertanggungan
jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah
dikerjakannya.
II. Hukum-hukum :
Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan
dan yang dihalalkan; kebolehan memakai perhiasan-perhiasan
yang berasal dari dalam laut seperti merjan dan mutiara;
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan
terpaksa; kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal
dimakan; kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan
mempermainkan sumpah; larangan membuat-buat hukum yang tak ada
dasarnya; perintah membaca isti'aadzah (a'uudzubillahi
minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari
syaitan yang terkutuk); larangan membalas siksa melebihi
siksaan yang diterima.
3. Kisah-kisah:
Nabi Ibrahim a.s.
IV. Lain-lain:
Asal kejadian manusia; madu adalah untuk kesehatan manusia;
nasib pemimpin-pemimpin palsu di hari kiamat; pandangan orang
Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan; ajaran moral di
dalam Islam; pedoman da'wah dalam Islam.
PENUTUP
Surat An Nahl mengandung keterangan tentang sifat-sifat orang
musyrikin, dan tingkah laku mereka, serta tantangan mereka terhadap
kebenaran hari kiamat dan kerasulan Muhammad s.a.w., kemudian Allah
s.w.t. menyebutkan peringatan-peringatan-Nya kepada mereka dan azab
yang mereka alami sebagai akibat dari sifat perbuatan mereka itu.
Dalam surat ini, Allah menunjukkan bukti-bukti ke Esaan-Nya seraya
memaparkan ni'mat-ni'mat yang diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
Dan surat ini memuat juga hukum-hukum dan ajaran-
ajaran tentang akhlak.
HUBUNGAN SURAT AN NAHL DENGAN SURAT AL ISRAA'
1. Dalam surat An Nahl ini, Allah menyebutkan perselisihan
orang-orang Yahudi tentang hari Sabtu, kemudian di surat Al
Israa' dijelaskan syariat orang Yahudi yang ditetapkan bagi
mereka di dalam Taurat.
2. Sesudah Allah s.w.t. menganjurkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.
agar bersabar dan melarang beliau agar jangan berduka cita
atau berkecil hati disebabkan tipu daya orang-orang musyrikin,
maka di surat Al Israa' Allah menerangkan kemuliaan Nabi
Muhammad s.a.w. serta martabatnya yang tinggi di hadapan Allah
s.w.t.
3. Dalam surat An Nahl ini Allah menerangkan bermacam-macam
ni'mat-Nya, disamping itu Allah menerangkan, bahwa kebanyakan
manusia tidak mensyukuri ni'mat itu, kemudian dalam surat Al
Israa' disebut lagi ni'mat-ni'mat yang lebih besar yang
diberikan kepada Bani Israil yang mereka tidak mensyukurinya,
malah mereka berbuat kerusakan di muka bumi.
4. Dalam surat An Nahl Allah mengatakan, bahwa air madu yang ke
luar dari lebah merupakan minuman yang mengandung obat bagi
manusia, maka dalam surat Al Israa' diterangkan bahwa Al Qur'an pun
mengandung juga obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan "Al Israa" yang berarti "memperjalankan di malam hari",
berhubung peristiwa Israa' Nabi Muhammad s.a.w. di Masjidil Haram di Mekah
ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam
surat ini. Penuturan cerita Israa' pada permulaan surat ini, mengandung
isyarat bahwa Nabi Muhammad s.a.w. beserta umatnya kemudian hari akan
mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.
Surat ini dinamakan pula dengan "Bani Israil" artinya "keturunan Israil"
berhubung dengan permulaan surat ini, ya'ni pada ayat kedua sampai dengan
ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya'ni pada ayat 101 sampai
dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani Israil yang setelah menjadi
bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena
menyimpang dari ajaran Allah s.w.t. Dihubungkannya kisah Israa' dengan
riwayat "Bani Israil" pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat
Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israil, apabila
mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat;
Allah pasti memberi rezki kepada manusia; Allah mempunyai nama-nama
yang paling baik; Al Qur'an adalah wahyu dan Allah yang memberikan
petunjuk, penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman; adanya
padang Mahsyar dan hari berbangkit.
2. Hukum-hukum:
Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia; berzina,
mempergunakan harta anak yatim kecuali dengan cara yang dibenarkan
agama; ikut-ikutan baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
dan durhaka kepada ibu bapa.
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan
dan takaran, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.
3. Kisah-kisah:
Kisah Israa' Nabi Muhammad s.a.w., beberapa kisah tentang Bani Israil.
4. Dan lain-lain:
Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya;
beberapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat;
petunjuk-petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan
masyarakat; manusia makhluk Allah s.w.t. yang mulia, dalam pada itu
manusia mempunyai pula sifat-sifat yang tidak baik seperti suka
ingkar, putus asa dan terburu-buru; dan persoalan roh.
PENUTUP
Banyak ayat-ayat dalam surat ini mengemukakan bahwa Al Qur'an yang dibawa
Nabi Muhammad s.a.w. benar-benar wahyu Allah, dan bahwa manusia itu pasti
mengalami hari berbangkit. Dalam surat ini dikemukakan pula dalil-dalil
kekuasaan dan ke-esaan Allah s.w.t. serta hukum-hukum yang diturunkan-Nya yang
wajib diperhatikan dan dikerjakan oleh manusia.
HUBUNGAN SURAT AL ISRAA' DENGAN SURAT AL KAHFI.
1. Surat Al Israa' dimulai dengan tasbih (membaca subhanallah) pada Allah
sedang surat Al Kahfi dibuka dengan tahmid (membaca alhamdulillah)
kepada-Nya. Tasbih dan tahmid adalah dua kata yang acapkali bergandengan
dalam firman-firman Allah.
2. Persamaan antara penutup surat Al Israa' dengan pembukaan surat Al Kahfi
yaitu sama-sama dengan tahmid kepada Allah.
3. Menurut riwayat, ada tiga buah pertanyaan yang dihadapkan oleh orang-orang
Yahudi dengan perantaraan orang-orang musyrikin kepada Nabi Muhammad s.a.w.
ya'ni masalah roh, cerita Ashabul Kahfi dan kisah Zulqarnain. Masalah roh
itu dijawab dalam surat Al Israa', dan dua masalah lainnya pada surat
Al Kahfi.
4. Dalam surat Al Israa' ayat 85 Allah berfirman: "Dan tidaklah kamu diberi
ilmu hanyalah sedikit" Firman ini ditujukan kepada sebagian orang-orang
Yahudi yang merasa sombong dengan ilmu pengetahuan yang ada pada mereka,
sebab bagaimanapun juga mereka adalah manusia yang hanya diberi ilmu
pengetahuan yang sedikit.
Dalam surat Al-Kahfi Allah menceritakan tentang Nabi Musa a.s. dengan Nabi
Khidhr a.s. yang belum pernah diketahui oleh orang-orang Yahudi.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-
surat Makkiyyah. Dinamai "Al-Kahfi" artinya "Gua" dan "Ashhabul Kahfi"
yang artinya "Penghuni-Penghuni Gua". Kedua nama ini diambil dari
cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang
beberapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya. Selain
cerita tersebut, terdapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang
kesemuanya mengandung i'tibar dan pelajaran-pelajaran yang amat berguna
bagi kehidupan manusia. Banyak hadist-hadist Rasulullah s.a.w. yang
menyatakan keutamaan membaca surat ini.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Kekuasaan Allah swt untuk memberi daya tahan hidup pada manusia
di luar hukum kebiasaan: dasar-dasar tauhid serta keadilan
Allah s.w.t. tidak berobah untuk selama-lamanya; kalimat-kalimat
Allah (ilmu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu,
sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya. Kepastian datangnya
hari berbangkit; Al Qur'an adalah kitab suci yang isinya bersih
dari kekacauan dan kepalsuan.
2. Hukum-Hukum:
Dasar hukum wakalah (berwakil); larangan membangun tempat ibadah
di atas kubur; hukum membaca "Insya Allah", perbuatan salah yang
dilakukan karena lupa adalah dimaafkan; kebolehan merusak suatu
barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.
3. Kisah-Kisah:
Cerita Ashhabul Kahfi; cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir
dan yang lainnya mu'min; cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s.;
cerita Dzulkarnain dengan Ya'juj dan Ma'juj.
4. Dan lain-lain:
Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat
ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah swt serta ibadah
yang ikhlas kepadaNya; kesungguhan seseorang dalam mencari guru
(ilmu) adab sopan-santun antara murid dengan guru; dan beberapa
contoh tentang cara memimpin dan memerintah rakyat, serta
perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.
PENUTUP
Surat Al Kahfi dimulai dengan menerangkan sifat Al Qur'an sebagai
petunjuk dan peringatan bagi manusia, dan sebagai peringatan pula terhadap
mereka yang mengatakan bahwa Allah mempunyai anak. Semua yang ada dipermukaan
bumi merupakan perhiasan bagi bumi dan sengaja diciptakan Allah agar manusia
memikirkan bagaimana cara mengambil manfa'at dari semuanya itu.
Kekuasaan Allah dan betapa luas pengetahuan-Nya dikemukakan dalam
surat ini dengan menyebutkan kisah Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s., kisah
Dzulqarnain dan dengan mengibaratkan bahwa seandainya semua air yang ada di
bumi dan ditambah lagi sebanyak itu pula dijadikan tinta untuk menulis ilmu
Allah, tentu tidak akan mencukupi.
Kemudian diterangkan bahwa semua amal orang musyrik itu tidak diberi
pahala di akhirat, sedang untuk orang-orang mu'min disediakan Jannatun Na'im.
PERSESUAIAN SURAT AL KAHFI DENGAN SURAT MARYAM
1. Kedua surat ini sama-sama mengandung kisah yang ajaib, seperti
surat Al Kahfi mengemukakan kisah Ashhabul Kahfi, kisah Musa a.s.
dengan Khidhr a.s., kisah Dzulqarnain, sedang surat Maryam
mengemukakan kisah keluarga Yahya a.s. di waktu bapaknya Zakariya a.s.
telah sangat tua dan ibunya seorang wanita tua yang mandul, dan
kisah kelahiran Isa a.s. tanpa bapak.
2. Bagian akhir surat Al Kahfi menerangkan tentang ancaman Allah
terhadap orang-orang kafir yang mengambil pelindung selain
Allah, semua amal mereka sia-sia dan mereka dimasukkan ke dalam
neraka, sedang pada bagian akhir surat Maryam diulangi lagi celaan
dan ancaman Allah terhadap orang-orang yang mempersekutukan-Nya.
MUQADDIMAH
Surat Maryam terdiri atas 98 ayat, termasuk golongan
surat-surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayatnya diturunkan
sebelum Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Madinah, bahkan sebelum
sahabat-sahabat beliau hijrah ke negeri Habsyi. Menurut riwayat
Ibnu Mas'ud, Ja'far bin Abi Thalib membacakan permulaan surat
Maryam ini kepada raja Najasyi dan pengikut-pengikutnya di waktu ia
ikut hijrah bersama-sama sahabat-sahabat yang lain ke negeri
Habsyi.
Surat ini dinamai "Maryam", karena surat ini mengandung kisah
Maryam, ibu Nabi Isa a.s. yang serba ajaib, yaitu melahirkan
puteranya lsa a.s., sedang ia sebelumnya belum pernah dikawini atau
dicampuri oleh seorang laki-laki pun. Kelahiran Isa a.s. tanpa
bapa, merupakan suatu bukti kekuasaan Allah s.w.t. Pengutaraan
kisah Maryam sebagai kejadian yang luar biasa dan ajaib dalam surat
ini, diawali dengan kisah kejadian yang luar biasa dan ajaib pula,
yaitu dikabulkannya do'a Zakaria a.s. oleh Allah s.w.t., agar
beliau dianugerahi seorang putera sebagai pewaris dan pelanjut
cita-cita dan kepercayaan beliau, sedang usia beliau sudah sangat
tua dan isteri beliau seorang yang mandul yang menurut ukuran ilmu
biologi tidak mungkin akan terjadi.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Allah berbuat sesuatu menurut yang dikehendaki-Nya, kendatipun
menyimpang dan hukum-hukum alam; Isa a.s. bukan anak Allah
karena mustahil Allah mempunyai anak; Jibril a.s. turun
kepada rasul-rasul membawa wahyu atas perintah Allah; di hari
kiamat orang kafir menghadap Allah sendiri-sendiri semua
manusia akan menghadap Tuhan sebagai hamba.
2. Kisah-kisah:
Allah mengabulkan do'a Zakaria a.s. untuk memperoleh anak,
sekalipun usia beliau sudah sangat tua dan isteri beliau
seorang yang mandul; kisah kelahiran Isa a.s. tanpa bapak;
kisah Ibrahim a.s. dengan bapaknya; Musa a.s. seorang yang
dipilih oleh Allah; Ismail a.s. seorang yang benar dalam
janjinya; Idris a.s. seorang yang sangat kuat kepercayaannya.
3. Dan lain-lain:
Ancaman terhadap orang yang meninggalkan sembahyang dan
mengikuti hawa nafsunya serta kabar gembira untuk orang-orang
yang telah taubat dan mengerjakan amal-amal yang saleh;
keadaan di syurga; membiarkan orang yang sesat setelah diberi
petunjuk bergelimang dalam kesesatannya adalah sunnah Allah.
PENUTUP
Surat Maryam mengemukakan hal-hal yang perlu diperhatikan oleh
manusia apabila mereka memikirkan kejadian-kejadian di alam semesta
dalam hubungan dengan Penciptanya; ada kejadian yang terjadi sesuai
dengan sunnah Allah dan dapat dipikirkan oleh manusia; dan ada pula
kejadian yang luar biasa, aneh lagi ajaib yang tidak sampai pikiran
manusia kepadanya. Kejadian-kejadian yang luar biasa ini terjadi
pada orang-orang yang telah dipilih oleh Allah, dan dikemukakan
kepada manusia agar mereka percaya kepada Allah Maha Pencipta.
Persesuaian surat Maryam dengan surat Thaahaa.
1. Surat Maryam mengemukakan kisah beberapa nabi dan rasul; ada
yang secara terperinci, ada yang secara ringkas dan ada pula
yang hanya disebut namanya saja, yaitu Nabi Adam a.s. Surat
Thaahaa mengemukakan pula kisah beberapa orang nabi dan rasul
sebagaimana halnya surat Maryam. Kisah Musa a.s. dalam surat
Maryam disebut secara singkat, sedang dalam surat Thaahaa
dikemukakan secara terperinci. Begitu pula kisah Adam a.s.
yang hanya namanya saja disebut dalam surat Maryam, sedang
dalam surat Thaahaa dikemukakan secara terperinci.
2. Menurut riwayat Ibnu Abbas, surat Thaahaa diturunkan kepada
Nabi Muhammad s.a.w. setelah Allah menurunkan surat Maryam.
3. Akhir surat Maryam menerangkan bahwa Al Quraan diturunkan
dalam bahasa Arab, sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang
takwa dan peringatan bagi orang-orang yang ingkar, sedang awal
surat Thaahaa menerangkan dan menguatkannya lagi.
MUQADDIMAH
Surat Thaahaa terdiri atas 135 ayat, diturunkan sesudah diturunkannya
surat Maryam, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamai "Thaahaa", diambil dari perkataan yang berasal
dan ayat pertama surat ini. Sebagaimana yang lazim terdapat pada
surat-surat yang memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya,
di mana huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah
kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan
dikemukakan hal-hal yang sangat penting diketahui, maka demikian
pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf "thaahaa"
dalam surat ini.
Allah menerangkan bahwa Al Qur'an merupakan peringatan bagi manusia,
wahyu dari Allah, Pencipta semesta alam.Kemudian Allah menerangkan
kisah beberapa orang nabi; akibat-akibat yang telah ada akan dialami
oleh orang-orang yang percaya kepada Allah dan orang-orang yang
mengingkari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Selain hal-hal
tersebut di atas, maka surat ini mengandungi pokok-pokok isi sebagai
berikut:
I. Keimanan:
Al Qur'an adalah peringatan bagi manusia terutama bagi orang-orang
yang bertakwa; Musa a.s. langsung menerima wahyu dari Allah, tanpa
perantara Jibril; Allah menguasai 'Arsy, mengetahui sesuatu yang
samar dan yang lebih samar;keadaan orang berdosa dihimpunkan di
hari kiamat; syafa'at tidak bermanfaat di hari kiamat, kecuali
syafa'at dari orang-orang yang dapat izin dari Allah.
2. Hukum-hukum:
Perintah mengerjakan sembahyang dan keutamaan waktu-waktunya;
kewajiban menyuruh keluarga melakukan sembahyang.
3. Kisah-kisah:
Kisah Musa a.s. dan Harun a.s. dalam menghadapi Fir'aun dan
Bani Israil, kisah Nabi Adam a.s. dan iblis.
4. Dan lain-lain:
Perintah Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w. supaya dia
meminta tambahan ilmu kepada Allah sekalipun sudah menjadi
rasul; Allah tidak akan mengazab sesuatu kaum sebelum diutus
rasul kepada mereka; jangan terpengaruh oleh kesenangan
kehidupan dunia.
PENUTUP
Dalam surat Thaahaa ini diterangkan bahwa Al Qur'an sebagai kitab
yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w., adalah peringatan
dan kabar gembira bagi manusia, wajib diikuti dan dipercayai. Amatlah
besar akibat yang dialami oleh orang dahulu yang tidak mempercayai
dan mengingkari rasul-rasul yang diutus kepada mereka, seperti Fir'aun
dan pengikut-pengikutnya. Kisah Bani Israilpun dipaparkan Allah dalam
surat ini sebagai suatu umat yang banyak mengingkari perintah nabinya.
PERSESUAIAN SURAT THAAHA DENGAN SURAT AL ANBIYAA'.
Surat Thaahaa diakhiri dengan menerangkan bahwa manusia mudah
dipengaruhi oleh kenikmatan hidup duniawi, yang oleh Allah
dijadikan sebagai cobaan bagi manusia, juga diakhiri dengan
menyuruh bersabar dan bersembahyang, serta menerangkan apa-apa yang
diterima oleh orang-orang yang bertakwa. Hal itu diulangi lagi pada
permulaan surat Al Anbiyaa' dan ditegaskan bahwa manusia selalu
lalai dan lupa terhadap perbuatan-perbuatan yang harus dilakukannya
untuk menghadapi hari kiamat dan berhisab di akhirat nanti.
MUQADDIMAH
Surat Al Anbiyaa' yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan
surat Makkiyyah.Dinamai surat ini dengan "al anbiyaa'"(nabi-nabi),
karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi. Permulaan
surat Al Anbiyaa' menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi
hari berhisab,kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik
Mekah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. maka ditegaskan
Allah,kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing
mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah
tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya.
Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran
yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah di dunia dan
di akhirat nanti. Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi
dengan umatnya. Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar
kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad s.a.w
supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang
dahulu. Selain yang tersebut diatas pokok-pokok isi surat ini ialah:
I. Keimanan:
Para nabi dan para rasul itu selamanya diangkat Allah dari
jenis manusia; langit dan bumi akan binasa kalau ada Tuhan
selain Allah; semua Rasul membawa ajaran tauhid dan keharusan
manusia menyembah Allah; tiap-tiap yang bernyawa akan
merasakan mati; cobaaan Allah kepada manusia ada yang berupa
kebaikan dan ada yang berupa keburukan; hari kiamat datangnya
dengan tiba-tiba.
2. Kisah-kisah:
Kisah Ibrahim a.s (ajakan Ibrahim a.s kepada bapaknya untuk
menyembah Allah, bantahan Ibrahim terhadap kaumnya yang menyembah
berhala-berhala, bantahan lbrahim a.s. terhadap Namrudz yang
bersimaharajalela dan menganggap dirinya Tuhan),kisah Nuh a.s.,
kisah Daud a.s., dan Sulaiman a.s; kisah Ayyub a.s.; kisah
Yunus a.s.; kisah Zakaria a.s.
3. Dan lain- lain:
Karunia Al Qur'an; tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi
Muhammad saw untuk mendatangkan mu'jizat yang lain dari
Al Qur'an ; kehancuran suatu umat adalah karena kezalimannya;
Allah menciptakan langit dan bumi beserta hikmatnya; soal jawab
antara berhala dan penyembahnya dalam neraka; timbulnya Ya'juj
dan Ma'juj sebagai tanda-tanda kedatangan hari kiamat; bumi
akan diwariskan kepada hamba Allah yang dapat memakmurkannya;
kejadian alam semesta; sesuatu yang hidup itu berasal dari air.
PENUTUP
Surat Al Anbiyaa' menerangkan bahwa sudah menjadi sunnah Allah
bahwa para nabi atau rasul yang diutus-Nya adalah dari jenis
manusia yang diberikan kepada mereka kitab dan mu'jizat. Dasar
agama (aqidah) yang dibawa oleh para nabi itu adalah sama, hanya
berbeda dalam syariat (hukum furu'), karena ini disesuaikan dengan
perkembangan masa dan keadaan.
PERSESUAIAN SURAT AL ANBIYAA' DENGAN SURAT AL HAJJ.
1. Pada akhir surat Al Anbiyaa' dikemukakan hal-hal yang
berhubungan dengan hari kiamat, sedang pada bahagian permulaan
surat Al Hajj mengemukakan bukti-bukti adanya hari berbangkit
dengan dalil akal.
2. Surat Al Anbiyaa' mengutarakan bahwa Allah tidak menjadikan
manusia sebagai makhluk yang kekal hidupnya; semuanya akan
merasai mati. Kemudian mereka dibangkitkan di hari kiamat
untuk dihisab perbuatan-perbuatan yang teIah mereka lakukan di
dunia. Pada surat Al Hajj diterangkan bahwa manusia dapat
menjadikan dalil keadaan pertumbuhan yang terdapat di alam
semesta, dari ada kepada tidak ada dan sebaliknya, sebagai
bukti bahwa janji Allah tentang hari berbangkit pasti akan
menjadi kenyataan.
3. Surat Al Anbiyaa' menerangkan kisah nabi-nabi dan dalil-dalil
yang dihadapkan kepada kaumnya tentang kebenaran agama yang
dibawanya, sedang surat Al Hajj menuntut agar manusia
memperhatikan aneka ragam ciptaan Allah dan pengaturannya,
untuk memperkuat kepercayaan kepada kebenaran agama Allah.
MUQADDIMAH
Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah,
terdiri atas 78 ayat, sedang menurut pendapat sebahagian ahli
tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyah. Sebab perbedaan
ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang
diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah.
Dinamai surat ini "Al Hajj", karena surat ini mengemukakan
hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram,
thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar-syi'ar
Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan di masa
Nabi Ibrahim a.s., dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim a.s.
bersama puteranya Ismail a.s.
Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-
surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam
musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang
diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah,
isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang
berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan
ada pula yang mutasyabihaat.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari
kiamat; dari susunan alam semesta dapat diambil bukti-
bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.
2. Hukum-hukum:
Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah
disyari'atkan pada masa Ibrahim a.s.; hukum berkata
dusta; larangan menyembah berhala; binatang-binatang
yang halal dimakan; hukum menghalang-halangi manusia
dari jalan Allah dan Masjidil-haram; keizinan berperang
untuk mempertahankan diri dan agama; hukum-hukum yang
berhubungan dengan haji.
3. Dan lain-lain:
Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan
yang tercela; tanda-tanda takwa yang sampai ke hati;
tiap-tiap agama yang dibawa rasul-rasul sejak dahulu
mempunyai syari'at tertentu dan cara melakukannya;
pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah;
sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat-ayat Al Qur'an;
anjuran berjihad dengan sesungguhnya; celaan Islam
terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu
mencari keuntungan untuk diri sendiri.
PENUTUP
Surat Al Hajj mengingatkan manusia kepada adanya hari
berbangkit dengan mengemukakan bukti-bukti tentang kejadian dan
proses perkembangan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Oleh
sebab itu sudah sewajarnya manusia bersyukur dan menyembah Allah
Tuhan semesta alam. Juga mengemukakan tentang disyariatkannya
haji, mengenai waktu-waktu yang boleh melakukan peperangan dan
yang tidak boleh melakukannya berhubungan adanya bulan-bulan suci
yang ditentukan Allah.
PERSESUAIAN SURAT AL HAJJ DENGAN SURAT AL MU'MINUUN
1. Surat Al Hajj menyuruh orang-orang mu'min mendirikan
sembahyang, menunaikan zakat, mengerjakan aneka rupa kebaikan
agar mendapat keberuntungan, sedang permulaan surat Al
Mu'minuun menegaskan bahwa orang-orang mu'min bila mereka
betul-betul mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan
menjauhi apa yang dilarang-Nya seperti zina, pasti mendapat
keberuntungan.
2. Sama-sama mengemukakan tentang penciptaan manusia,
perkembangan kejadian dan kehidupan, dan menjadikan hal yang
demikian sebagai bukti adanya hari berbangkit.
3. Sama-sama menyinggung umat-umat yang dahulu yang tidak
mengindahkan seruan nabi-nabi mereka, untuk menjadi i'tibar
bagi orang-orang yang datang di belakang mereka.
MUQADDIMAH
Surat Al Mu'minuun terdiri atas 118 ayat, termasuk golongan
surat-surat Makkiyyah.
Dinamai "Al Mu'minuun", karena permulaan ayat ini manerangkan
bagaimana seharusnya sifat-sifat orang mu'min yang menyebabkan
keberuntungan mereka di akhirat dan ketenteraman jiwa mereka di
dunia. Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi
akhlak bagi Nabi Muhammad s.a.w.
Pokok-pokok isinya.
I. Keimanan:
Kepastian hari berbangkit dan hal-hal yang terjadi pada hari
kiamat; Allah tidak memerlukan anak atau sekutu.
2. Hukum-hukum:
Manusia dibebani sesuai dengan kesanggupannya; rasul-rasul
semuanya menyuruh manusia memakan makanan yang halal lagi
baik; pokok-pokok agama yang dibawa para nabi adalah sama,
hanya syariatnya yang berbeda-beda.
3. Kisah-kisah:
Kisah Nuh a.s.; kisah Hud a.s. kisah Musa a.s. dan Harun a.s.;
kisah Isa a.s.
4. Dan lain-lain:
Tujuh perkara yang harus dipenuhi, oleh seorang mu'min yang
ingin mendapat keberuntungan hidup di dunia maupun di akhirat;
proses kejadian manusia; tanda-tanda orang yang bersegera
kepada kebaikan; ni'mat Allah yang dianugerahkan kepada
manusia wajib disyukuri.
PENUTUP
Surat Al Mu'minuun dimulai dengan sifat-sifat yang dipunyai oleh
seorang mu'min yang berbahagia hidup di dunia dan di akhirat.
Sekalipun Allah tidak membeda-bedakan pemberian rezki di dunia ini kepada
manusia apakah ia mu'min atau kafir, tetapi kebahagiaan yang
sebenarnya hanya diberikan kepada orang-orang yang mu'min di
akhirat kelak.
Kemudian dikemukakan apa yang telah dialami oleh para nabi dan
kaum-kaum kepada siapa mereka diutus; orang-orang yang mengikuti
nabi selalu mendapat pertolongan dari Allah, sedang orang-orang
yang mengingkari nabi dihancurkan dan dimusnahkan Allah agar
menjadi i'tibar bagi umat-umat yang datang kemudian.
Setelah menggambarkan kedahsyatan hari kiamat, maka surat ini
ditutup dengan menggambarkan hasil yang diperoleh oleh orang-orang
mu'min dan orang-orang kafir di akhirat nanti.
Persesuaian surat Al Mu'minuun dengan surat An Nuur.
1. Pada bagian permulaan surat Al Mu'minuun disebutkan bahwa
salah satu tanda orang-orang mu'min itu ialah orang yang
menjaga kemaluannya, sedang permulaan surat An Nuur menetapkan
hukum bagi orang-orang yang tidak dapat menjaga kemaluannya
yaitu pezina wanita, pezina laki-laki dan apa yang berhubungan
dengannya, seperti menuduh orang berbuat zina, qishshatul
ifki, keharusan menutup mata terhadap hal-hal yang ada
hubungannya dengan perbuatan zina, menyuruh agar orang-orang
yang tidak sanggup melakukan pernikahan menahan diri dan
sebagainya.
2. Pada surat Al Mu'minuun Allah menegaskan bahwa Dia menciptakan
alam ini ada hikmatnya, yaitu agar semua makhluk yang
diciptakan-Nya itu melaksanakan perintah-perintah dan
menghentikan larangan-larangan-Nya, sedang surat An Nuur
menyebutkan sejumlah perintah-perintah dan larangan-larangan
MUQADDIMAH
Surat An Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat
Madaniyah. Dinamai "An Nuur" yang berarti "Cahaya", diambil dari kata An
Nuur yang terdapat pada ayat ke 35. Dalam ayat ini, Allah s.w.t. menjelaskan
tentang Nuur Ilahi, ya'ni Al Qur'an yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang
menerangi alam semesta. Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk-
petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Kesaksian lidah dan anggota-anggota atas segala perbuatan manusia
pada hari kiamat; hanya Allah yang menguasai langit dan bumi;
kewajiban rasul, hanyalah menyampaikan agama Allah; iman merupakan
dasar daripada diterimanya amal ibadah.
2. Hukum-hukum:
Hukum-hukum sekitar masalah Zina, li'an dan adab-adab pergaulan
di luar dan di dalam rumah tangga.
3. Kisah-kisah:
Cerita tentang berita bohong terhadap Ummul Mu'minin 'Aisyah r.a.
(Qishshatul Ifki).
4. Dan lain-lain:
Semua jenis hewan diciptakan Allah dari air; janji Allah kepada
kaum muslimin yang beramal saleh.
PENUTUP
Dalam surat An Nuur terdapat ayat-ayat hukum dan petunjuk-petunjuk
Allah bagi manusia, baik yang berhubungan dengan hidup kemasyarakatan
maupun dengan hidup berumah tangga. Kesemuanya itu merupakan cahaya yang
menyinari kehidupan manusia dalam menempuh jalan yang menuju kepada
kebahagiaan dunia dan akhirat.
HUBUNGAN SURAT AN NUUR DENGAN SURAT AL FURQAAN.
1. Surat An Nuur ini, ditutup oleh Allah s.w.t. dengan keterangan bahwa
Dialah yang memiliki langit dan bumi serta segala isinya dan yang
mengaturnya berdasarkan hikmah dan kemaslahatan yang dikehendaki-Nya.
Dan Dia pulalah yang berbuat perhitungan terhadap segala amal perbuatan
hamba-hamba-Nya pada hari kiamat. Maka dalam surat Al Furqaan Allah
memulai dengan menunjukkan ketinggian-Nya baik pada zat, sifat-sifat,
dan perbuatan-Nya, dan menunjukkan pula kecintaan-Nya kepada hamba-
hamba-Nya dengan dengan menurunkan Al Qur'an sebagai pedoman hidup bagi
mereka.
2. Pada akhir surat ini Allah mewajibkan kaum muslimin mengikuti Rasul-Nya,
Muhammad s.a.w; serta mengancam dengan azab bagi mereka yang menentangnya;
maka pada permulaan surat Al Furqaan, Allah menyebutkan bahwa kepada
Nabi Muhammad s.a.w. diberikan Al Qur'an yang membimbing umat manusia.
3. Pada masing-masing umat digambarkan keadaan awan, turunnya hujan dan
penghijauan bumi sebagai bukti kekuasaan Allah.
4. Dalam kedua surat ini Allah menjelaskan bahwa amal usaha orang-orang
kafir pada hari kiamat tidak diberi pahala barang sedikitpun, dan
keduanya menerangkan pula asal mula kejadian manusia.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 77 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah.
Dinamai "Al Furqaan" yang artinya 'pembeda", diambil dari kata "Al Furqaan"
yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Yang dimaksud dengan Al Furqaan
dalam ayat ini ialah Al Qur'an.
Al Qur'an dinamakan Al Furqaan karena dia membedakan antara yang haq
dengan yang batil. MAka pada surat ini pun terdapat ayat-ayat yang
membedakan antara kebenaran ke-esaan Allah s.w.t. dengan kebatilan
kepercayaan syirik.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Allah Maha Besar berkah dan kebaikan-Nya; hanya Allah saja yang
menguasai langit dan bumi; Allah tidak punya anak dan sekutu;
Al Qur'an benar-benar diturunkan dari Allah; ilmu Allah meliputi
segala sesuatu; Allah bersemayam di atas Arsy; Nabi Muhammad
s.a.w. adalah hamba Allah yang diutus ke seluruh alam; rasul-
rasul itu adalah manusia biasa yang mendapat wahyu dari Allah;
pada hari kiamat akan terjadi peristiwa-peristiwa luar biasa
seperti belahnya langit, turunnya malaikat ke bumi, orang-orang
berdosa dihalau ke neraka dengan berjalan atas muka mereka.
2. Hukum-hukum:
Tidak boleh mengabaikan Al Qur'an; larangan menafkahkan harta
secara boros atau kikir; larangan membunuh atau berzina;
kewajiban memberantas kekafiran dengan mempergunakan alasan
Al Qur'an; larangan memberikan saksi palsu.
3. Kisah-kisah:
Kisah-kisah Musa a.s., Nuh a.s., kaum Tsamud dan kaum Syu'aib.
4. dan lain-lain:
Celaan-celaan orang-orang kafir terhadap Al Qur'an; kejadian-
kejadian alamiyah sebagai bukti ke-esaan dan kekuasaan Allah;
hikmah Al Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur; sifat-sifat
orang musyrik antara lain mempertuhankan hawa nafsu; tidak
mempergunakan akal; sifat-sifat hamba Allah yang sebenarnya.
PENUTUP
Surat Al Furqaan mengandung penjelasan tentang kebenaraan ke Esaan
Allah, kenabian Muhammad s.a.w. serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada
hari kiamat dan mengemukakan pula kebatalan kemusyrikan dan kekafiran.
Kejadian alamiyah seperti pergantian siang dan malam, bertiupnya angin,
turunnya hujan dan lain-lain diterangkan Allah dalam surat ini sebagai
bukti dari ke Esaan dan kekuasaan-Nya. Akibat umat-umat yang dahulu yang
ingkar dan menentang nabi-nabi dikisahkan pula secara ringkas.
Pada bagian terakhir, Allah menerangkan sifat-sifat yang terpuji dari
hamba-Nya yang beriman.
HUBUNGAN SURAT AL FURQAAN DENGAN SURAT ASY SYU'ARAA'
1. Beberapa persoalan dalam surat Al Furqaan diuraikan lagi secara luas di
dalam surat yang Asy Syu'araa' antara lain beberapa kisah nabi-nabi.
2. Masing-,asing dari kedua surat itu dimulai dengan keterangan dari Allah
bahwa Al Qur'an adalah petunjuk bagi alam semesta dan membedakan barang
yang hak dengan yang batil, dan ditutup dengan ancaman kepada orang-
orang yang mendustakan.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri dari 227 ayat termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah. Dinamakan "Asy Syu'araa" (kata jamak dari "Asy Syaa'ir"
yang berarti penyair) diambil dari kata "Asy Syuaraa' yang
terdapat pada ayat 224, yaitu pada bagian terakhir surat ini, di
kala Allah s.w.t. secara khusus menyebutkan kedudukan penyair-
penyair. Para penyair-penyair itu mempunyai sifat-sifat yang jauh
berbeda dengan para rasul-rasul; mereka diikuti oleh orang-orang
yang sesat dan mereka suka memutar balikkan lidah dan mereka tidak
mempunyai pendirian, perbuatan mereka tidak sesuai dengan
tidak mempunyai pendirian, perbuatan mereka tidak sesuai dengan
apa yang mereka ucapkan. Sifat-sifat yang demikian tidaklah
sekali-kali terdapat pada rasul-rasul. Oleh karena demikian tidak
patut bila Nabi Muhammad s.a.w. dituduh sebagai penyair, dan Al
Qur'an dituduh sebagai syair, Al Qur'an adalah wahyu Allah, bukan
buatan manusia.
Pokok isinya:
I. Keimanan:
Jaminan Allah akan kemenangan perjuangan rasul-
rasul-Nya dan keselamatan mereka. Al Qur'an benar-
benar wahyu Allah yang dibawa turun ke dunia oleh
Malaikat Jibril a.s. (Ruuhul amiin); hanya Allah
yang wajib disembah.
2. Hukum-hukum :
Keharusan memenuhi takaran dan timbangan; larangan
mengubah syair yang berisi cacian-cacian, khurafat-
khurafat, dan kebohongan-kebohongan.
3. Kisah-kisah:
Kisah-kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun; kisah Nabi
Ibrahim a.s. dengan kaumnya; kisah Nabi Nuh a.s.
dengan kaumnya; kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
(Tsamud); kisah Nabi Hud a.s. dengan kaumnya (Ad),
kisah Nabi Luth a.s. dengan kaumnya; kisah Nabi
Syu'aib a.s. dengan penduduk Aikah.
4. Dan lain-lain:
Kebinasaan suatu bangsa atau umat disebabkan mereka
meninggalkan petunjuk-petunjuk agama; tumbuh-tumbuhan
yang beraneka ragam dan perobahan-perobahannya adalah
bukti adanya Tuhan Yang Maha Esa; petunjuk-petunjuk
Allah bagi pemimpin agar berlaku lemah lembut
terhadap pengikut-pengikutnya; turunnya kitab Al
Qur'an dalam bahasa Arab sudah disebut dalam kitab-
kitab suci dahulu.
PENUTUP
Sebagian besar surat Asy Syu'araa' menerangkan kisah
nabi-nabi dengan umatnya masing-masing. Mereka mengalami
penderitaan dan permusuhan dari kaumnya, tetapi pada akhirnya
mereka mendapat kemenangan, dan lawan-lawan mereka mengalami
kehancuran.
Kisah-kisah ini diceritakan olah Allah untuk menghibur hati
Rasulullah s.a.w. dan kaum muslimin; karena kelak mereka akan
mendapat kemenangan sebagaimana para rasul zaman dahulu itu.
HUBUNGAN SURAT ASY SYU'ARAA' DENGAN SURAT AN NAML.
1. Surat An Naml melengkapi surat Asy Syu'araa' dengan
menambahkan ke dalamnya kisah nabi-nabi yang tidak terdapat
dalam surat Asy Syu'araa', yaitu kisah Nabi Daud a.s. dan
Nabi Sulaiman a.s.
2. Juga terdapat pada surat An Naml tambahan-tambahan uraian
kisah Nabi Luth a.s. dan Nabi Musa a.s. yang keduanya ada
diceritakan dalam surat Asy Syu'araa'.
3. Masing-masing dari kedua surat ini memuat sifat Al Qur'an
dan menerangkan bahwa Al Qur'an itu benar-benar diturunkan
dari sisi Allah s.w.t.
4. Kedua surat ini sama-sama menghibur hati Nabi Muhammad s.a.w.
yang mengalami bermacam-macam penderitaan dan permusuhan dari
kaumnya.
MUQADDIMAH
Surat An Naml terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surat-
surat Makkiyyah dan diturunkan sesudah surat Asy Syu'araa'.
Dinamai dengan "An Naml", karena pada ayat 18 dan 19 terdapat
perkataan "An Naml" (semut), di mana raja semut mengatakan kepada
anak buahnya agar masuk sarangnya masing-masing, supaya jangan
terpijak oleh Nabi Sulaiman a.s. dan tentaranya yang akan lalu di
tempat itu. Mendengar perintah raja semut kepada anak buahnya itu,
Nabi Sulaiman tersenyum dan ta'jub atas keteraturan kerajaan semut
itu dan beliau mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maba Kuasa yang
telah melimpahkan ni'mat kepadanya, berupa kerajaan, kekayaan,
memahami ucapan-ucapan binatang, mempunyai tentara yang terdiri
atas jin, manusia, burung dan sebagainya. Nabi Sulaiman a.s. yang
telah diberi Allah ni'mat yang besar itu tidak merasa takabur dan
sombong dan sebagai seorang hamba Allah mohon agar Allah
memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang saleh.
Allah s.w.t. menyebut binatang semut dalam surat ini agar
manusia mengambil pelajaran dari kehidupan semut itu. Semut adalah
binatang yang hidup berkelompok di dalam tanah, membuat liang dan
ruang yang bertingkat-tingkat sebagai rumah dan gudang tempat
menyimpan makanan musim dingin. Kerapian dan kedisiplinan yang
terdapat dalam kerajaan semut ini, dinyatakan Allah dalam ayat ini
dengan bagaimana rakyat semut mencari perlindungan segera agar
jangan terpijak oleh Nabi Sulaiman a.s dan tentaranya, setelah
menerima peringatan dari rajanya. Secara tidak langsung Allah
mengingatkan juga kepada manusia agar dalam berusaha untuk
mencukupkan kebutuhan sehari-hari, mementingkan pula kemaslahatan
bersama dan sebagainya, rakyat semut mempunyai organisasi dan kerja
sama yang baik pula. Dengan mengisahkan kisah Nabi Sulaiman a.s.
dalam surat ini Allah mengisyaratkan hari depan dan kebesaran
Nabi Muhammad s.a.w. Nabi Sulaiman a.s. sebagai seorang nabi, rasul
dan raja yang dianugerahi kekayaan yang melimpah ruah, begitu pula
Nabi Muhammad s.a.w. sebagai seorang nabi, rasul dan seoramg kepala
negara yang ummi' dan miskin akan berhasil membawa dan memimpin
umatnya ke jalan Allah.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Al Quraan adalah rahmat dan petunjuk bagi orang-orang mu'min;
ke Esaan dan kekuasaan Allah s.w.t. dan keadaan-Nya tidak
memerlukan sekutu-sekutu dalam mengatur alam ini; hanya Allah-
lah Yang tahu tentang yang ghaib; adanya hari berrbangkit
bukanlah suatu dongengan.
2. Kisah-kisah:
Kisah Nabi Sulaiman a.s dengan semut, dengan burung hud-hud
dan dengan ratu Balqis; kisah Nabi Shaleh a.s dengan kaumnya;
kisah Nabi Luth a.s. dengan kaumnya.
3. Dan lain-lain;
Ciri-ciri orang mu'min; Al Quraan menjelaskan apa yang
diperselisihkan Bani Israil; hanya orang-orang mu'minlah yang
menerima petunjuk kejadian-kejadian sebelum datangnya kiamat
dan keadaan orang-orang yang beriman dan tidak beriman waktu
itu, Allah menyuruh Nabi Muhammad s.a.w. dan umatnya memuji
dan menyembah Allah saja dan membaca Al Quraan, Allah akan
memperlihatkan kepada kaum musyrikin akan kebenaran
ayat-ayat-Nya.
PENUTUP
Surat An Naml dimulai dengan menerangkan sifat-sifat Al
Quraan, menerangkan kisah beberapa orang rasul dengan umat-umatnya
yang mau mengikuti ajaran-ajaran yang dibawanya dan yang tidak mau
mengikutinya.
Kemudian surat ini diakhiri dengan perintah menyembah Allah
dan membaca Al Quraan dan bahwa Allah memperlihatkan kepada kaum
musyrikin kebenaran ayat-ayat-Nya.
PERSESUAIAN SURAT AN NAML DENGAN AL QASHASH.
1. Kedua surat ini sama-sama dimulai dengan huruf abjad,
menerangkan sifat-sifat Al Quraan dan dengan kisah Musa a.s.
Hanya saja kisah Musa a.s. dalam surat Al Qashash diterangkan
lebih lengkap dibandingkan kisah Musa a.s. yang terdapat dalam
surat An Naml.
2. Surat An Naml menerangkan secara garis besarnya bahwa
keingkaran orang-orang kafir terhadap adanya hari berbangkit
itu tidak beralasan kemudian dikemukakan kepada mereka
persoalan-persoalan yang ada hubungannya dengan kebangkitan
itu. Hal ini diterangkan lebih jelas dalam surat Al Qashash.
3. Surat An Naml menerangkan kehancuran kaum Shaleh dan kaum Luth
akibat durhaka kepada Allah dan Nabi-Nya, sedang surat Al
Qashash menyinggungnya pula.
4. Surat An Naml menyebut balasan pada hari kiamat terhadap
orang-orang yang membuat keburukan di dunia, dan surat Al
Qashash menyebutkannya pula.
5. Bahagian akhir kedua surat ini sama-sama menyebutkan perintah
menyembah Allah dan membaca ayat-ayat Al Quraan.
MUQADDIMAH
Surat Al Qashash terdiri atas 88 ayat termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah.
Dinamai dengan "Al Qashash", karena pada ayat 25 surat ini terdapat kata
"Al Qashash" yang berarti "cerita". Ayat ini menerangkan bahwa setelah Nabi
Musa a.s. bertemu dengan Nabi Syua'ib a.s. ia menceritakan cerita yang ber-
hubungan dengan dirinya sendiri, ya'ni pengalamannya dengan Fir'aun, sampai
waktu ia diburu oleh Fir'aun karena membunuh seseorang dari bangsa Qibthi
tanpa disengaja, Syua'ib a.s. menjawab bahwa Musa a.s. telah selamat dari pe-
ngejaran orang-orang zalim.
Turunnya ayat 25 surat ini amat besar artinya bagi Nabi Muhammad s.a.w.
dan bagi sahabat-sahabat yang melakukan hijrah ke Madinah, yang menambah
keyakinan mereka, bahwa akhirnya orang-orang Islamlah yang menang, sebab
ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang berhijrah dari tempat musuh
untuk mempertahankan keimanan, pasti akan berhasil dalam perjuangannya
menghadapi musuh-musuh agama. Kepastian kemenangan bagi kaum muslimin
itu, ditegaskan pada bagian akhir surat ini yang mengandung bahwa setelah
hijrah ke Madinah kaum muslimin akan kembali ke Mekah sebagai pemenang
dan penegak agama Allah. Surat Al Qashash ini adalah surat yang paling lengkap
memuat cerita Nabi Musa a.s. sehingga menurut suatu riwayat, surat ini dinamai
juga dengan surat Musa.
Pokok pokok isinya:
I. Keimanan:
Allah yang menentukan segala sesuatu dan manusia harus ridha
dengan ketentuan itu; alam adalah fana hanyalah Allah saja Yang
Kekal dan semuanya akan kembali kepada Allah, Allah mengeta-
hui isi hati manusia baik yang dilahirkan ataupun yang disem-
bunyikannya.
2. Kisah-kisah:
Kekejaman Fir'aun dan pertolongan serta karunia Allah kepada
Bani Israil; Musa a.s. dilemparkan ke sungai Nil, seorang Qibthi
terbunuh oleh Musa a.s.; Musa a.s. di Mad-yan; Musa a.s. mene-
rima perintah Allah menyeru Fir'aun dibukit Thur; kisah Karun.
3. Dan lain-lain:
Al Qur'an menerangkan kisah nabi-nabi dan umat-umat dahulu
sebagai bukti kerasulan Muhammad s.a.w.; akhli kitab yang ber-
iman dengan Nabi Muhammad s.a.w. diberi pahala dua kali lipat;
hikmat Al Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur; hanya
Allah-lah Yang memberi taufik kepada hamba-Nya untuk ber-
iman; Allah menghancurkan penduduk sesuatu negeri adalah
karena kezaliman penduduknya sendiri; Allah tidak akan meng-
azab sesuatu umat sebelum diutus rasul kepadanya; keadaan
orang-orang kafir dan sekutu-sekutu mereka di hari kiamat;
penggantian siang dan malam adalah sebagai rahmat Allah bagi
manusia; Allah membalas kebaikan dengan berlipat ganda, sedang
balasan kejahatan seimbang dengan yang telah dilakukan; janji
Allah akan kemenangan Nabi Muhammad s.a.w.
PENUTUP
Surat Al Qashash diturunkan di waktu kaum muslimin dalam keadaan lemah,
sedang orang musyrik Mekah sebagai penguasa di waktu itu mempunyai kekuat-
an dan kekuasaan yang besar. Dalam surat ini Allah mengemukakan sebagaimana
Fir'aun sebagai seorang raja yang mempunyai kekuasaan yang tak terbatas, be-
gitu pula Karun sebagai seorang yang berilmu dan mempunyai harta benda yang
tak terhingga banyaknya. Akhirnya Fir'aun dan Karun hancur lebur beserta apa
yang dipunyainya karena mengingkari agama Allah, sedangkan Musa a.s. yang se-
mulanya tidak mempunyai apapun, mendapat kemenangan karena mengikuti
agama Allah, ayat 59 menegaskan lagi bahwa Allah menghancurkan negeri-nege-
ri yang penduduknya zalim. Kemudian surat ini ditutup dengan menerangkan
bahwa kaum muslimin sekalipun dalam keadaan lemah, nanti setelah hijrah ke
Madinah akan kembali lagi ke Mekah sebagai pemenang, karena itu tetaplah me-
nyembah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Dialah Yang Maha Kuasa dan me-
nentukan segala sesuatu.
PERSESUAIAN SURAT QASHASH DENGAN SURAT AL'ANKABUUT.
1. Surat Al'Ankabuut dibuka dengan hiburan dari Allah kepada Nabi Muhammad
s.a.w. dan para sahabatnya yang selalu disakiti dan diejek dan diusir oleh
orang-orang musyrik Mekah dengan menerangkan bahwa orang-orang yang
beriman itu akan menerima cobaan atas keimanan mereka kepada nabi me-
reka, sedang Al Qashash menerangkan aneka rupa cobaan yang dialami oleh
Nabi Musa a.s. dan Bani Israil dalam menghadapi kekejaman Fir'aun. Oleh
sebab itu Allah menyuruh agar Nabi Muhammad s.a.w. dan para sahabatnya
selalu sabar dalam menghadapi cobaan-cobaan itu.
2. Surat Al Qashash mengisahkan selamatnya Musa a.s. dari pengejaran Fir'aun
setelah dengan tidak sengaja membunuh orang Qibti, dan mengisahkan
selamatnya Musa a.s. dan pengikutnya dari pengejaran Fir'aun dan
tentaranya dan tenggelamnya Fir'aun dan tentaranya di laut Merah, sedangkan
surat Al Ankabuut mengisahkan selamatnya Nuh a.s. dan pengikutnya di atas
bahtera dan tenggelamnya orang-orang yang mengingkari seruan Nuh a.s. Semua
ini menunjukkan pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
3. Surat Al Qashash mengemukakan kelemahan kepercayaan orang-orang yang
menyembah berhala dengan menerangkan keadaan penyembah-penyembah berhala
dengan berhala itu sendiri di hari kiamat, sedang surat Al'Ankabuut
menyatakan kesalahan kepercayaan mereka pula dengan membandingkannya
dengan laba-laba yang percaya akan kekuatan sarangnya yang sangat lemah
itu.
4. Kedua surat ini sama-sama menerangkan Kisah Fir'aun dan Karun, serta
akibat perbuatan keduanya. Kedua surat ini sama-sama menyinggung soal-
soal hijrah Nabi Muhammad s.a.w.
MUQADDIMAH
Surat Al'Ankabuut terdiri atas 69 ayat, termasuk golongan surat-surrat
Makkiyah.
Dinamai "Al'Ankabuut" berhubung terdapatnya perkataan Al'Ankabuut yang
berarti "laba-laba" pada ayat 41 surat ini, dimana Allah mengumpamakan
penyembah-penyembah berhala-berhala itu, dengan laba-laba yang percaya
kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindung dan tempat ia
menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu
barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur. Begitu pula halnya dengan
kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka
sebagai tempat berlindung dan tempat meminta sesuatu yang mereka ingini,
padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong
mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh,
kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syu'aib, kaum Saleh, dan lain-lain. Apalagi
menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih
tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Bukti-bukti tentang adanya hari berbangkit dan ancaman terhadap
orang-orang yang mengingkarinya, tiap-tiap diri akan merasakan
mati dan hanya kepada Allah mereka akan kembali; Allah akan
menjamin rezki tiap-tiap makhluk-Nya.
2. Hukum-hukum:
Kewajiban berbuat baik kepada dua orang ibu bapa; kewajiban
mengerjakan sembahyang karena sembahyang itu mencegah dari
perbuatan keji dan perbuatan mungkar; kewajiban menentang ajakan
mempersekutukan Allah sekalipun datangnya dari ibu bapa.
3. Kisah-kisah:
Kisah-kisah cobaan yang dialami oleh Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim,a.s., Nabi Luth a.s., Nabi Syu'aib a.s., Nabi Shaleh a.s., Nabi Musa a.s.
4. Dan lain-lain:
Cobaan itu perlu untuk menguji keimanan seseorang, usaha manusia
itu manfa'atnya untuk dirinya sendiri bukan untuk Allah. Perlawanan terhadap
kebenaran pasti hancur.
PENUTUP
Surat Al'Ankabuut menerangkan bahwa seseorang yang menyatakan dirinya
beriman, belum dapat dikatakan beriman sebelum imannya itu dicoba dan diuji.
Orang yang imannya lemah setelah disakiti barang sedikit saja hancurlah
imannya, adakalanya mereka kembali menjadi kafir. Orang yang munafik dan
orang yang kafir tidak akan luput dari azab Allah, sebagaimana yang telah
dialami oleh umat-umat yang dahulu.
Juga Allah mengumpamakan kepercayaan orang-orang musyrikin terhadap
kekuatan berhala-berhala yang disembahnya sama dengan kepercayaan laba-laba
terhadap kekuatan sarangnya. Dan juga Allah menyuruh orang yang beriman
mengerjakan sembahyang mengingat Allah dan menyampaikan agama-Nya. Apabila
orang-orang musyrik itu tetap enggan, itu adalah urusan Allah, bila mereka
bertindak sewenang-wenang dan kaum muslimin belum mempunyai kekuatan, kaum
muslimin haruslah hijrah ke tempat lain karena bumi Allah luas dan Allah-
lah yang menentukan dan menjamin rezki tiap-tiap makhluk.
Dan juga dunia adalah fana, sedang akhiratlah yang kekal. Di akhirat
orang-orang kafir mendapat azab yang kekal sedang orang-orang yang berjihad
di jalan Allah mendapat kesenangan yang abadi.
PERSESUAIAN SURAT AL'ANKABUUT DENGAN SURAT AR RUUM
1. Bagian permulaan surat Al'Ankabuut menerangkan tentang jihad sebagai
ujian bagi orang-orang mu'min, bahwa manusia itu dijadikan Allah bukan
untuk bersenang-senang, tetapi untuk berusaha dan berjihad di jalan
Allah sampai akhir hayatnya. Dalam berusaha dan berjihad di jalan Allah
dan berjuang manusia biasa mendapat halangan dan rintangan, hanya orang-
orang yang mu'minlah yang sanggup mengatasi halangan dan rintangan itu
sehingga mereka mendapat kesenangan. Kemudian pada akhir surat Al'Ankabuut
ini diulangi lagi tentang berjihad itu. Permulaan surat Ar Ruum mengandung
arti bahwa orang mu'min akan mengalahkan orang-orang musyrik dalam waktu
yang dekat. Maka ditinjau dari segi berjihad dan berusaha ini surat
Ar Ruum adalah sebagai penyempurnaan dari apa yang dikemukakan dalam
surat Al'Ankabuut.
2. Surat Al'Ankabuut mengemukakan tentang keesaan Allah dan adanya hari
berbangkit secara garis besarnya, sedang surat Ar Ruum mengemukakan
bukti-buktinya secara terperinci.
3. Surat Al'Ankabuut menyebutkan bahwa kewajiban rasul-rasul hanyalah
menyampaikan agama Allah, sedangkan surat Ar Ruum menyebutkan bahwa
rasul-rasul tidak dapat memberi taufik dan menjadikan seseorang menerima
apa yang disampaikannya itu, hanyalah Allah yang dapat berbuat demikian.
MUQADDIMAH
Surat Ar Ruum terdiri atas 60 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyah diturunkan sesudah ayat Al Insyiqaq.
Dinamakan Ar Ruum karena pada permulaan surat ini, yaitu ayat 2, 3 dan 4
terdapat pemberitaan bangsa Rumawi yang pada mulanya dikalahkan oleh bangsa
Persia, tetapi setelah bberapa tahun kemudian kerajaan Ruum dapat menuntut
balas dan mengalahkan kerajaan Persia kembali.
Ini adalah suatu mu'jizat Al Qur'an, yaitu memberitakan hal-hal yang akan
terjadi di masa yang akan datang. Dan juga suatu isyarat bahwa kaum muslimin
yang demikian lemahnya di waktu itu akan menang dan dapat menghancurkan
kaum musyrikin. Isyarat ini terbukti pertama kali pada perang Badar.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Bukti-bukti atas kerasulan Nabi Muhammad s.a.w. dengan
memberitahukan kepadanya hal yang ghaib seperti menangnya
kembali bangsa Rumawi atas kerajaan Persia; bukti-bukti ke-Esaan
Allah yang terdapat pada alam sebagai makhluk-Nya dan kejadian-
kejadian pada alam itu sendiri; bukti-bukti atas kebenaran adanya
hari berbangkit; contoh-contoh dan perumpamaan yang menjelaskan
bahwa berhala-berhala dan sembahan-sembahan itu tidak dapat
menolong dan memberi manfa'at kepada penyembah-penyembahnya
sedikitpun.
2. Hukum-hukum:
Kewajiban menyembah Allah dan mengakui ke-EsaanNya karena hal
itu sesuai dengan fitrah manusia; kewajiban berda'wah; kewajiban
memberi nafkah (sedekah) kepada kaum kerabat, fakir miskin,
musafir dan sebagainya; larangan mengikuti orang musyrik;
hukum riba.
3. Kisah-kisah:
Pemberitaan tentang bangsa Rumawi sebagai suatu umat yang
beragama walaupun dikalahkan pada mulanya oleh kerajaan Persia
yang menyembah api akhirnya dapat menag kembali.
4. Dan lain-lain:
Manusia pada umumnya bersifat gembira dan bangga apabila mendapat
nikmat dan berputus asa apabila ditimpa musibah, kecuali orang-
orang yang beriman; kewajiban rasul hanya menyampaikan da'wah;
kejadian-kejadian yang dialami oleh umat-umat yang terdahulu
patut menjadi i'tibar dan pelajaran bagi ummat yang kemudian.
PENUTUP
Surat Ar-Ruum menyebutkan hal-hal yang berhubungan dengan kekuasaan
Allah yang mutlak terhadap semua urusan baik sebelum atau sesudah maupun
di saat terjadinya suatu peristiwa; agama tauhid (Islam) pasti menang;
ancaman-ancaman terhadap kaum musyrikin ; watak-watak manusia; penyebutan
kejadian-kejadian pada alam ini sebagai bukti kekuasaan dan ke-Esaan Allah.
HUBUNGAN SURAT AR RUUM DENGAN SURAT LUQMAN
1. Dalam surat Ar Ruum disebutkan bahwa di dalam Al Qur'an Allah banyak
membuat tamsil/ibarat yang bermanfaat bagi manusia, sedang dalam surat
Luqman Allah mengisyaratkan yang demikian.
2. Pada bagian akhir surah Ar Ruum disebutkan bahwa keadaan orang kafir itu
bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Al Qur'an mereka selalu membantah
dan mendustakannya, sedang pada bahagian permulaan surat Luqman
diterangkan keadaan mereka yaitu mereka selalu berpaling dan bersifat
sombong terhadap ayat-ayat Al Qur'an itu.
3. Pada surat Ar Ruum terdapat ketegasan bahwa Allah-lah yang memulai
penciptaan makhluk dan Dia pulalah yang menciptakannya pada kali yang
kedua. Hal itu amat mudah bagi-Nya. Dalam surat Luqman Allah menegaskan
bahwa penciptaan manusia dan membangkitkannya kembali di akhirat adalah
mudah pula bagi Allah.
4. Pada surat Ar Ruum Allah menerangkan tabi'at manusia bahwa apabila mereka
ditimpa bahaya mereka berserah diri kepada Tuhannya dan bila mendapat
rahmat sebahagian dari mereka kembali mempersekutukan-Nya. Dalam surat
Luqman diterangkan tentang watak manusia itu dengan memberikan contoh,
yaitu ketika manusia ditimpa bahaya di tengah lautan, dan ketika mereka
telah selamat sampai di darat.
MUQADDIMAH
Surat Luqman terdiri dari 34 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Ash Shaffaat.
Dinamai "Luqman" karena pada ayat 12 disebutkan bahwa "Luqman" telah
diberi oleh Allah ni'mat dan ilmu pengetahuan, oleh sebab itu dia
bersyukur kepadaNya atas ni'mat yang diberikan itu. Dan pada ayat 13
sampai 19 terdapat nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya.
Ini adalah sebagai isyarat daripada Allah supaya setiap ibu bapak
melaksanakan pula terhadap anak-anak mereka sebagai yang telah dilakukan oleh
Luqman.
Pokok-pokok isinya :
I. Keimanan:
Al Qur'aan merupakan petunjuk dan rahmat yang dirasakan benar-benar oleh
orang-orang mu'min; keadaan di langit dan di bumi serta keajaiban-
keajaiban yang terdapat pada keduanya adalah bukti-bukti atas keesaan dan
kekuasaan Allah; manusia tiada akan selamat kecuali dengan taat kepada
perintah-perintah Tuhan dan berbuat amal-amal yang saleh; lima hal yang
ghaib yang hanya diketahui oleh Allah sendiri; ilmu Allah meliputi segala-
galanya baik yang lahir maupun yang batin.
2. Hukum-hukum:
Kewajiban patuh dan berbakti kepada ibu dan bapa selama tidak
bertentangan dengan perintah-perintah Allah; perintah supaya
memperhatikan alam dan keajaibannya untuk memperkuat keimanan dan
kepercayaan akan ke-Esaan Tuhan; perintah supaya selalu bertakwa dan takut
akan pembalasan Tuhan pada hari kiamat di waktu seseorang tidak dapat di
tolong baik oleh anak atau bapaknya sekalipun.
3. Kisah-kisah:
Kisah Luqman, ilmu dan hikmat yang didapatnya.
4. Dan lain-lain:
Orang-orang yang sesat dari jalan Allah dan selalu memperolok-olokkan ayat-
ayat Allah; celaan terhadap orang-orang musyrik karena tidak
menghiraukan seruan untuk memperhatikan alam dan tidak menyembah
Penciptanya; menghibur hati Rasulullah s.a.w. terhadap keingkaran orang- orang
musyrik, karena hal ini bukanlah merupakan kelalaiannya; ni'mat dan karunia
Allah tidak dapat dihitung.
PENUTUP
Surat Luqman mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan hari
berbangkit, ke-esaan Allah, kebenaran risalah yang dibawa para rasul dan
nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya.
HUBUNGAN SURAT LUQMAN DENGAN SURAT AS SAJDAH
1. Kedua surat ini sama-sama menerangkan dalil-dalil dan bukti-bukti ke-
esaan Allah
2. Dalam surat Luqman disebutkan keingkaran kaum musyrikin terhadap Al
Quraan, sedang surat as Sajdah menegaskan bahwa Al Quraan itu sungguh-
sungguh diturunkan dari Tuhan.
3. Dalam surat Luqman ayat 34 disebutkan bahwa ada lima hal yang ghaib yang
hanya Allah saja mengetahuinya, sedang dalam surat As Sajdah Allah
menerangkan dengan lebih luas hal-hal yang berhubungan dengan yang ghaib
itu (lihat ayat 5 s/d 11 dan 27 surat As Sajdah).
MUQADDIMAH
Surat As Sajdah terdiri atas 30 ayat termasuk golongan surat
Makkiyah diturunkan sesudah surat Al Mu'minuun.
Dinamakan "As Sajdah" berhubung pada surat ini terdapat ayat
sajdah, yaitu ayat yang kelima belas*).
*) Lihat footnote [592].
Pokok-Pokok Isinya :
I. Keimanan: Menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW itu benar-benar seorang
rasul dan menjelaskan bahwa kepada musyrik Mekah belum
pernah diutus seorang rasulpun sebelumnya; menegaskan bahwa
Allah Maha Esa, bahwa Dia-lah yang menguasai alam semesta
dan Dia-lah yang mengaturnya dengan aturan yang paling
sempurna; menyatakan bahwa hari berbangkit benar-benar akan
terjadi.
2. Hukum : Anjuran melakukan sembahyang malam (tahajud dan witir).
3. Dan lain-lain : Keterangan mengenai kejadian manusia di dalam rahim
dan fase-fase yang dilaluinya sampai ia menjadi manusia;
penjelasan bagaimana keadaan orang-orang mu'min di dunia
dan ni'mat serta pahala-pahala yang disediakan Allah bagi
mereka di akhirat; kehinaan yang menimpa orang-orang kafir
di akhirat dan mereka pada waktu itu meminta supaya dikem-
balikan saja ke dunia untuk bertobat dan berbuat kebaikan,
tetapi keinginan ini ditolak; keingkaran kaum musyrik ter-
hadap hari berbangkit dan mereka menganggap bahwa hal ituadalah mustahil.
PENUTUP
Surat As Sajdah mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan
kebenaran Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Allah dan Al-Quraan yang
diturunkan kepadanya merupakan petunjuk bagi manusia, menegaskan tentang
ketauhidan dan kekuasaan Allah dengan mengemukakan hal-hal yang ber-
hubungan dengan masa terciptanya alam, proses kejadian manusia dan
kebangkitan di hari kiamat serta keajaiban yang terdapat pada alam
semesta. Semuanya itu dikemukakan sebagai bantahan terhadap hujah-hujah
yang dikemukakan oleh orang-orang musyrikin dan untuk menghilangkan
keragu-raguan mereka.
HUBUNGAN SURAT AS SAJDAH DENGAN SURAT AL AHZAB
Surat As Sajdah diakhiri dengan perintah Nabi Muhammad SAW
kepada orang-orang mu'min supaya jangan menghiraukan orang-orang kafir
itu dan hendaklah ditunggu saja siksaan yang akan menimpa mereka, sedang
surat Al Ahzab dimulai dengan perintah Nabi Muhammad SAW supaya orang-
orang mu'min tetap bertakwa dan jangan mengikuti orang-orang kafir dan
munafik.
MUQADDIMAH
Surat Al Ahzab terdiri atas 73 ayat, termasuk golongan surat-surat
Madaniyah, diturunkan sesudah surat Ali'Imran.
Dinamai "Al Ahzab" yang berarti "golongan-golongan yang bersekutu"
karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat, yaitu ayat 9 sampai dengan
ayat 27 yang berhubungan dengan peperangan Al Ahzab, yaitu peperangan yang
dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik
terhadap orang-orang mu'min di Medinah. Mereka telah mengepung rapat orang-
orang mu'min sehingga sebahagian dari mereka telah berputus asa dan
menyangka bahwa mereka akan dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu.
Ini adalah suatu ujian yang berat dari Allah untuk menguji sampai dimana
teguhnya keimanan mereka. Akhirnya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara
yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi
kacau balau dan melarikan diri.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Cukuplah Allah saja sebagai Pelindung; taqdir Allah tidak dapat
ditolak; Nabi Muhammad s.a.w. adalah contoh dan teladan yang baik;
Nabi Muhammad s.a.w. adalah rasul dan nabi yang terakhir; hanya
Allah saja yang mengetahui bila terjadinya kiamat.
2. Hukum-hukum:
Hukum zhihar; kedudukan anak angkat; dasar waris mewarisi dalam
Islam ialah hubungan nasab (pertalian darah); tidak ada iddah
bagi perempuan yang ditalak sebelum dicampuri; hukum-hukum khusus
mengenai perkawinan Nabi dan kewajiban istri-istrinya; larangan
menyakiti hati Nabi.
3. Kisah-kisah:
Perang Ahzab (Khandaq); kisah Zainab binti Jahsy dengan Zaid;
memerangi Bani Quraizhah.
4. Dan lain-lain:
Penyesalan orang-orang kafir di akhirat karena mereka mengingkari
Allah dan Rasul-Nya; sifat-sifat orang munafik.
PENUTUP
Surat Al Ahzab mengemukakan: tingkah laku orang-orang munafik dan usaha-
usaha mereka menyakiti Nabi Muhammad s.a.w., sebab-sebab perang Ahzab dan
kesudahannya, tentang perkawinan Nabi dengan isteri-isterinya, sopan-santun
di rumah Nabi; fitnah terhadap Nabi Muhammad s.a.w., dan adab sopan santun
menurut Islam yang semuanya itu diperlukan untuk membentuk masyarakat Islam
yang baru berdiri di Medinah terutama sesudah perang Badar.
Dari surat Al Ahzab ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa kemenangan
orang-orang mu'min terhadap musuh-musuhnya ialah karena persatuan kaum
muslimin itu dan keta'atan mereka kepada pimpinan. Fitnah terhadap nabi
Muhammad s.a.w. bagaimanapun pandainya musuh-musuh Islam melancarkannya,
akhirnya terbongar juga.
HUBUNGAN SURAT AL AHZAB DENGAN SURAT SABA'
1. Pada akhir surat Al Ahzab disebutkan bahwa Allah bersifat Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang, sedang di awal surat Saba' disebutkan pula sifat
yang demikian itu.
2. Pada surat Al Ahzab diceritakan bahwa orang-orang kafir menanyakan bila
terjadinya hari kiamat dengan maksud memperolok-olokkan Nabi Muhammad
s.a.w. sedang dalam surat Saba' diceritakan pula bahwa orang kafir itu
menjadikan berita hari kiamat itu bukan saja sebagai olok-olokan bahkan
dengan tegas mengingkarinya dan mencela orang-orang yang percaya kepada
hari kiamat itu.
MUQADDIMAH
Surat Saba' terdiri atas 54 ayat, termasuk golongan surat-surat Mak-
kiyyah, diturunkan sesudah surat Luqman.
Dinamakan Saba' karena didalamnya terdapat kisah kaum Saba'. Saba'
adalah nama suatu kabilah dari kabilah-kabilah Arab yang tinggal di da-
erah Yaman sekarang ini. Mereka mendirikan kerajaan yang terkenal dengan
nama kerajaan Sabaiyyah, ibukotanya Ma'rib; telah dapat membangun suatu
bendungan raksasa, yang bernama "Bendungan Ma'rib", sehingga negeri me-
ka subur dan makmur. Kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan kaum Saba'
lupa dan ingkar kepada Allah yang telah melimpahkan ni'matnya kepada me-
reka, serta mereka mengingkari pula seruan para rasul. Karena keingkaran
mereka ini, Allah menimpahkan kepada mereka azab berupa "sailul 'arim"
(banjir yang besar) yang ditimbulkan oleh bobolnya bendungan Ma'rib. Se-
telah bendungan ma'rib bobol negeri Saba' menjadi kering dan kerajaan
mereka hancur.
Pokok-pokok isinya :
I. Keimanan:
Ilmu Allah meliputi segala yang ada di langit dan segala yang ada
di bumi; kebenaran adanya hari berbangkit dan hari pembalasan;
Nabi Muhammad s.a.w. adalah pemberi peringatan; pada hari kiamat
berhala-berhala itu tidak dapat memberi manfaat sedikitpun; kalau
seorang sesat maka akibat kesesatannya itu menimpa dirinya sendiri,
dan kalau ia menemui jalan yang benar adalah berkat petunjuk Allah.
2. Kisah-kisah:
Kisah Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.; kisah kaum Saba'.
3. Dan lain-lain:
Celaan kepada kaum musyrikin yang menyembah berhala; tuduh menuduh
antara pemimpin-pemimpin yang menyesatkan dengan pengikut-pengikut
nya di hari kiamat; sikap orang-orang musyrik diwaktu mendengar Al
Qur'an; rasul-rasul tidak meminta upah dalam melaksanakan dakwah-
nya; orang-orang musyrik mendo'a kepada Allah agar dikembalikan ke
dunia untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah;
orang-orang yang hidup berlebih-lebihan dan sewenang-wenang selalu
memusuhi Nabi.
PENUTUP
Surat Saba' mengutarakan hal-hal yang berhubungan dengan kebangkitan
di akhirat, celaan terhadap perbuatan-perbuatan dan kepercayaan orang
musyrik dan berhala-berhala mereka yang tidak dapat memberi faedah kepa-
da mereka; kemudian diselingi dengan kisah-kisah, seperti kisah Nabi Da-
ud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s., dan kisah kaum Saba' yang hidup berlebih
-lebihan sampai melupakan Tuhan; kemudian menemui kehancurannya. Semua-
nya ini adalah sebagai pelajaran bagi kaum mu'min dan sebagai penawar
bagi Nabi Muhammad s.a.w. dalam menghadapi orang-orang kafir.
HUBUNGAN SURAT SABA' DENGAN SURAT FAATHIR.
1. Sama-sama dimulai dengan puji-pujian kepada Allah Pemilik dan Pencip-
ta semesta alam.
2. Surat Saba' menceritakan kehancuran orang musyrik akibat perbuatan
mereka yang selalu memusuhi para nabi dan orang-orang mu'min; sedang
surat Faathir; menyuruh agar orang-orang mu'min bersyukur dan memuji
Allah atas ni'mat-ni'mat-Nya yang di antaranya kehancuran musuh-musuh
mereka.
3. Dalam surat Saba' Allah menerangkan bahwa segala sesuatu yang berada
di langit dan di bumi adalah milik-Nya dan di bawah pengetahuan-Nya
sedang surat Faathir menjelaskan bagaimana Allah menerangkan dan me-
ngatur apa yang dimiliki-Nya itu.
MUQADDIMAH
Surat Faathir terdiri atas 45 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Furqaan dan merupakan surat akhir
dari urutan surat-surat dalam Al Qur'an yang dimulai dengan "Alhamdulillah".
Dinamakan "Faathir" (pencipta) ada hubungannya dengan perkataan "Faathir"
yang terdapat pada ayat pertama pada surat ini.
Pada ayat tersebut diterangkan bahwa Allah adalah Pencipta langit dan
bumi, Pencipta malaikat-malaikat, Pencipta semesta alam yang semuanya itu
adalah sebagai bukti atas kekuasaan dan kebesaran-Nya.
Surat ini dinamai juga dengan "surat Malaikat" karena pada ayat pertama
disebutkan bahwa Allah telah menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-
Nya yang mempunyai beberapa sayap.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Bukti-bukti kekuasaan Allah dan ni'mat-ni'mat yang telah
dianugerahkan-Nya; Allah menciptakan para malaikat menurut
bentuk yang dikehendaki-Nya; bukti-bukti atas kebenaran
adanya hari berbangkit.
2. Dan lain-lain:
Kesenangan hidup di dunia adalah sementara; menguatkan hati
Rasulullah s.a.w. dalam menyeru orang-orang kafir dengan
mengingatkannya kepada Rasul-rasul yang terdahulu dan orang-
orang yang mendustakannya; seruan kepada manusia supaya menger-
jakan amalan yang baik dan meninggalkan pekerjaan yang buruk
supaya jangan mengikuti langkah syaitan; tiap-tiap orang memikul
dosanya sendiri; manusia adalah khalifah Allah dimuka bumi; gam-
baran akibat-akibat yang diterima oleh orang mu'min dan orang-
orang kafir; tingkatan orang-orang mu'min.
PENUTUP
Kesimpulan surat Faathir ialah mengajak manusia mensyukuri ni'mat yang
diberikan Allah kepada manusia, menjauhi perbuatan yang jahat memikirkan
tentang keindahan-keindahan semesta alam dan manusia adalah sebagai Khalifah
Allah di muka bumi.
HUBUNGAN SURAT FAATHIR DENGAN SURAT YAASIIN.
1.Pada bagian akhir surat Faathir dikemukakan bahwa orang-orang musyrik
bersumpah akan beriman apabila datang kepada mereka seorang pemberi
peringatan (rasul), tetapi setelah datang kepada mereka rasul, mereka
mengingkarinya.
Pada permulaan surat Yaa Siin Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad s.a.w
adalah seorang Rasul yang selalu berada di jalan yang lurus untuk
memberi peringatan kepada mereka, tetapi mereka tetap tidak beriman.
2.Pada surat Faathir disebut bahwa Allah menundukkan matahari dan bulan,
masing-masing beredar menurut waktunya yang tertentu, sedang pada surat
Yaa Siin disebutkan bahwa matahari beredar pada garis edarnya yang telah
ditetapkan Allah, dan bulan mempunyai garis-garis edar yang telah
ditentukan pula.
MUQADDIMAH
Surat "Yaa Siin" terdiri atas 83 ayat, termasuk golongan surat-
surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Jin.
Dinamai "Yaa Siin" karena dimulai dengan huruf "Yaa Siin".
Sebagaimana halnya arti huruf-huruf abjad yang terletak pada
permulaan beberapa surat Al Quraan, maka demikian pula arti "Yaa Siin"
yang terdapat pada ayat permulaan surat ini, yaitu Allah mengisyaratkan
bahwa sesudah huruf tersebut akan dikemukakan hal-hal yang penting
antara lain: Allah bersumpah dengan Al Quraan bahwa Muhammad s.a.w.
benar-benar seorang rasul yang diutus-Nya kepada kaum yang belum pernah
diutus kepada mereka rasul-rasul.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Bukti-bukti adanya hari berbangkit; Al Quraan bukanlah syair;
ilmu, kekuasaan dan rahmat Allah; syurga dan sifat-sifat-Nya
yang disediakan bagi orang-orang mu'min; mensucikan Allah dari
sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya; anggota badan manusia
menjadi saksi pada hari kiamat atas segala perbuatannya di
dunia.
2. Kisah:
Kisah utusan-utusan Nabi Isa a.s dengan penduduk Anthakiyah.
3. Dan lain-lain:
Tidak ada faedah peringatan bagi orang-orang musyrik; Allah
menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan; semua bintang-
bintang di cakrawala berjalan pada garis edar yang telah
ditetapkan Allah; ajal dan hari kiamat datangnya secara tiba-
tiba; Allah menghibur hati Rasulullah s.a.w. terhadap sikap
kaum musyrikin yang menyakitkan hatinya.
PENUTUP
Surat "Yaa Siin" mengemukakan tentang Al Quraan, kanabian
Muhammad, menegaskan adanya hari berbangkit disertai bukti-buktinya
baik bukti-bukti alamiyah maupun bukti-bukti akliyah; kemudian
mengemukakan beberapa perumpamaan diantaranya dengan mengemukakan
kisah utusan-utusan Nabi Isa Almasih a.s dengan penduduk Anthakiyah.
Kesemuanya dikemukakan sebagai penghibur hati Rasulullah s.a.w. dan
untuk menambah keyakinan orang-orang yang beriman yang sedang
mengalami tekanan-tekanan dari kaum musyrikin.
HUBUNGAN SURAT YAA SIIN DENGAN SURAT ASH SHAFFAAT.
1. Pada surat Yaa SIin disebut secara umum tentang umat-umat yang
telah dihancurkan Allah karena ingkar kepada-Nya, sedang surat
Ash Shaffaat menjelaskannya dengan menyebut kisah-kisah Nuh a.s.,
Isa a.s. dengan kaumnya.
2. Pada akhir surat Yaa Siin disebut secara umum keadaan orang-orang
mu'min dan orang-orang kafir di hari kiamat, sedang surat Ash
Shaffaat menjelaskannya.
3. Pada surat Yaa Siin disebutkan tentang kekuasaan Allah
membangkitkan manusia dan menghidupkannya kembali, karena Dia-lah
yang menciptakan mereka dan Dia-lah yang menghendaki demikian,
sedang surat Ash Shaffaat menjelaskan lebih luas dengan
mengemukakan contoh-contoh yang berhubugnan dengan itu.
MUQADDIMAH
Surat Ash Shaaffaat terdiri atas 182 ayat termasuk golongan surat
Makkiyyah diturunkan sesudah surat Al An'aam.
Dinamai dengan "Ash Shaaffaat" (yang bershaf-shaf) ada hubungannya
dengan perkataan "Ash Shaaffaat" yang terletak pada ayat permulaan
surat ini yang mengemukakan bagaimana para malaikat yang berbaris di
hadapan Tuhannya yang bersih jiwanya, tidak dapat digoda oleh syaitan.
Hal ini hendaklah menjadi i'tibar bagi manusia dalam menghambakan
dirinya kepada Allah.
Pokok-pokok isinya
I. Keimanan
Dalil-dalil tentang ke-Esaan Allah; adanya hari berbangkit;
adanya padang mahsyar dan adanya hari kiamat; malaikat-
malaikat selalu bertasbih kepada Allah.
2. Kisah-kisah.
Kisah Nuh a.s.;Kisah Ibrahim a.s.; dan Ismail a.s.; kisah
Musa a.s. dan Harun a.s.; kisah Ilyas a.s.; kisah Luth a.s.;
kisah Yunus a.s.
3. Dan lain-lain
Sikap orang-orang kafir terhadap Al Qur'an; tuduh menuduh
antara orang-orang kafir dengan pengikut-pengikutnya di hari
Kiamat; keni'matan di surga; tentang pohon zaqqum;celaan
terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa Allah beranak;
seorang yang baik belum tentu menurunkan keturunan yang baik
pula.
PENUTUP
Surat ini mengemukakan tentang ke-Esaan Tuhan dan dari bukti-bukti
tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa tauhid akan menang. Dari kisah-
kisah yang dikemukakan surat ini dapat diambil kesimpulan bahwa kaum
yang menentang rasulnya akan hancur. Begitu pula halnya dengan kaum
musyrik Mekah yang menentang Nabi Muhammad s.a.w. akan mengalami
kehancuran.
HUBUNGAN SURAT ASH SHAAFFAAT DENGAN SURAT SHAAD.
1. Dalam surat Ash Shaaffaat disebutkan kisah para nabi, sedang surat
Shaad menyebutkan kisah nabi-nabi yang belum disebutkan pada surat
Ash Shaaffaat, seperti kisah Daud a.s. dan Sulaiman a.s. dan lain-
lain.
2. Dalam surat Ash Shaaffaat diterangkan bahwa orang-orang musyrik
sebelum diutusnya Rasulullah s.a.w. selalu mengatakan, andaikata
mereka mempunyai sebuah kitab pemberi peringatan di antara kitab-
kitab yang telah diturunkan kepada orang-orang dahulu, mereka akan
ta'at sedang dalam surat Shaad ditegaskan bahwa Al Qur'anlah kitab
yang lebih sempurna yang seharusnya mereka ta'ati andaikata mereka
jujur dalam pengakuannya itu.
3. Dalam surat Ash Shaaffaat diterangkan bahwa sesudah datang kepada
orang-orang musyrik Mekah Al Qur'an yang memberi peringatan tetapi
mereka mengingkarinya, sedang dalam surat Shaad diterangkan sebab-
sebab keingkaran mereka.
MUQADDIMAH
Surat Shaad terdiri atas 88 ayat termasuk golongan surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Qamar.
Dinamai dengan "Shaad" karena surat ini dimulai dengan
"Shaad" (selanjutnya lihat not no. 10).
Dalam surat ini Allah bersumpah dengan Al Qur'an, untuk
menunjukkan bahwa Al Qur'an itu suatu kitab yang agung dan bahwa
siapa saja yang mengikutinya akan mendapat kebahagiaan dunia dan
akhirat dan untuk menunjukkan bahwa Al Qur'an ini adalah mu'jizat
Nabi Muhammad s.a.w. yang menyatakan kebenarannya dan ketinggian
akhlaknya.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Dalil-dalil tentang kenabian Muhammad s.a.w., yaitu bahwa dia
mengetahui hal-hal yang hanya dapat diketahui dengan jalan wahyu;
sumpah iblis untuk menyesatkan manusia seluruhnya kecuali hamba-
hamba Allah yang ikhlas; Al Qur'an diturunkan untuk menjadi
pelajaran bagi jin dan manusia seluruhnya.
2. Kisah-kisah:
Kisah Daud a.s. dan kisah Sulaiman a.s.; kisah Ayyub a.s.
3. Dan lain-lain:
Kaum musyrikin tercengang mendengar pengakuan Nabi Muhammad
s.a.w. bahwa Allah adalah Maha Esa; rahasia yang terdapat pada
kejadian alam; pertengkaran antara orang-orang yang sesat dan
pengikut mereka di neraka; ni'mat-ni'mat yang dilimpahkan kepada
penduduk surga dan azab yang ditimpakan atas isi neraka.
PENUTUP
Dari surat ini dapat disimpulkan bahwa tiap nabi yang dahulu
selalu mendapat tantangan dan perlawanan dari musuh-musuhnya,
tetapi musuh-musuhnya itu dihancurkan Allah. Demikian juga halnya
Nabi Muhammad s.a.w. yang mendapat tantangan dan perlawanan dari
kaum musyrikin, tetapi akhirnya kaum musyrikin itu hancur.
Juga dapat disimpulkan bahwa Al Qur'an itu adalah semata-mata
wahyu dari Tuhan, karena di dalamnya dikhabarkan hal-hal yang
hanya dapat diketahui dengan perantaraan wahyu, yaitu hal-hal
yang akan terjadi di masa yang akan datang dan hal-hal yang telah
terjadi dahulu kala tanpa ada yang menceritakannya, hal-hal yaag
terjadi di alam atas dan di akhirat nanti.
HUBUNGAN SURAT SHAAD DENGAN SURAT AZ ZUMAR.
1. Akhir surat Shaad menerangkan bahwa Al Qur'an itu adalah
peringatan bagi semesta alam, sedang permulaan surat Az Zumar
menerangkan bahwa Al Qur'an turun dari Allah Yang Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana.
2. Sama-sama menyebut hal ikhwal makhluk sejak permulaan sampai
kembali kepada Allah.
3. Kalau kita perhatikan seakan-akan surat Az-Zumar merupakan
lanjutan dari surat Shaad, karena pada akhir surat Shaad
diterangkan penciptaan Adam. Kemudian pada surat Az-Zumar
diterangkan Allah menciptakan manusia semuanya dan menerangkan
kesudahan nasib manusia yaitu bahwa semua manusia akan mati,
kemudian dibangkitkan kembali dan dihisab, akhirya orang yang
bertakwa dimasukkan ke dalam surga, dan orang yang kafir
dimasukkan ke dalam neraka.
MUQADDIMAH
Surat Az Zumar terdiri ataz 75 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Saba'.
Dinamakan ."Az Zumar" (Rombongan-rombongan) karena perkataan
"Az Zumar" yang terdapat pada ayat 71 dan 73 ini.
Dalam ayat-ayat tersebut diterangkan keadaan manusia di hari
kiamat setelah mereka dihisab, di waktu itu mereka terbagi atas dua
rombongan; satu rombongan dibawa ke neraka dan satu rombongan lagi
dibawa ke syurga. Masing- masing rombongan memperoleh balasan dari apa
yang mereka kerjakan di dunia dahulu.
Surat ini dinamakan juga "Al Ghuraf" (kamar-kamar) berhubung
perkataan "ghuraf" yang terdapat pada ayat 20, di mana diterangkan
keadaan kamar-kamar dalam syurga yang diperoleh orang-orang yang bertakwa.
Pokok-pokok Isinya:
I. Keimanan :
Dalil-dalil ke-Esaan dan kekuasaan Allah;
malaikat-malaikat berkumpul di sekeliling 'arsy
bertasbih kepada Tuhannya; pada hari kiamat
tiap-tiap orang mempunyai catatan amalannya
masing-masing.
2. Kisah-kisah :
Perintah memurnikan keta'atan kepada Allah;
larangan berputus asa terhadap rahmat Allah.
3. Dan lain-lain :
Tabiat orang-orang musyrik dalam keadaan senang
dan susah; perumpamaan dalam al Quraan dan
faedahnya; kedahsyatan hari kiamat; air muka orang
musyrik dan air muka orang mu'min pada hari
kiamat; janji Allah mengampuni orang-orang yang
bersalah bila mereka bertaubat.
PENUTUP
Dari surat Az Zumar dapat diambil pelajaran sebagai berikut:
a. Al Quraan adalah petunjuk yang paling sempurna bagi manusia.
b. Tiap-tiap makhluk akan mati dan di akhirat akan dihisab
tentang amalan- amalannya.
c. Sekalipun manusia itu banyak dosanya, dilarang berputus-asa
terhadap rahmat Allah.
HUBUNGAN SURAT AZ ZUMAR DENGAN SURAT AL MU'MIN.
1. Surat Az Zumar menerangkan bagaimana kesudahan orang-orang
mu'min dan kesudahan orang-orang kafir yang selalu
mengingkari Nabi yang diutus kepada mereka. Surat Al Mu'min
menerangkan bahwa Allah mengampuni segala dosa hamba-Nya yang
mau mengikuti jalan yang benar. Hal ini merupakan ajakan
Allah kepada orang-orang kafir agar mereka beriman.
2. Sama-sama mengutarakan hal-hal yang berhubungan dengan
keadaan hari kiamat, keadaan mahsyar, syurga dan neraka.
MUQADDIMAH
Surat Al Mu'min terdiri atas 85 ayat, termasuk golongan
surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Az Zumar.
Dinamai "Al Mu'min" (Orang yang beriman), berhubung dengan
perkataan "mu'min" yang terdapat pada ayat 28 surat ini. Pada
ayat 28 diterangkan bahwa salah seorang dari kaum Fir'aun telah
beriman kepada Nabi Musa a.s. dengan menyembunyikan imannya
kepada kaumnya, setelah mendengar keterangan dan melihat mu'jizat
yang dikemukakan oleh Nabi Musa a.s. Hati kecil orang ini
mencela Fir'aun dan kaumnya yang tidak mau beriman kepada Nabi
Musa a.s., sekalipun telah dikemukakan keterangan dan mu'jizat
yang diminta mereka.
Dinamakan pula "Ghafir" (yang mengampuni), karena ada
hubungannya dengan kalimat "Ghafir" yang terdapat pada ayat 3
surat ini. Ayat ini mengingatkan bahwa "Maha Pengampun" dan "Maha
Penerima Taubat" adalah sebagian dari sifat-sifat Allah, karena
itu hamba-hamba Allah tidak usah khawatir terhadap perbuatan-
perbuatan dosa yang telah terlanjur mereka lakukan, semuanya itu
akan diampuni Allah asal benar-benar memohon ampun dan bertaubat
kepada-Nya dan berjanji tidak akan mengerjakan perbuatan-
perbuatan dosa itu lagi.
Dan surat ini dinamai "Dzit Thaul" (Yang Mempunyai Kurnia)
karena perkataan tersebut terdapat pada ayat 3.
Pokok-pohok isinya:
I. Keimanan:
Sifat-sifat malaikat yang memikul 'Arsy dan yang berada di
sekitarnya; dalil-dalil yang menunjukkan kekuasaan Allah,
sifat-sifat Allah yang menunjukkan kebesaran dan
keagungan-Nya; ilmu Allah meliputi segala sesuatu; bukti-
bukti yang menunjukkan adanya hari berbangkit.
2. Kisah:
Kisah Musa a.s. dengan Fir'aun.
3. Dan lain-lain:
Al Qur'anulkarim dan sikap orang-orang mu'min dan orang-
orang kafir terhadapnya; permohonan orang-orang kafir supaya
dikeluarkan dari neraka; peringatan kepada orang-orang
musyrik tentang kedahsyatan hari kiamat; anjuran bersabar
dalam menghadapi kaum musyrikin; ni'mat-ni'mat Allah yang
terdapat di daratan dan lautan; janji Rasulullah s.a.w.
bahwa orang-orang mu'min akan menang terhadap musuhnya.
PENUTUP
Surat Al Mu'min mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan
bantahan orang-orang kafir dan pengakuan orang-orang mu'min
terhadap Al Qur'annulkarim terutama yang berhubungan dengan
ketauhidan, penegasan kebangkitan dan kerasulan, kemudian
mengemukakan bahwa keadaan orang-orang musyrik akan sama halnya
dengan keadaan Fir'aun, Qarun, dan Haman, bila orang-orang
musyrik tetap pada kemusyrikannya.
Hubungan surat Al Mu'min dengan surat Fushshilat.
1. Sama-sama memberikan peringatan kepada orang-orang Quraisy
yang mengingkari Muhammad s.a.w.
2. Sama-sama dimulai dengan menyebut sifat-sifat Al Qur'an.
MUQADDIMAH
Surat Fushshilat terdiri atas 54 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Mu'min. Dinamai "Fushshilat"
(yang dijelaskan) karena ada hubungannya dengan perkataan "Fushshilat"
yang terdapat pada permulaan surat ini yang berarti "yang dijelaskan".
Maksudnya ayat-ayatnya diperinci dengan jelas tentang hukum-hukum,
keimanan, janji dan ancaman, budi pekerti, kisah, dan sebagainya.
Dinamai juga dengan "Haa Miim dan As Sajdah" karena surat ini dimulai
dengan "Haa Miim" dan dalam surat ini terdapat ayat Sajdah.
Pokok-pokok isinya :
I. Keimanan :
Al Quraan dan sikap orang-orang musyrik terhadapnya; kejadian-
kejadian langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya membuktikan
adanya Allah; semua yang terjadi dalam alam semesta tidak lepas
dari pengetahuan Allah.
2. Dan lain-lain :
Hikmah diciptakannya gunung-gunung; anggota tubuh tiap-tiap orang
menjadi saksi terhadap dirinya pada hari kiamat; azab yang ditimpa-
kan kepada kaum Aad dan Tsamud; permohonan orang-orang kafir agar
dikembalikan ke dunia untuk mengerjakan amal-amal saleh; berita
gembira dari malaikat kepada orang-orang yang beriman; anjuran
menghadapi orang-orang kafir secara baik-baik; ancaman terhadap
orang-orang yang mengingkari ke-Esaan Allah; sifat-sifat Al Quraanul
Karim; manusia dan wataknya.
PENUTUP
Surat Fushshilat mengutarakan hal-hal yang berhubungan dengan
Al Quraan dan sikap orang-orang musyrik terhadapnya; kekuasaan Allah di
langit dan di bumi; ancaman kepada orang-orang musyrik di dunia dan di
akhirat. Kemudian dikemukakan tentang keadaan orang-orang yang selalu
beribadat kepada Tuhannya, dan disusuli dengan mengemukakan beberapa
tabiat manusia.
HUBUNGAN SURAT FUSHSHILAT DENGAN SURAT ASY SYUURA
Kedua surat ini sama-sama mengutarakan kebenaran Al Quraan,
menolak kecaman dan celaan orang-orang kafir Mekah terhadapnya; bujukan
terhadap Nabi Muhammad s.a.w agar jangan bersedih hati dan berputus asa,
karena kecaman dan celaan itu sudah sewajarnya datang dari musuh-musuh
agama, dan hal itu telah dialami oleh rasul-rasul sebelumnya.
MUQADDIMAH
Surat Asy Syuura terdiri atas 53 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Fushshilat.
Dinamai dengan "Asy Syuura" (musyawarat) diambil dari perkataan
"Syuura" yang terdapat pada ayat 38 surat ini. Dalam ayat tersebut
diletakkan salah satu dari dasar-dasar pemerintahan Islam ialah musyawarat.
Dinamai juga "Haa Miim 'Ain Siin Qaaf" karena surat ini dimulai dengan
huruf-huruf hijaiyah itu.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Dalil-dalil tentang Allah Yang Maha Esa dengan menerangkan
kejadian langit dan bumi, turunnya hujan, berlayarnya kapal di
lautan dengan aman dan sebagainya; Allah memberi rezki kepada
hamba-Nya dengan ukuran tertentu sesuai dengan kemaslahatan
mereka dan sesuai pula dengan hikmah dan ilmu-Nya; Allah
memberikan anak laki-laki dan perempuan kepada siapa yang
dikehendaki-Nya, atau tidak memberi anak seorangpun; cara-cara
Allah menyampaikan perkataan-Nya kepada manusia; pokok-pokok
agama yang dibawa para rasul adalah sama.
2. Hukum:
Tidak ada dasar untuk menuntut orang yang mempertahankan diri.
3. Dan lain-lain:
Keterangan bagaimana keadaan orang-orang kafir dan keadaan
orang-orang mu'min nanti di akhirat; memberi ampun lebih baik
dari pada membalas dan membalas jangan sampai melampaui batas;
orang-orang kafir mendesak Nabi Muhammad s.a.w. supaya hari
kiamat disegerakan datangnya; kewajiban rasul hanya
menyampaikan risalahnya.
PENUTUP
Surat Asy Syuura dimulai dengan menerangkan hal-hal yang berhubungan
dengan wahyu, keimanan, Al Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.
benar-benar berasal dari Allah; agama yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. sama
pokok-pokoknya dengan agama yang dibawa para rasul yang dahulu; janji
kepada orang-orang mu'min dan ancaman kepada orang-orang kafir. Surat ini
ditutup dengan menerangkan bagaimana caranya Allah berhubungan dengan
manusia.
HUBUNGAN SURAT ASY SYUURA DENGAN SURAT AZ ZUKHRUF.
1. Kedua surat ini sama-sama dimulai dengan pembicaraan mengenai Al Qur'an
yang diturunkan dari Tuhan Yang MAha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
2. Kedua surat ini sama-sama mengutarakan bagaimana sikap orang-orang kafir
terhadap Al Qur'an dan mengemukakan dalil-dalil atas keesaan dan
kekuasaan Allah.
MUQADDIMAH
Surat Az Zukhruf terdiri atas 89 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Asy Syuura.
Dinamai "Az Zukhruf" (Perhiasan) diambil dari perkataan "Az
Zukhruf" yang terdapat pada ayat 35 surat ini. Orang-orang musyrik
mengukur tinggi rendahnya derajat seseorang tergantung kepada
perhiasan dan harta benda yang ia punyai, karena Muhammad s.a.w.
adalah seorang anak yatim lagi miskin, ia tidak pantas diangkat Allah
sebagai seorang rasul dan nabi. Pangkat rasul dan nabi harus
diberikan kepada orang yang kaya. Ayat ini menegaskan bahwa harta
tidak dapat dijadikan dasar untuk mengukur tinggi rendahnya derajat
seseorang, karena harta itu merupakan hiasan kehidupan duniawi, bukan
berarti kesenangan akhirat.
Pokok-pokok isinya:
I.Keimanan:
Al Qur'an berasal dari Lauh Mahfuzh; Nabi Isa a.s. itu tidak
lain hanyalah seorang hamba Allah; pengakuan Nabi Isa a.s. bahwa
Allah-lah Tuhan yang sebenarnya; mensifatkan bagaimana kesenangan
di dalam syurga dan hebatnya penderitaan orang kafir di dalam
neraka sehingga mereka ingin mati saja agar terlepas dari siksa
itu; Tuhan tidak mempunyai anak.
2.Hukum-hukum:
Perintah Tuhan kepada Nabi Muhammad s.a.w supaya menjauhi orang-
orang yang tidak beriman.
3.Kisah-kisah:
Kisah Nabi Ibrahim a.s., Musa a.s. dan Isa a.s. sebagai
perbandingan bagi Nabi dan sebagai penawar sewaktu menghadapi
kesulitan dalam melakukan da'wah.
4.Dan lain-lain:
Pengakuan orang musyrik Mekah bahwa Allah-lah Yang menciptakan
langit dan bumi, tetapi mereka tetap menyembah berhala;
kepercayaan mereka bahwa malaikat adalah anak Allah dan penolakan
atas kepercayaan yang salah itu; Muhammad s.a.w sebagai rasul
mendapat ejekan dan celaan-celaan dari kaumnya dan hal ini adalah
biasa, karena rasul-rasul yang dahulupun demikian pula halnya;
orang-orang musyrik sangat kuat berpegang kepada tradisi dan adat
istiadat nenek moyang mereka dalam beragama, sehingga tertutup
hati mereka untuk menerima kebenaran.
PENUTUP
Surat Az Zukhruf dimulai dengan menerangkan bahwa Al Qur'an adalah
wahyu Ilahi dan diambil dari Lauh Mahfuzh. Kemudian menerangkan
sikap orang musyrik terhadap para nabi dan menyebutkan sebahagian
hikmah Allah yang dilimpahkan kepada manusia. Dikemukakan juga
tentang sifat orang-orang musyrik yang suka mengada-adakan kebathilan
dan kerusakan kepercayaan mereka dan sifat-sifat mereka yang sombong,
walaupun mereka telah diperingatkan dengan nasib umat-umat yang
dahulu yang mendurhakai Allah.
Akhirnya, mengingat tindakan-tindakan orang-orang musyrikin yang
lebih mementingkan perhiasan dan keduniawian itu, maka surat ini
ditutup dengan perintah Allah agar Nabi Muhammad s.a w. berpaling dari
orang-orang musyrik itu, nanti mereka akan merasakan dan mengetahui
kebenaran ancaman Allah.
HUBUNGAN SURAT AZ ZUKHRUF DENGAN SURAT AD DUKHAAN
1. Kedua surat itu sama-sama dimulai dengan menyebutkan sifat-sifat
Al-Qur'an.
2. Pada akhir surat Az Zukhruf disebutkan ancaman kepada orang-orang
kafir dan pada permulaan surat Ad-Dukhaan terdapat pula peringatan
dan ancaman itu.
3. Pada surat ini terdapat kesatuan sikap antara Nabi Muhammad s.a.w.
da Nabi Musa a.s. yaitu pada surat Az Zukhruf Nabi Muhammad s.a.w.
mengadu kepada Tuhannya bahwa kaumnya adalah orang yang tidak mau
beriman, sedang pada surat Ad Dukhaan Nabi Musa a.s. mengadu kepada
Tuhannya bahwa kaumnya adalah orang yang durhaka dan banyak dosa.
MUQADDIMAH
Surat Ad Dukhaan terdiri atas 59 ayat, termasuk golongan surat-
surat Makkiyyah, diturunkan sesudah Az Zukhruf.
Dinamai "Ad Dukhaan" (kabut), diambil dari perkataan "Dukhaan"
yang terdapat pada ayat 10 surat ini.
Menurut riwayat Bukhari secara ringkas dapat diterangkan sebagai
berikut: Orang-orang kafir Mekah dalam menghalang-halangi agama Islam
dan menyakiti serta mendurhakai Nabi Muhammad s.a.w. sudah melewati
batas, karena itu Nabi mendo'a kepada Allah agar diturunkan azab
sebagaimana yang telah diturunkan kepada orang-orang yang durhaka
kepada Nabi Yusuf yaitu musim kemarau yang panjang. Do'a Nabi itu
dikabulkan Allah sampai orang-orang kafir memakan tulang dan bangkai,
karena kelaparan. Mereka selalu menengadah ke langit mengharap
pertolongan Allah. Tetapi tidak satupun yang mereka lihat kecuali
kabut yang menutupi pandangan mereka.
Akhirnya mereka datang kepada Nabi agar Nabi memohon kepada Allah
supaya hujan diturunkan. Setelah Allah mengabulkan do'a Nabi, dan
hujan di turunkan, mereka kembali kafir seperti semula; karena itu
Allah menyatakan bahwa nanti mereka akan diazab dengan azab yang
pedih.
Pokok-pokok isinya.
I. Keimanan:
Dalil-dalil atas kenabian Muhammad s.a.w.; huru-hara dan kehebatan
hari kiamat; pada hari kiamat hanya amal-amal seseorang yang dapat
menolongnya; azab dan penderitaan yang ditemui orang-orang kafir
di akhirat serta ni'mat dan kesenangan yang diterima orang-orang
mu'min.
2. Hukum-hukum:
Kisah Musa a.s dengan Fir'aun dan kaumnya.
3. Dan lain-lain:
Permulaan turunnya Al Qur'an pada malam lailatul Qadar; orang-
orang kafir hanya beriman kalau mereka ditimpa bahaya, kalau
bahaya telah hilang mereka kafir kembali; dalam penciptaan langit
dan bumi itu terdapat hikmat yang besar.
PENUTUP
Surat Ad Dukhaan dimulai dengan menyebut keagungan Al Qur'an.
Kaum Quraisy karena tidak mengikuti seruan Nabi Muhammad s.a.w., Nabi
mendo'akan agar didatangkan musim kemarau yang panjang, kemudian
mereka beriman dan mengharap agar Nabi mendo'a kepada Allah agar
diturunkan hujan, setelah hujan diturunkan, mereka kafir kembali, lalu
mereka diancam Allah dengan kehancuran. Kisah Fir'aun dan kaumnya
disebutkan di sini sebagai peringatan bagi mereka.
HUBUNGAN SURAT AD DUKHAAN DENGAN SURAT AL JAATSIAH
Kedua surat ini hampir sama isi dan maksudnya, seperti menjelaskan
keterangan mengenai adanya Allah dan kekuasaan-Nya, sikap orang kafir
terhadap seruan Nabi Muhammad s.a.w., ancaman kepada orang-orang kafir
dan siksaan hebat yang mereka derita pada hari kiamat.
MUQADDIMAH
Surat Al Jaatsiyah terdiri atas 37 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Ad Dukhaan.
Dinamai dengan "Al Jaatsiyah" (yang berlutut) diambil dari perkataan
"Jaatsiyah" yang terdapat pada ayat 28 surat ini.
Ayat tersebut menerangkan tentang keadaan manusia pada hari kiamat, yaitu
semua manusia dikumpulkan ke hadapan mahkamah Allah Yang Maha Tinggi yang
memberikan keputusan terhadap perbuatan yang telah mereka lakukan di dunia.
Pada hari itu semua manusia berlutut di hadapan Allah.
Dinamai juga dengan "Asy Syari'ah" diambil dari perkataan "Syari'ah"
(Syari'at) yang terdapat pada ayat 18 surat ini.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Keterangan-keterangan dan dalil-dalil atas adanya Allah pencipta
langit dan bumi, buruk dan baik yang dikerjakan oleh manusia
akibatnya bagi dirinya sendiri; Allah Pelindung orang-orang
yang bertakwa; kebesaran dan keagungan hanya hak Allah semata;
kepastian bahwa Allah-lah yang menghidupkan, mematikan dan
menghimpunkan manusia pada hari kiamat; keterangan-keterangan
mengenai huru-hara hari kiamat dan bagaimana tiap-tiap orang
menerima perhitungan pekerjaannya di akhirat; pada hari kiamat
jelaslah bagi orang-orang musyrikin keburukan perbuatan-perbuatan
yang mereka kerjakan di dunia, dan mereka tidak lepas dari azab
yang waktu di dunia mereka perolok-olokkan.
2. Hukum-hukum:
Perintah kepada Rasulullah s.a.w. supaya jangan mengikuti orang-
orang yang tidak mempergunakan akalnya dan jangan menuruti
kemauan mereka.
3. Kisah:
Kisah Bani Israil yang telah diberi ni'mat oleh Allah, tetapi
mereka berpaling dan menyeleweng dari ajaran agama, sehingga
timbul perselisihan yang hebat antara sesama mereka.
4. Dan lain-lain:
Ancaman kepada orang-orang musyrik yang mendustakan ayat Allah
serta berlaku sombong terhadapnya; kebatalan pendapat kaum
Dahriyah (atheisme, sceptisme dan vrij denker), keingkaran
mereka terhadap hari kiamat.
PENUTUP
Surat Al Jaatsiyah mengutarakan tentang Al Qur'an yang diturunkan Allah,
Pencipta dan Pengatur semesta alam. Sesungguhnya segala macam kejadian yang
terdapat pada alam dapat dijadikan bukti bagi adanya Allah, kecelakaan yang
besarlah bagi orang yang tidak mempercayai dan mensyukuri ni'mat Allah,
segala puji hanya untuk Allah saja, keagungan hanyalah kepunyaan Allah.
HUBUNGAN SURAT AL JAATSIYAH DENGAN SURAT AL AHQAAF.
1. Surat Al Jaatsiyah ditutup dengan ketauhidan, keagungan dan kebesaran
Allah, sedang surat Al Ahqaaf dimulai dengan ketauhidan pula dengan
menerangkan bahwa berhala-berhala yang disembah orang-orang musyrik
itu tidak dapat menciptakan sesuatu apapun.
2. Surat Al Jaatsiyah memuat ancaman terhadap kaum musyrik, sedang pada
surat Al Ahqaaf ancaman itu lebih dipertegas dengan mengingatkan azab
yang telah menimpa kaum 'Aad.
MUQADDIMAH
Surat Al Ahqaaf terdiri dari 35 ayat termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Jaatsiyah.
Dinamai "Al Ahqaaf" (bukit-bukit pasir) dari perkataan "Al Ahqaaf"
yang terdapat pada ayat 21 surat ini.
Dalam ayat tersebut dan ayat-ayat sesudahnya diterangkan bahwa
Nabi Hud a.s. telah menyampaikan risalahnya kepada kaumnya di "Al
Ahqaaf" yang sekarang dikenal dengan Ar Rab'ul Khaali, tetapi kaumnya
tetap ingkar sekalipun mereka telah diberi peringatan pula oleh
rasul-rasul yang sebelumnya. Akhirnya Allah menghancurkan mereka
dengan tiupan angin kencang. Hal ini adalah sebagai isyarat dari
Allah kepada kaum musyrikin Quraisy bahwa mereka akan dihancurkan bila
mereka tidak mengindahkan seruan Rasul.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Dalil-dalil dan bukti keesaan Allah dan bahwa penyembah-penyembah
berhala adalah sesat; orang-orang mu'min akan mendapat kebahagiaan
dan orang-orang kafir akan diazab; risalah Nabi Muhammad s.a.w.
tidak hanya terbatas kepada umat manusia saja, tetapi juga kepada
jin.
2. Hukum-hukum:
Perintah kepada manusia supaya patuh kepada ibu bapak,
memuliakannya dan mengerjakan apa yang diridhai Allah terhadapnya
dan larangan menyakiti hatinya.
3. Kisah-kisah:
Kisah Nabi Hud a.s. dan kaumnya.
4. Dan lain-lain:
Orang yang mementingkan keni'matan hidup duniawi saja akan merugi
kelak di akhirat; orang-orang yang beriman kepada Allah dan
beristiqamah dalam kehidupannya tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan mereka tidak bersedih hati.
PENUTUP
Surat Al Ahqaaf menerangkan tentang diturunkannya Al Qur'an
daripada Allah s.w.t. dan imannya segolongan jin kepada Nabi Muhammad
s.a.w., keimanan, kebatilan, syirik, pernyataan bahwa risalah Muhammad
s.a.w. adalah dari Allah, perintah Allah supaya menghormati orang tua
dan mendo'akannya, memperingatkan kaum musyrikin tentang azab yang
telah ditimpakan kepada kaum Hud. Dan surat ini ditutup dengan nasehat
keharusan bersabar bagi Nabi Muhammad s.a.w.
HUBUNGAN SURAT AL AHQAAF DENGAN SURAT MUHAMMAD.
Hubungan surat Al Ahqaaf dengan surat Muhammad ialah pada Al
Ahqaaf Allah mengancam orang-orang kafir dengan kebinasaan, pada
permulaan surat Muhammad disebutkan bahwa Allah membinasakan semua
orang kafir dan Allah memerintahkan Muhammad s.a.w. memerangi mereka.
MUQADDIMAH
Surat Muhammad terdiri atas 38 ayat, termasuk golongan surat-surat
Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Hadiid.Nama "Muhammad"
sebagai nama surat ini diambil dari perkataan Muhammad yang
terdapat pada ayat 2 surat ini.
Pada ayat 1, 2, dan 3 surat ini, Allah membandingkan antara hasil
yang diperoleh oleh orang-orang yang tidak percaya kepada apa yang
diturun-kan kepada Nabi Muhammad s.a.w dan hasil yang diperoleh
oleh orang-orang yang tidak percaya kepadanya. Orang-orang yang
percaya kepada apa yang dibawa oleh Muhammad s.a.w merekalah
orang-orang yang beriman dan mengikuti yang hak, diterima Allah
semua amalnya, diampuni segala kesalahannya. Adapun orang-orang
yang tidak percaya kepada Muhammad s.a.w adalah orang-orang yang
mengikuti kebatilan, amalnya tidak diterima, dosa mereka tidak
diampuni, kepada mereka dijanjikan azab di dunia dan di akhirat.
Dinamai juga dengan "Al Qital" (peperangan), karena sebahagian besar
surat ini mengutarakan tentang peperangan dan pokok-pokok hukumnya, serta
bagaimana seharusnya sikap orang-orang mu'min terhadap orang-orang kafir.
Pokok-pokok isinya :
I. Keimanan :
Orang yang mati syahid akan masuk syurga; balasan-balasan yang
disediakan di akhirat bagi orang-orang yang takwa dan orang-orang
yang durhaka; keesaan Allah.
2. Hukum-hukum :
Menumpas musuh pada permulaan peperangan (sebelum gejala-gejala
kemenangan), menawan mereka kalau telah kelihatan gejala-gejala
kemenangan, membebaskan tawanan itu dengan menerima tebusan atau
tidak. Larangan mengajak damai apabila telah nyata kemenangan.
3. Dan lain-lain :
Allah selalu memberi cobaan kepada orang-orang mu'min, untuk
mengetahui siapa yang berjihad dan siapa yang sabar; kehidupan
dunia adalah permainan belaka dan bahwa iman dan takwalah yang
menghasilkan pahala; Allah akan menolong orang yang menolong
agamanya.
PENUTUP
Surat Muhammad menerangkan keadaan orang-orang kafir dan orang-
orang mu'min di dunia dan akhirat dan menyatakan perbedaan keadaan mereka
dan hasil yang mereka peroleh. Dan surat ini menerangkan tentang hukum
perang dan cara orang-orang mu'min menghadapi orang-orang kafir.
HUBUNGAN SURAT MUHAMMAD DENGAN SURAT AL FATH
1. Pada kedua surat ini terdapat keterangan-keterangan mengenai orang-orang
mu'min yang ikhlas dan keterangan-keterangan mengenai orang-orang musyrik
dan munafik.
2. Pada surat Muhammad terdapat perintah agar meminta ampun kepada Allah,
sedang pada surat Al Fath disebutkan janji Allah bahwa orang-orang mu'min
yang beramal saleh akan mendapat ampunan dan pahala yang banyak dari
Allah.
3. Pada surat Muhammad diperintahkan supaya Muhammad s.a.w memerangi musuh-
musuh Allah, sedang dalam surat Al Fath dinyatakan bahwa Allah akan
memberikan kemenangan kepada Muhammad s.a.w.
MUQADDIMAH
Surat Al Fat-h terdiri atas 29 ayat, termasuk golongan surat-surat
Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Jum'ah.
Dinamakan "Al Fat-h (kemenangan)" diambil dari perkataan "Fat-han"
yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Sebagian besar dari
ayat-ayat surat ini menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan
kemenangan yang dicapai Nabi Muhammad s.a.w. dalam peperangan-peperangannya.
Nabi Muhammad s.a.w. sangat gembira dengan turunnya ayat pertama surat ini.
Kegembiraan ini dinyatakan dalam sabda beliau yang diriwayatkan Bukhari;
"Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku satu surat, yang surat itu
benar-benar lebih aku cintai dari seluruh apa yang disinari matahari".
Kegembiraan Nabi Muhammad s.a.w. itu ialah karena ayat-ayatnya
menerangkan tentang kemenagan yang akan diperoleh Muhammad s.a.w.
dalam perjuangannya dan tentang kesempurnaan ni'mat Allah kepadanya.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Allah mempunyai tentara di lagit dan di bumi; janji Allah
kepada orang-orang mu'min bahwa mereka akan mendapat
ampunan Tuhan dan pahala yang besar; Allah mengutus
Muhammad s.a.w. sebagai saksi, pembawa berita gembira
dan pemberi peringatan; Agama Islam akan mengalahkan
agama-agama lain;
2. Hukum-hukum:
orang pincang dan orang-orang yang sakit dibebaskan dari kewajiban
berperang;
3. Kisah-kisah:
Kejadian-kejadian sekitar Bai'aturridhwan dan "Perdamaian Hudaibiyyah".
4. Dan lain-lain:
Berita gembira yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w.
bahwa dia bersama-sama orang mu'min akan memasuki kota Mekah dengan
kemenangan, dan hal ini memang terlaksana setelah setahun kemudian,
sikap orang-orang mu'min terhadap sesama mu'min dan sikap mereka
terhadap orang-orang kafir; sifat-sifat Nabi Muhammad s.a.w. dan
para sahabatnya sudah disebutkan dalam Taurat dan Injil; janji
Allah bahwa orang Islam akan menguasai daerah-daerah yang sewaktu
Nabi Muhammad s.a.w. belum dikuasai;
PENUTUP
Surat Al Fat-h menerangkan tentang peristiwa-peristiwa yang berhubungan
dengan Perdamaian Hudaibiyah dan janji Allah akan kemenangan kaum muslimin.
Surat ini ditutup dengan menerangkan sifat-sifat Nabi Muhammad s.a.w.
dan sahabat-sahabatnya.
HUBUNGAN SURAT AL FAT-H DENGAN SURAT AL HUJURAAT
1. Di dalam surat Al fat-h disebutkan perintah memerangi orang-orang
kafir, sedang dalam surat Al Hujuraat disebutkan perintah mengadakan
perdamaian antara dua golongan dari kaum muslimin yang bersengketa,
dan perintah memerangi golongan kaum muslimin yang berbuat aniaya
kepada golongan kaum muslimin yang lain, sampai terjaga selalu
kesatuan dan persatuan umat Islam.
2. Surat Al Fat-h ditutup dengan keterangan mengenai sifat-sifat Rasulullah
s.a.w. dan sahabat-sahabatnya, sedang surat AL Hujuraat dimulai
dengan bagaiman seharusnya para sahabat bergaul dengan Nabi
Muhammad s.a.w.
MUQADDIMAH
Surat Al Hujuraat terdiri atas 18 ayat, termasuk golongan
surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Mujaadalah.
Dinamai "Al Hujuraat" diambil dari perkataan "Al Hujuraat"
yang terdapat pada ayat 4 surat ini. Ayat tersebut mencela para
sahabat yang memanggil Nabi Muhammad SAW yang sedang berada di dalam
kamar rumahnya bersama isterinya. Memanggil Nabi Muhammad SAW dengan
cara dan dalam keadaan yang demikian menunjukkan sifat kurang hormat
kepada beliau dan mengganggu ketenteraman beliau.
Pokok-Pokok Isinya.
I. Keimanan :
Masuk Islam harus disempurnakan dengan iman yang sebenarnya.
2. Hukum-hukum :
Larangan mengambil keputusan yang menyimpang dari ketetapan
Allah dan rasul-Nya; keharusan meneliti sesuatu perkabaran
yang disampaikan oleh orang yang fasik; kewajiban mengadakan
islah antara orang muslim yang bersengketa karena orang-orang
Islam itu bersaudara; kewajiban mengambil tindakan terhadap
golongan kaum muslimin yang bertindak aniaya terhadap golongan
kaum muslimin yang lain; larangan mencaci, menghina, dsb;
larangan berburuk sangka; bergunjing dan memfitnah dll.
3. Dan lain-lain :
Adab sopan santun berbicara dengan Rasulullah SAW. Allah men-
ciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar satu
sama lain kenal-mengenal; setiap manusia sama pada sisi Allah,
kelebihan hanya pada orang-orang yang bertakwa; sifat-sifat
orang-orang yang sebenar-benarnya beriman.
PENUTUP
Surat Al Hujuraat menerangkan tentang akhlak yang baik yang ber-
hubungan dengan sikap orang mu'min terhadap Allah, Nabi Muhammad SAW,
sikap mereka terhadap saudara-saudara mereka seagama, sopan santun dalam
pergaulan dan pergaulan antar bangsa. Juga surat ini menerangkan bagai-
mana sikap orang-orang mu'min dalam menerima berita dari orang-orang
fasik. Kemudian surat ini ditutup dengan menerangkan hakekat iman dan
keutamaan amal orang-orang mu'min.
HUBUNGAN SURAT AL HUJURAAT DENGAN SURAT QAAF
1. Pada akhir surat Al Hujuraat disebutkan bagaimana keimanan orang-
orang Badui dan sebenarnya mereka belum beriman. Hal ini dapat mem-
bawa kepada bertambahnya iman mereka dan dapat pula menjadikan mereka
orang yang mengingkari kenabian dan hari berbangkit; sedang pada awal
surat Qaaf disebutkan beberapa sifat orang kafir yang mengingkari
kenabian dan hari berbangkit.
2. Surat Al Hujuraat lebih banyak menguraikan soal-soal duniawi sedang
surat Qaaf lebih banyak menguraikan tentang ukhrawi.
MUQADDIMAH
Surat Qaaf terdiri atas 45 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyah diturunkan sesudah surat Al Murssalaat.
Dinamai "QAAF" karena surat ini dimulai dengan huruf "QAAF".
Menurut hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, bahwa Rasulullah SAW
senang membaca surat ini pada rakaat pertama sembahyang subuh dan
pada shalat hari raya. Sedang menurut riwayat Abu Daud, Al Baihaqy
dan Ibnu Majah bahwa Rasulullah SAW membaca surat ini pada tiap-tiap
membaca Khutbah pada hari Jum'at.
Kedua riwayat ini menunjukkan bahwa surat QAAF sering dibaca Nabi
Muhammad SAW di tempat-tempat umum, untuk memperingatkan manusia tentang
kejadian mereka dan ni'mat-ni'mat yang diberikan kepadanya, begitu pula
tentang hari berbangkit, hari berhisab, syurga, neraka, pahala, dosa, dsb.
Surat ini dinamai juga "Al Baasiqaat", diambil dari perkataan "Al-
Baasiqaat" yang terdapat pada ayat 10 surat ini.
Pokok-pokok isinya :
I. Keimanan :
Setiap manusia pada hari kiamat akan hadir di padang mahsyar diiring-
kan oleh dua orang malaikat, yang seorang sebagai pengiringnya, dan
yang seorang lagi sebagai saksi atas segala perbuatannya di dunia.
Kebangkitan manusia dari kubur digambarkan sebagai tanah yang kering,
setelah disirami hujan hidup kembali; Allah lebih dekat kepada
manusia dari urat lehernya sendiri; tiap-tiap manusia didampingi oleh
malaikat yang selalu mencatat segala perbuatannya; Allah menciptakan
langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa.
2. Hukum-hukum :
Anjuran bertasbih dan bertahmid kepada Tuhan pada waktu-waktu malam
sebelum terbit dan terbenam matahari dan sesudah mengerjakan shalat.
Perintah Allah kepada Rasul-Nya agar memberi peringatan dengan ayat-
ayat Al Quraan kepada orang yang beriman; anjuran memperhatikan
kejadian langit dan bumi.
3. Dan lain-lain :
Keingkaran orang-orang musyrik terhadap kenabian dan hari berbangkit;
hiburan kepada Nabi Muhammad SAW agar jangan berputus asa dalam meng-
hadapi keingkaran orang-orang kafir Mekkah, karena rasul-rasul dahulu
juga menghadapi keingkaran kaumnya masing-masing; Al Quraan adalah
sebagai peringatan kepada orang-orang yang takut kepada ancaman Allah.
PENUTUP
Sebagaimana halnya surat-surat Makkiyah pada umumnya, maka surat Qaaf
mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan kebangkitan, syurga dan
neraka, mengemukakan bahwa keingkaran orang-orang kafir kepada Nabi
itu adalah wajar,karena rasul-rasul dahulu juga diingkari dan
didustakan oleh umat-umatnya.
HUBUNGAN SURAT QAAF DENGAN SURAT ADZ DZAARIYAAT.
1. Pada surat Qaaf disebutkan hal-hal mengenai hari berbangkit, pembalasan,
syurga dan neraka; sedang surat Adz Dzaariyaat dimulai dengan menerangkan
bahwa semua itu adalah benar dan pembalasan pada hari kiamat itu benar
akan terlaksana.
2. Pada surat Qaaf disebutkan secara sepintas lalu pembinasaan umat-umat
dahulu yang mendustakan rasul-rasul sedang pada surat Adz Dzaariyaat
diterangkan keadaan mereka dengan agak terperinci.
MUQADDIMAH
Surat Adz Dzaariyaat terdiri atas 60 ayat, termasuk golongan
surat-surat Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al Ahqaaf.
Dinamai "Adz Dzaariyaat" (angin yang menerbangkan), diambil
dari perkataan "Adz Dzaariyaat" yang terdapat pada ayat pertama surat
ini. Allah bersumpah dengan angin, mega, bahtera, dan malaikat yang
menjadi sumber kesejahteraan dan pembawa kemakmuran. Hal ini meng-
isyaratkan inayat Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Pokok-pokok isinya :
I. Keimanan :
Bagaimana keadaan orang-orang yang beriman di dalam syurga
sebagai balasan ketaatan bagi orang yang bertakwa; manusia
dan jin dijadikan Allah untuk beribadah kepada-Nya; Allah
sebagai pemberi rezki; neraka sebagai balasan bagi orang-
orang kafir.
2. Hukum-hukum :
Larangan mempersekutukan Allah dengan selain-Nya; perintah
berpaling dari orang-orang musyrik yang berkepala batu dan
memberikan peringatan dan pengajaran kepada orang-orang
mu'min; pada harta kekayaan seseorang terdapat hak orang
miskin.
3.Kisah-kisah :
Ibrahim AS dengan malaikat yang datang ke rumahnya; Musa AS
dengan Fir'aun; kaum 'Ad dan Tsamud; Nuh AS dengan kaumnya.
4. Dan lain-lain :
Segala sesuatu diciptakan Allah dengan berpasang-pasangan;
pada diri manusia sendiri terdapat tanda-tanda kebesaran
Allah.
PENUTUP
Surat Adz Dzaariyaat menerangkan hal-hal yang berhubungan
dengan penegasan adanya hari berbangkit, balasan yang diterima orang
mu'min dan kafir di akhirat. Kemudian dikemukakan kisah beberapa
orang nabi dan kaumnya sebagai bujukan kepada Nabi Muhammad SAW agar
jangan bersedih hati terhadap sikap kaumnya yang keras kepala dan
selalu mendustakannya.
Hubungan surat Adz Dzaariyaat dengan surat Ath Thuur.
1. Surat Adz Dzaariyaat dimulai dengan ancaman kepada orang-orang
kafir dan ni'mat-ni'mat yang diterima orang-orang mu'min kelak,
sedangkan surat Ath Thuur dimulai dengan ancaman pula dan diiringi
dengan menerangkan ni'mat yang diterima orang-orang mu'min, akan
tetapi ancaman dan ni'mat-ni'mat ini dalam surat Ath Thuur
diterangkan dengan lebih jelas.
2. Sama-sama dimulai dengan sumpah Allah dengan menyebutkan ciptaan-
ciptaan-Nya.
3. Sama-sama mengandung perintah kepada Rasulullah SAW supaya berpaling
dari orang-orang musyrik yang berkepala batu dan alasan-alasan serta
dalil-dalil keesaan Allah dan adanya hari berbangkit.
MUQADDIMAH
Surat Ath Thuur terdiri atas 49 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat As Sajdah.
Dinamai "Ath Thuur" (Bukit) diambil dari perkataan "Ath Thuur" yang
terdapat pada ayat pertama surat ini. Yang dimaksud dengan "bukit"
di sini ialah bukit Thursina yang terletak di semenanjung Sinai,
tempat Nabi Musa menerima wahyu dari Tuhannya.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Keadaan orang-orang kafir di dalam neraka dan keadaan
orang-orang beriman di dalam surga; bukti kekuasaan
dan keesaan Allah;setiap orang bertanggung jawab terhadap
perbuatannya masing-masing, sekalipun demikian bapak dan
anak akan dikumpulkan Allah dalam surga apabila kedua-
duanya sama-sama beriman.
2. Hukum-hukum
Kewajiban untuk tetap berda'wah dan anjuran melakukan
zikir dan tasbih pada waktu siang dan malam.
3. Dan lain-lain:
Orang-orang zalim pasti mendapat siksaan Allah di dunia
dan di akhirat; Allah tetap akan menjaga dan melindungi
Nabi Muhammad s.a.w.
PENUTUP
Surat Ath Thuur mengandung hal-hal yang berhubungan dengan
penegasan adanya hari berbangkit, keadaan orang-orang kafir dan
orang-orang mu'min di hari kiamat, keadaan surga sebagai tempat
orang-orang yang bertakwa dan hujjah-hujjah yang menunjukkan
kebatalan kepercayaan orang-orang musyrik. Surat ini diakhiri
dengan menyebutkan nasehat-nasehat kepada Rasulullah s.a.w. dan
orang-orang mu'min.
Hubungan surat Ath Thuur dengan surat An Najm.
1. Surat Ath Thuur ditutup dengan menyebut bintang-bintang,
sedang surat An Najm dibuka dengan menyebut bintang pula.
2. Dalam surat Ath Thuur disebutkan tuduhan orang kafir bahwa Al
Qur'an dibuat oleh Nabi Muhammad s.a.w. sedang dalam surat An
Najm ditegaskan bahwa Al Qur'an itu benar-benar wahyu dari
Allah.
3. Dalam surat Ath Thuur diterangkan bahwa Nabi Muhammad s.a.w.
selalu berada di bawah inayah Allah, sedang dalam surat An
Najm dibayangkan bagaimana kebesaran dan kemuliaan Nabi
Muhammad s.a.w.
MUQADDIMAH
Surat An Najm terdiri atas 62 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Ikhlash.
Nama " An Najm " (bintang), diambil dari perkataan " An Najm "
yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Allah bersumpah dengan
"An Najm" (bintang) adalah karena bintang-bintang yang timbul
dan tenggelam, amat besar manfaatnya bagi manusia, sebagai pedoman
bagi manusia dalam melakukan pelayaran di lautan, dalam perjalanan
di padang pasir, untuk menentukan peredaran musim dan sebagainya.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan :
Al Quraan adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad s.a.w. dengan perantaraan Jibril a.s.
kebatilan penyembah berhala; tak ada seseorangpun
memberi syafa'at tanpa izin Allah; tiap-tiap orang
hanya memikul dosanya sendiri.
2. Hukum-hukum:
Kewajiban menjauhi dosa-dosa besar; kewajiban bersujud
dan menyembah Allah saja;
3. Dan lain-lain:
Nabi Muhammmad s.a.w. melihat malaikat Jibril 2 kali
dalam bentuk aslinya, yaitu sekali waktu menerima wahyu
pertama dan sekali lagi di Sidratul Muntaha; anjuran
supaya manusia jangan mengatakan dirinya suci karena
Allah sendirilah yang mengetahui siapa yang takwa
kepada-Nya; orang-orang musyrik selalu memperolok-olok-
kan Al Quraan.
PENUTUP
Surat An Najm mengandung hal-hal yang berhubungan dengan penegasan
risalah Muhammad s.a.w. dan Al Quraan adalah wahyu dari Allah,
menerangkan kebatalan berhala-berhala yang disembah orang-orang musyrik
yang tidak dapat memberi manfaat dan mudharat, menerangkan sifat
orang-orang yang muhsin.
Dan surat ini juga menyebutkan sebahagian hakekat Islam yang tersebut
pada Suhuf-suhuf Musa dan Suhuf-suhuf Ibrahim.
Hubungan surat An Najm dan surat Al Qamar
1. pada akhir surat An Najm disebutkan hal yang mngenai hari kiamat, sedang
pada awal surat Al Qamar disebutkan pula hal itu.
2. Dalam surat An Najm disinggung secara sepintas lalu keadaan
umat-umat yang terdahulu, sedang pada surat Al Qamar disebutkan
pula keadaan umat-umat yang terdahulu yang mendustakan rasul-rasul mereka.
MUQADDIMAH
Surat Al Qamar terdiri atas 55 ayat, termasuk golongan surat-
surat Makkiyyah, diturunkan sesedah surat Ath Thaariq.
Nama "Al Qamar" (bulan) diambil dari perkataan "Al Qamar"
yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Pada ayat ini
diterangkan tentang terbelahnya bulan sebagai mu'jizat
Nabi Muhammad s.a.w.
Pokok-pokok isinya :
I. Keimanan :
Pemberitaan bahwa datangnya hari kiamat sudah dekat,
semua yang ada pada alam adalah dengan ketetapan Allah;
kehendak Allah pasti berlaku; tiap-tiap pekerjaan
manusia dicatat oleh malaikat.
2. Kisah-kisah :
Kisah kaum yang mendustakan rasul-rasul di masa dahulu,
seperti kaum Nuh, 'Aad, Tsamud dan Fir'aun.
3. Dan lain-lain :
Orang-orang kafir dikumpulkan di akhirat dalam keadaan
hina dan akan menerima balasan yang setimpal; celaan
terhadap orang-orang yang tidak memperhatikan ayat-
ayat Al Quraan.
PENUTUP
Surat Al Qamar mengandung hal-hal yang berhubungan dengan janji dan
ancaman Allah, keadaan umat-umat dahulu yang mendustakan rasul-rasul
mereka agar menjadi pelajaran bagi umat-umat yang datang kemudian,
ancaman kepada orang-orang kafir bahwa mereka akan diazab pada hari
kiamat dan balasan diterima oleh orang-orang yang takwa di akhirat nanti.
Hubungan surat Al Qamar dengan surat Ar Rahmaan.
1. Surat Al Qamar menerangkan keadaan orang-orang kafir di neraka dan
keadaan orang-orang mu'min di syurga secara garis besarnya, sedang
surat Ar Rahmaan menerangkan secara agak luas.
2. Surat Al Qamar menyebutkan azab yang ditimpakan kepada umat-umat
dahulu yang mendurhakai nabi-nabi mereka, sedang surat Ar Rahmaan
menyebutkan ni'mat Allah yang telah dilimpahkan-Nya kepada
hamba-hamba-Nya, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya.
MUQADDIMAH
Surat Ar Rahmaan terdiri atas 78 ayat, termasuk golongan surat-
surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Ar Ra'du.
Dinamai "Ar Rahmaan" (Yang Maha Pemurah), diambil dari perkataan
"Ar Rahmaan" yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Ar Rahmaan
adalah salah satu dari nama-nama Allah. Sebagian besar dari surat
ini menerangkan kepemurahan Allah s.w.t. kepada hamba-hamba-Nya,
yaitu dengan memberikan nikmat-nikmat yang tidak terhingga
baik di dunia maupun di akhirat nanti.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan :
Allah mengajar manusia pandai berbicara; pohon-
pohonan dan tumbuh-tumbuhan tunduk kepada Allah;
Allah selalu dalam kesibukan; seluruh alam meru-
pakan nikmat Allah terhadap ummat manusia;
manusia diciptakan dari tanah dan jin dari api.
2. Hukum-hukum :
Kewajiban mengukur, menakar, menimbang dengan adil.
3. Dan Lain-lain :
Manusia dan jin tidak dapat melepaskan diri dari
kekuasaan Allah s.w.t. banyak dari ummat manusia
yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan; nubuwat tentang
hal-hal yang akan terjadi dan hal-hal itu benar-
benar terjadi seperti tentang terusan Sues dan
Panama.
PENUTUP
Surat Ar Rahmaan menyebutkan bermacam-macam ni'mat Allah yang
telah dilimpahkan kepada hamba-hamban-Nya yaitu dengan menciptakan
alam dengan segala yang ada padanya. Kemudian diterangkan pem-
balasan di akhirat, keadaan penghuni neraka dan keadaan penghuni
syurga yang dijanjikan Allah kepada orang yang bertakwa.
Hubungan surat Ar Rahmaan dengan surat Al Waaqi'ah.
1. Kedua surat ini sama-sama menerangkan keadaan di akhirat
dan keadaan di syurga dan di neraka.
2. Dalam surat Ar Rahmaan diterangkan azab yang ditimpakan
kepada orang-orang yang berdosa dan ni'mat yang diterima
orang-orang yang bertakwa;dijelaskan bahwa ada dua macam
syurga yang disediakan bagi orang-orang mu'min. Pada surat
Al Waaqi'ah diterangkan pembagian manusia di akhirat pada
tiga golongan, yaitu golongan kiri, golongan kanan dan
golongan orang-orang yang lebih dahulu beriman dan diterangkan
pula bagaimana nasib masing-masing golongan itu.
MUQADDIMAH
Surat Al Waaqi'ah terdiri atas 96 ayat, termasuk golongan
surat-surat Makkiyah, diturunkan sesudah surat Thaa Haa.
Dinamai dengan "Al Waaqi'ah" (Hari Kiamat), diambil dari
perkataan "Al Waaqi'ah" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Pokok-pokok isinya :
I. Keimanan :
Huru-hara di waktu terjadinya hari kiamat; manusia di waktu
hisab terbagi atas tiga golongan, yaitu golongan yang ber-
segera menjalankan kebaikan, golongan kanan dan golongan
yang celaka serta balasan yang diperoleh oleh masing-masing
golongan; bantahan Allah terhadap keingkaran orang-orang yang
mengingkari adanya Tuhan, hari berbangkit, dan adanya hisab;
Al Quraan berasal dari Lauhul Mahfuuzh.
2. Dan lain-lain :
Gambaran tentang syurga dan neraka.
PENUTUP
Surat Al Waaqi'ah menerangkan tentang keadaan hari kiamat,
balasan yang diterima oleh orang-orang mu'min dan orang-orang kafir.
Kemudian diterangkan penciptaan manusia, tumbuh-tumbuhan dan api,
sebagai bukti kekuasaan Allah dan adanya hari berbangkit.
HUBUNGAN SURAT AL WAAQI'AH DENGAN SURAT AL HADIID.
1. Surat Al Waaqi'ah diakhiri dengan perintah bertasbih dengan menyebut
nama Tuhan, Maha Pencipta lagi Maha Pemelihara, sedang pada permulaan
surat Al Hadiid disebutkan bahwa apa yang ada di langit dan apa yang
ada di bumi bertasbih kepada Allah.
2. Dalam surat Al Waaqi'ah disebut orang-orang yang bersegera (As-
Saabiquun), sedang pada surat Al Hadiid diterangkan kemana orang-
orang itu harus bersegera.
3. Sama-sama menerangkan kekuasaan Allah.
MUQADDIMAH
Surat Al Hadiid terdiri atas 29 ayat, termasuk golongan
surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Az Zalzalah.
Dinamai "Al Hadiid" (Besi), diambil dari perkataan "Al
Hadiid" yang terdapat pada ayat 25 surat ini.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Hanya kepada Allah kembali semua urusan; beberapa sifat
Allah dan beberapa Asmaa-ul Husna serta pernyataan
kekuasaan Allah di langit dan di bumi.
2. Hukum-hukum:
Perintah menafkahkan harta.
3. Dan lain-lain:.
Keadaan orang-orang munafik di hari kiamat; hakikat
kehidupan dunia dan kehidupan akhirat; tujuan penciptaan
besi; tujuan diutusnya para rasul; kehidupan kerahiban
dalam agama Nasrani bukan berasal dari ajaran Nabi Isa
a.s.; celaan kepada orang-orang bakhil dan orang yang
menyuruh orang-orang lain berbuat bakhil.
PENUTUP
Surat Al Hadiid pada umumnya menerangkan hal-hal yang
berhubungan dengan anjuran bernafkah dan membelanjakan harta di
jalan Allah. Dan juga menerangkan bahwa Allah mengutus para nabi
dengan membawa agama untuk kebahagiaan hidup manusia di samping
itu menciptakan besi yang bermanfaat bagi manusia dalam
kehidupannya dan untuk mempertahankan agama yang dibawa oleh
rasul-rasul itu.
HUBUNGAN SURAT AL HADIID DENGAN SURAT AL MUJAADILAH.
1. Pada surat Al Hadiid disebutkan beberapa Al Asmaa-ul Husna,
di antaranya ialah 'Al Bathin" dan "mengetahui segala
sesuatu", sedang pada surat Al Mujaadilah disebutkan bahwa
Allah mengetahui pembicaraan-pembicaraan yang dirahasiakan.
2. Pada akhir surat Al Hadiid disebutkan bahwa Allah mempunyai
karunia-Nya kepada wanita, yaitu dengan menghilangkan hal-hal
yang merugikan pihak wanita pada hukum zhihar yang berlaku di
kalangan Arab Jahiliyah.
MUQADDIMAH
Surat Al Mujaadilah terdiri atas 22 ayat, termasuk golongan surat
Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Munaafiquun.
Surat ini dinamai dengan "Al Mujaadilah" (wanita yang mengajukan gugatan)
karena pada awal surat ini disebutkan bantahan seorang perempuan, menurut
riwayat bernama Khaulah binti Tsa'labah terhadap sikap suaminya yang telah
menzhiharnya. Hal ini diadukan kepada Rasulullah s.a.w. dan ia menuntut
supaya beliau memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu.
Dinamai juga "Al Mujaadalah" yang berarti "perbantahan".
Pokok-pokok isinya:
I. Hukum:
Hukum zhihar dan sangsi-sangsi bagi orang yang melakukannya bila
ia menarik kembali perkataannya; larangan menjadikan musuh
Allah sebagai teman.
2. Dan lain-lain:
Menjaga adab sopan santun dalam suatu majlis pertemuan; adab
sopan santun terhadap Rasulullah s.a.w.
PENUTUP
Surat ini menerangkan tentang zhihar dan hukumnya, larangan mengambil
orang kafir sebagai teman akrab serta beberapa hal yang berhubungan dengan
adab sopan santun.
HUBUNGAN SURAT AL MUJAADILAH DENGAN SURAT AL HASYR.
1. Pada akhir surat Al Mujaadilah Allah menyatakan bahwa agama Allah akan
menang, yaitu pengusiran Bani Nadhir dari Madinah.
2. Dalam surat Al Mujaadilah Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang
menentang Allah dan Rasul-Nya akan mendapat kebinasaan, sedang pada
surat Al Hasyr Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang menentang Allah
Allah dan Rasul-Nya akan mendapat azab yang sangat.
3. Dalam surat Al Mujaadilah Allah menyebutkan hal-hal orang-orang munafik
dan orang-orang Yahudi dan bagaimana mereka bantu membantu dalam
memusuhi kaum muslim, sedang dalam surat Al Hasyr disebutkan kekalahan
yang menimpa mereka dan persatuan mereka tidak dapat menolong mereka
sedikitpun.
MUQADDIMAH
Surat Al HAsyr terdiri atas 24 ayat, termasuk golongan surat-surat
Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Bayyinah.
Dinamai surat "Al Hasyr" (pengusiran) diambil dari perkataan "Al-
Hasyr" yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Di dalam surat ini disebutkan
kisah pengusiran suatu suku Yahudi yang bernama Bani Nadhir yang berdiam
di sekitar kota Madinah.
Pokok-pokok isinya :
I. Keimanan :
Apa yang berada di langit dan di bumi semuanya bertasbih memuji
Allah; Allah pasti mengalahkan musuh-Nya dan musuh-musuh Rasul-Nya;
Allah mempunyai Al Asmaa-ul Husna; keagungan Al Quraan dan
ketinggian martabatnya.
2. Hukum-hukum :
Cara pembagian harta fai-i; perintah bertakwa dan menyiapkan diri
untuk kehidupan ukhrawi.
3. Dan lain-lain :
Beberapa sifat orang-orang munafik dan orang-orang ahli kitab yang
tercela; peringatan-peringatan untuk kaum muslimin.
PENUTUP
Surat ini menerangkan tentang bagaimana seharusnya sikap setiap
orang Islam terhadap orang-orang yang tidak Islam yang melakukan tindakan-
tindakan yang merugikan umat Islam sebagai yang dilakukan oleh Bani Nadhir;
hukum fai-i dan pembagiannya, kewajiban bertakwa; ketinggian dan keagungan
Al Quraan, kemudian ditutup dengan menyebut sebagian Al Asmaa-ul Husna.
HUBUNGAN SURAT AL HASYR DENGAN SURAT AL MUMTAHANAH.
Dalam surat Al Hasyr disebutkan bagaimana orang-orang munafik
saling tolong-menolong dengan orang-orang Yahudi dalam memusuhi kaum
muslimin, sedang dalam surat Al Mumtahanah Allah melarang orang muslim meng-
angkat orang-orang kafir menjadi pemimpin atau menjadikan mereka teman
setia. Dalam pada itu dibolehkan bekerja sama, tolong-menolong dengan mereka
selama mereka tidak memusuhi kaum muslimin.
MUQADDIMAH
Surat Al Mumtahanah terdiri atas 13 ayat, termasuk golongan surat-surat
Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Ahzab.Dinamai "Al Mumtahanah"
(wanita yang diuji), diambil dari kata "Famtahinuuhunna" yang berarti
"maka ujilah mereka",yang terdapat pada ayat 10 surat ini.
Pokok-pokok isinya :
I. Hukum-hukum :
Larangan mengadakan hubungan persahabatan dengan orang-orang kafir
yang memusuhi Islam,sedang dengan orang-orang kafir yang tidak
memusuhi Islam boleh mengadakan persahabatan; hukum perkawinan
bagi orang-orang yang pindah agama.
2. Kisah-kisah :
Kisah Ibrahim a.s. bersama kaumnya sebagai contoh dan teladan bagi
orang-orang mu'min.
PENUTUP
Surat ini menerangkan tentang pergaulan orang-orang Islam dan yang
bukan Islam dalam waktu perang dan damai serta dari segi perkawinan.
HUBUNGAN SURAT AL MUMTAHANAH DENGAN SURAT ASH SHAFF.
Pada surat Al Mumtahanah Allah melarang orang-orang muslim mengadakan
hubungan persahabatan dengan oarang-orang kafir dan meninggalkan
orang-orang mu'min, sedang surat Ash Shaff menguatkannya dengan
menganjurkan agar berjihad di jalan Allah.
MUQADDIMAH
Surat Ash Shaff terdiri atas 14 ayat termasuk golongan surat-surat
Madaniyyah.
Dinamai dengan "Ash Shaff", karena pada ayat 4 surat ini terdapat kata
"Shaffan" yang berarti "satu barisan". Ayat ini menerangkan apa yang
diridhai Allah sesudah menerangkan apa yang dimurkai-Nya. Pada ayat 3
diterangkan bahwa Allah murka kepada orang yang hanya pandai berkata saja
tetapi tidak melaksanakan apa yang diucapkannya. Dan pada ayat 4
diterangkan bahwa Allah menyukai orang yang mempraktekkan apa yang
diucapkannya yaitu orang-orang yang berperang pada jalan Allah dalam satu
barisan.
Pokok-pokok isinya:
Semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya,
anjuran berjihad pada jalan Allah. Pengikut-pengikut nabi Musa
dan Isa a.s. pernah mengingkari ajaran-ajaran nabi mereka.
Demikian pula kaum musyrikin Mekah ingin hendak memadamkan
cahaya Allah (agama Islam). Ampunan Allah dan Surga tak dapat
dicapai dengan iman dan berjuang menegakkan kalimah Allah
dengan harta dan jiwa.
PENUTUP
Surat ini menganjurkan supaya orang-orang mu'min selalu menyesuaikan
ucapan dengan perbuatan, dan menerima tawaran Allah yaitu ampunanNya dan
surga dapat dicapai dengan iman dan berjihad di jalan Allah dengan harta
dan jiwa.
HUBUNGAN SURAT ASH SHAFF DENGAN SURAT AL JUMU'AH.
1. Sama-sama dimulai dengan "sabbaha lillahi" bertasbih kepada Allah dan
bahwa Allah Maha Perkasa lagi MAha Bijaksana.
2. Pada surat Ash Shaff diterangkan bahwa orang-orang Yahudi itu adalah
kaum yang sesat dan fasik, sedang pada surat Al Jumu'ah diterangkan lagi
bahwa mereka adalah orang yang bodoh seperti keledai yang membawa buku-
buku yang banyak, tetapi tidak dapat memahaminya.
MUQADDIMAH
Surat Al Jumu'ah ini terdiri atas 11 ayat, termasuk golongan-golongan
surat-surat Madaniyyah dan diturunkan sesudah surat As Shaf.
Nama surat Al Jumu'ah diambil dari kata Al Jumu'ah yang terdapat pada
ayat 9 surat ini yang artinya: "hari Jum'at".
Pokok-pokok isinya:
Menjelaskan sifat-sifat orang-orang munafik dan sifat-sifat
buruk pada umumnya, diantaranya berdusta, bersumpah palsu dan
penakut; mengajak orang-orang mu'min supaya ta'at dan patuh
kepada Allah dan Rasul-Nya dan supaya bersedia menafkahkan
harta untuk menegakkan agama-Nya sebelum ajal datang.
PENUTUP
Surat Al Jumu'ah ini menerangkan tentang pengutusan Nabi Muhammad s.a.w.
dan menjelaskan bahwa umatnya akan menjadi mulia karena ajarannya, disusul
dengan perumpamaan orang-orang Yahudi dan kebohongan pengakuan mereka dan
kemudian diakhiri dengan kewajiban shalat Jum'at.
HUBUNGAN SURAT AL JUMU'AH DENGAN SURAT AL MUNAAFIQUUN.
1. Pada surat Al Jumu'ah Allah menerangkan bahwa orang muslim menjadi mulia
karena ajaran Nabi Muhammad s.a.w. sedang pada surat Al Munaafiquun
diterangkan bahwa orang-orang munafik karena tidak mau menjalankan
ajaran Nabi akan menjadi sesat dan hina.
2. Dalam surat Al Jumu'ah orang disuruh meninggalkan perniagaannya untuk
pergi shalat Jumu'ah, sedang pada surat Al Munaafiquun diperingatkan
agar harta benda dan anak-anak jangan sampai melalaikan orang ingat
kepada Allah.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 11 ayat, termasuk golongan surat-surat
Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Hajj. Surat ini dinamai Al-
Munaafiquun yang artinya orang-orang munafik, karena surat ini meng-
ungkapkan sifat-sifat orang-orang munafik.
Pokok-pokok isinya :
Keterangan tentang orang-orang munafik dan sifat-sifat mereka
yang buruk diantaranya ialah pendusta, suka bersumpah palsu,
sombong, kikir dan tidak menepati janji, peringatan kepada
orang-orang mu'min supaya harta benda dan anak-anaknya tidak
melalaikan mereka, insyaf kepada Allah, dan anjuran supaya
menafkahkan sebahagian rezki yang diperoleh.
PENUTUP
Surat Al Munaafiquun menerangkan sifat-sifat orang munafik dan
mengandung anjuran untuk berkorban dengan harta benda.
HUBUNGAN SURAT AL MUNAAFIQUUN DENGAN SURAT AT TAGHAABUN
1. Dalam surat Al Munaafiquun diterangkan sifat-sifat orang munafik sedang
pada surat At Taghaabun diterangkan sifat-sifat orang kafir.
2. Dalam surat Al Munaafiquun Allah memperingatkan bahwa harta benda dan
anak-anak jangan sampai melalaikan seseorang dari mengingat Allah, dan
pada surat At Taghaabun ditegaskan bahwa harta benda dan anak-anak itu
adalah cobaan dan ujian bagi keimanan seseorang.
3. Kedua surat ini sama-sama mengajak agar menafkahkan harta untuk menegak-
kan agama Allah.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 18 ayat, termasuk golongan surat-surat
Madaniyyah dan diturunkan sesudah surat At Tahrim.
Nama At Taghaabun diambil dari kata "At Taghaabun" yang terdapat
pada ayat ke 9 yang artinya "hari dinampakkan kesalahan-kesalahan".
Pokok-pokok isinya :
I. Keimanan :
Seluruh isi alam bertasbih kepada Allah SWT, penjelasan tentang
kekuasaan Allah SWT serta keluasan ilmu-Nya; penegasan bahwa semua
yang terjadi dalam alam ini adalah atas izin Allah.
2. Hukum-hukum :
Perintah ta'at kepada Allah dan Rasul; perintah supaya bertakwa dan
menafkahkan harta.
3. Dan lain-lain :
Peringatan kepada orang-orang kafir tentang nasib orang-orang dahulu
yang mendurhakai rasul-rasul; diantara isteri-isteri dan anak-anak
seseorang ada yang menjadi musuh baginya; harta dan anak-anak adalah
cobaan dan ujian bagi manusia.
PENUTUP
Pada surat At Taghaabun Allah memberi peringatan kepada kaum
musyrikin tentang azab yang ditimpakan kepada umat-umat sebelumnya dan
memberi hiburan kepada Nabi bahwa keingkaran orang-orang kafir itu tidak
akan mendatangkan kemudaratan kepadanya.
HUBUNGAN SURAT AT TAGHAABUN DENGAN SURAT ATH THALAAQ.
Dalam surat At Taghaabun diterangkan bahwa diantara isteri-isteri
dan anak-anak ada yang menjadi musuh, dan permusuhan antara suami dan
isteri mungkin membawa kepada perceraian (talaq), maka dalam surat Ath-
Thalaaq diterangkan hukum-hukum talaq secara ringkas.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 12 ayat, termasuk golongan surat-surat
Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Insaan.
Dinamai surat Ath Thalaaq karena kebanyakan ayat-ayatnya mengenai masalah
talak dan yang berhubungan dengan masalah itu.
Pokok-pokok isinya:
Dalam surat ini diterangkan hukum-hukum mengenai thalaq, iddah
dan kewajiban masing-masing suami dan isteri dalam masa-masa
talaq dan iddah, agar tak ada pihak yang dirugikan dan keadilan
dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kemudian disebutkan
perintah kepada orang-orang mu'min supaya bertakwa kepada Allah
yang telah mengutus seorang Rasul yang memberikan petunjuk
kepada meraka. Maka siapa yang beriman akan dimasukkan ke dalam
surga dan kepada yang ingkar diberikan peringatan bagaimana
nasibnya orang-orang ingkar di masa dahulu.
PENUTUP
Surat Ath Thalaaq mengandung hukum-hukum yang mengenai talak dan yang
berhubungan dengan masalah itu dan merupakan kelengkapan dari hukum talak
yang tersebut dalam surat Al baqarah ayat 222 sampai dengan 242.
HUBUNGAN SURAT ATH THALAAQ DENGANN SURAT AT TAHRIIM.
1. Di dalam surat Ath Thalaaq disebutkan bagaimana seharusnya bergaul dan
bertindak terhadap isteri, sedang dalam surat At Tahriim diterangkan
beberapa hal yang terjadi antara nabi Muhammad s.a.w. dengan para
isterinya dann bagaimana tindakan nabi menghadapi hal itu supaya dapat
menjadi pelajaran bagi umatnya dalam pergaulan berkeluarga.
2. Keduanya sama-sama dimulai dengan seruan Allah kepada Nabi Muhammad
s.a.w. tentang hal-hal yang berhubungan dengan hidup kekeluargaan.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 12 ayat, termasuk golongan surat-surat
Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Hujuraat.
Dinamai surat At Tahrim karena pada awal surat ini terdapat kata
"tuharrim" yang kata asalnya adalah Attahrim yang berarti "mengharamkan".
Pokok-pokok isinya :
I. Keimanan :
Kesempatan bertaubat itu hanyalah di dunia saja, segala amal per-
buatan manusia di dunia akan dibalas di akhirat.
2. Hukum-hukum :
Larangan mengharamkan apa-apa yang dibolehkan Allah SWT, kewajiban
membebaskan diri dari sumpah yang diucapkan untuk mengharamkan yang
halal dengan membayar kaffarat; kewajiban memelihara diri dan
keluarga dari api neraka; perintah memerangi orang-orang kafir dan
munafik dan berlaku keras terhadap mereka di waktu perang.
3. Dan lain-lain :
Iman dan perbuatan baik atau buruk seseorang tidak tergantung kepada
iman dan perbuatan orang lain walaupun antara suami isteri, seperti
isteri Nabi Luth AS, isteri Nabi Nuh AS, isteri Fir'aun, dan Maryam.
PENUTUP
Surat At Tahrim menerangkan tentang hubungan Rasulullah SAW dengan
isteri-isterinya, diikuti dengan keharusan bagi orang-orang mu'min untuk
bertaubat; dan ditutup dengan contoh-contoh wanita-wanita yang baik dan
yang buruk.
HUBUNGAN SURAT AT TAHRIM DENGAN SURAT AL MULK.
Dalam surat At Tahrim diterangkan bahwa Allah mengetahui segala
rahasia, sedang pada surat Al Mulk ditegaskan lagi bahwa Allah mengetahui
segala rahasia karena Allah menguasai seluruh alam.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 30 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyah, diturunkan sesudah Ath Thuur.
Nama "Al Mulk" diambil dari kata "Al Mulk" yang terdapat pada
ayat pertama surat ini yang artinya kerajaan atau kekuasaan. Dinamai
pula surat ini dengan "At Tabaarak" (Maha Suci).
# Pokok-pokok isinya:
Hidup dan mati ujian bagi manusia; Allah menciptakan langit
berlapis-lapis dan semua ciptaan-Nya mempunyai keseimbangan;
perintah Allah untuk memperhatikan isi alam semesta; azab yang
diancamkan terhadap orang-orang kafir; dan janji Allah kepada
orang-orang mu'min; Allah menjadikan bumi sedemikian rupa hingga
mudah bagi manusia untuk mencari rezki; peringatan Allah kepada
manusia tentang sedikitnya mereka yang bersyukur kepada ni'mat
Allah.
PENUTUP
Surat Al Mulk menunjukkan bukti-bukti kebesaran dan kekuasaan Allah
yang terdapat di alam semesta dan menganjurkannya agar manusia memperhatikan-
nya dengan seksama sehingga mereka beriman kepada-Nya. Bilamana manusia itu
tetap mengingkari, Allah akan menjatuhkan azab kepada mereka.
# HUBUNGAN SURAT AL MULK DENGAN SURAT AL QALAM.
1. Pada akhir surat Al Mulk, Allah mengancam orang yang tidak bersyukur
kepda nikmat Allah dengan mengeringkan bumi atas mereka, sedang dalam surat
Al Qalam diberikan contoh tentang azab terhadap orang-orang yang tidak
bersyukur terhadap nikmat Allah.
2. Kedua surat ini sama-sama memberikan ancaman kepada orang-orang kafir.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 52 ayat,termasuk golongan surat-surat
Makkiyah,diturunkan sesudah surat Al Alaq.
Nama "Al Qalam" diambil dari kata Al Qalam yang ter dapat pada
ayat pertama surat iniyang artinya "pena".Surat ini dinamai pula
dengan surat "Nun" (huruf"nun").
Pokok-pokok isinya :
Nabi Muhammad s.a.w , bukanlah orang yang gila melainkan manusia
yang berbudi pekerti yang agung;larangan bertoleransi dibidang
kepercayaan;larangan mengikuti orang-orang yang mempunyai sifat
sifat yang dicela Allah;nasib yang dialami oleh pemilik-pemilik
kebun sebagai contoh orang-orang yang tidak bersyukur terhadap
ni'mat Allah;kecaman-kecaman Allah kepada mereka yang ingkar
dan azab yang akan menerima mereka;Al Quraan adalah peringatan
bagi seluruh ummat.
PENUTUP
Surat Al Qalam berisi bantahan dari orang-orang musyrikin terhadap
Nabi Muhammad s.a.w. dan memperingatkan agar jangan mengikuti kemauan
mereka.Mereka itu mendapat penghinaan pada hari kiamat akibat perbuatan
mereka.
HUBUNGAN SURAT AL QALAM DENGAN SURAT AL HAAQQAH.
1. Dalam Surat Al Qalam disebutkan tentang hari kiamat secara umum,
Sedang dalam surat Al Haaqqah dijelaskan secara terperinci peristiwa
peristiwa hari kiamat itu.
2. Dalam Surat AlQalam diterangkan orang-orang yang mendustakan Al Qur
aan dan ancaman azab atas mereka,sedang dalam surat Al Haaqqah,
diterangkan orang-orang zaman dahulu yang mendustakan rasul-rasul
dan macam-macam azab yang telah menimpa mereka.
3. Dalam surat Al Qalam, Allah membantah tuduhan orang musyrikin bahwa
Muhammad s.a.w. orang gila, sedang dalam surat Al Haaqqah Allah
membantah tuduhan bahwa nabi Muhammad s.a.w seorang penyair.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 52 ayat,termasuk golongan surat-surat
Makkiyah,diturunkan sesudah surat Al Mulk.
Nama "Al Haaqqah" diambil dari kata "Al Haaqqah" yang terdapat
pada ayat pertama surat ini yang artinya "hari kiamat"
Pokok-pokok isinya :
Peringatan tentang azab yang ditimpakan kepada kaum-kaum Tsamud,
'Aad,Fir'aun,kaum Nuh dan kaum-kaum sebelum mereka yang mengingkari
rasul-rasul mereka pada hari kiamat;kejadian-kejadian mereka pada
hari kiamat dan hari berhisab;penegasan Allah bahwa Al Quraan itu benar-benar wahyu Allah.
PENUTUP
Surat Al Haaqqah memberi peringatan kepada mereka yang tidak mentaati
Rasulullah s.a.w. dengan memberikan contoh-contoh tentang azab yang
ditimpakan kepada umat yang dahulu yang mengingkari rasul-rasul-Nya.
HUBUNGAN SURAT AL HAAQQAH DENGAN SURAT AL MA'AARIJ
--- NOT FINISHED YET ---
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 44 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Haaqqah.
Perkataan "Al Ma'arij" yang menjadi nama bagi surat ini adalah
kata jamak dari "Mi'raj", diambil dari perkataan Al Ma'arij yang terdapat
pada ayat 3, yang artinya menurut bahasa "tempat naik". Sedang para ahli
tafsir memberi arti bermacam-macam, di antaranya "langit", ni'mat karunia
dan derajat atau tingkatan yang diberikan Allah s.w.t kepada ahli surga.
Pokok-pokok isinya :
Perintah bersabar kepada Nabi Muhammad s.a.w dalam menghadapi
ejekan-ejekan dan keingkaran orang-orang kafir, kejadian-kejadian
pada hari kiamat; azab Allah tak dapat dihindarkan dengan tebusan
apapun, sifat-sifat manusia yang mendorongnya ke api neraka; amal-
amal perbuatan yang dapat membawa manusia ke martabat yang tinggi;
peringatan Allah akan mengganti kaum yang durhaka dengan kaum yang
lebih baik.
PENUTUP
Surat Al Ma'arij menerangkan sifat-sifat yang buruk serta memberi
petunjuk kepada jalan-jalan yang dapat mencapai kemuliaan dan derajat yang
tinggi.
HUBUNGAN SURAT AL MA'ARIJ DENGAN SURAT NUH.
1. Pada akhir surat Al Ma'arij Allah menerangkan bahwa Dia berkuasa
mengganti kaum yang durhaka dengan kaum yang lebih baik, sedang dalam
surat Nuh dibuktikan dengan penenggelaman kaum Nuh yang durhaka.
2. Kedua surat ini dimulai dengan ancaman azab kepada orang-orang kafir.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 28 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyah, diturunkan sesudah surat An Nahl.
Dinamakan dengan surat "Nuh" karena surat ini seluruhnya men-
jelaskan da'wah dan do'a Nabi Nuh AS.
Pokok-pokok isinya :
Ajakan Nabi Nuh AS kepada kaumnya untuk beriman kepada Allah SWT
serta bertobat kepada-Nya; perintah memperhatikan kejadian alam
semesta dan kejadian manusia yang merupakan manifestasi kebesaran
Allah; siksaan Allah di dunia dan akhirat bagi kaum Nuh yang
tetap kafir; do'a Nabi Nuh AS.
PENUTUP
Surat Nuh menjelaskan da'wah Nuh AS kepada kaumnya dan tantangan
mereka, kemudian azab yang ditimpakan kepada mereka.
HUBUNGAN SURAT NUH DENGAN SURAT AL JIN.
1. Kedua surat ini mempunyai persamaan a.l :
a. Menggambarkan da'wah Nabi dan sikap lawan-lawannya.
b. Menerangkan azab yang akan ditimpakan atas mereka yang durhaka.
2. Dalam surat Nuh, Allah memerintahkan supaya meminta ampun kepada-Nya,
niscaya Dia melimpahkan harta dan anak, sedang dalam Al Jin dijelaskan
bahwa mereka yang hidup di atas jalan yang benar, akan mendapat rezeki
yang besar dari Allah.
MUQADDIMAH
Surat Al Jin terdiri atas 28 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al A'raaf
Dinamai "Al Jin" (jin) diambil dari perkataan "Al Jin" yang terdapat
pada ayat pertama surat ini. Pada ayat tersebut dan ayat-ayat berikutnya
diterangkan bahwa Jin sebagai makhluk halus telah mendengar pembacaan
Al Quraan dan mereka mengikuti ajaran Al Quraan tersebut.
Pokok-pokok isinya :
Pengetahuan tentang jin diperoleh Nabi Muhammad s.a.w. dengan
jalan wahyu; pernyataan iman segolongan jin kepada Allah; jin
ada yang mu'min ada pula yang kafir; janji Allah kepada jin dan
manusia untuk melimpahkan rezki-Nya kalau mereka mengikuti jalan
yang lurus; janji perlindungan Allah terhadap Nabi Muhammad s.a.w.
dan wahyu yang dibawanya.
PENUTUP
Surat Al Jin menerangkan bahwa Al Quraan di samping petunjuk bagi
manusia juga sebagai petunjuk bagi jin.
HUBUNGAN SURAT AL JIN DENGAN SURAT AL MUZZAMMIL
1. Surat Al jin menerangkan keta'juban segolongan jin yang mendengarkan
pembacaan Al Quraan, sedang pada surat Al Muzzammil Allah memerintahkan
Nabi Muhammad s.a.w. membaca Al Quraan pada waktu malam.
2. Pada surat Al Jin diterangkan bahwa orang-orang kafir Mekah selalu
mengganggu Nabi Muhammad s.a.w. bila beliau sembahyang sedang surat
Al Muzammil memerintahkan agar Nabi Muhammad s.a.w. mengerjakan
sembahyang malam untuk menguatkan jiwanya.
MUQADDIMAH
Surat Al Muzzammil terdiri atas 20 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al Qalam.
Dinamai "Al Muzzammil" (orang yang berselimut) diambil dari perkataan
"Al Muzzammil" yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Yang dimaksud
dengan "orang yang berkemul" ialah Nabi Muhammad s.a.w.
Pokok-pokok isinya :
Petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan oleh Rasullulah s.a.w. untuk
menguatkan rohani guna persiapan menerima wahyu, yaitu dengan bangun
di malam hari untuk bersembahyang tahajjud, membaca Al Qur'an dengan
tartil; bertasbih dan bertahmid; perintah bersabar terhadap celaan
orang-orang yang mendustakan Rasul. Akhirnya kepada umat Islam
diperintahkan untuk bersembahyang tahajjud, berjihad di jalan Allah,
membaca Al Qur'an, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, membelanjakan
harta di jalan Allah dan memohon ampunan kepada Allah s.w.t.
PENUTUP
Surat Al Muzzammil menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan
petunjuk-petunjuk Allah untuk menguatkan jiwa yang bagi seseorang yang
akan melakukan tugas yang berat.
HUBUNGAN SURAT AL MUZZAMMIL DENGAN SURAT AL MUDDATSTSIR.
1. Kedua surat ini sama-sama dimulai dengan seruan kepada Nabi Muhammad
s.a.w.
2. Surat Al Muzzammil berisi perintah bangun di malam hari bersembahyang
tahajjud dan membaca Al Qur'an untuk menguatkan jiwa seseorang sedang
Surat Al Muddatstsir berisi perintah melakukan da'wah mensucikan diri,
dan bersabar.
MUQADDIMAH
Surat Al Muddatstsir terdiri atas 56 ayat, termasuk golongan
surat-surat Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al Muzzammil.
Dinamai "Al Muddatstsir" (orang yang berkemul) diambil dari
perkataan "Al Muddatstsir" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Pokok-pokok isinya :
Perintah untuk mulai berda'wah mengagungkan Allah, membersihkan
pakaian, menjauhi ma'siat, memberikan sesuatu dengan ikhlas dan
bersabar dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah;
Allah akan mengazab orang-orang yang menentang Nabi Muhammad SAW
dan mendustakan Al Quraan; tiap-tiap manusia terikat dengan apa
yang ia usahakan.
PENUTUP
Surat ini mengandung perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk
melakukan da'wah, disertai ancaman bagi orang yang menghalang-halangi
da'wah.
HUBUNGAN SURAT AL MUDDATSTSIR DENGAN SURAT AL QIYAAMAH.
1. Surat Al Muddatstsir menerangkan bahwa walaupun keterangan apa saja yang
dikemukakan kepada orang kafir mereka tidak percaya kepada adanya hari
akhirat dan tidak takut kepadanya, sedang pada surat Al Qiyaamah, Allah
menegaskan bahwa hari kiamat itu pasti terjadi disertai dengan bukti-
buktinya.
2. Dalam surat Al Muddatstsir diterangkan bahwa orang-orang kafir mendusta-
kan Al Quraan, sedang dalam surat Al Qiyaamah Allah menjamin tetapnya
Al Quraan dalam ingatan Nabi dan mengajarkan bacaannya.
MUQADDIMAH
Surat Al Qiyaamah terdiri atas 40 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al Qaari'ah.
Dinamai "Al Qiyaamah" (hari kiamat) diambil dari perkataan "Al Qiyaamah"
yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Pokok-pokok isinya:
Kepastian terjadinya hari kiamat dan huru-hara yang terjadi
padanya; jaminan Allah terhadap ayat-ayat Al Qur'an dalam dada
Nabi sehingga Nabi tidak lupa tentang urutan arti dan pembacaannya;
celaan Allah kepada orang-orang musyrik yang lebih mencintai
dunia dan meninggalkan akhirat; keadaan manusia di waktu sakratil
maut.
PENUTUP
Surat Al Qiyaamah menerangkan tentang hari kiamat, disertai bukti-
buktinya dan keadaan pada hari kiamat tersebut.
HUBUNGAN SURAT AL QIYAAMAH DENGAN SURAT AL INSAAN.
1. Surat Al Qiyaamah diakhiri dengan peringatan kepada manusia akan asal
kejadiannya, sedang surat Al Insaan dimulai pula dengan peringatan
tersebut serta memberinya petunjuk akan jalan yang membawa manusia kepada
kesempurnaan.
2. Kedua surat ini sama-sama mencela orang-orang yang lebih mencintai dunia
dan meninggalkan akhirat.
3. Surat Al Qiyaamah menerangkan huru-hara pada hari kiamat dan azab yang
dialami orang-orang kafir di waktu itu, sedang surat Al insaan menerangkan
keadaan yang dialami orang-orang yang bertakwa dan berbakti, di akhirat
dan di dalam surga nanti.
MUQADDIMAH
Surat Al Insaan terdiri atas 31 ayat, termasuk golongan surat-
surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ar Rahmaan.
Dinamai "al Insaan" (manusia) diambil dari perkataan "Al
Insaan" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Pokok-pokok isinya:
Penciptaan manusia; petunjuk-petunjuk untuk mencapai
kehidupan yang sempurna dengan menempuh jalan yang lurus;
memenuhi nazar, memberi makan orang miskin dan anak yatim
serta orang yang ditawan karena Allah, takut kepada hari
kiamat mengerjakan shalat dan shalat tahajjud dan
bersabar balam menjalankan hukum Allah; ganjaran terhadap
orang yang mengikuti petunjuk dan ancaman terhadap orang
yang mengingkarinya.
PENUTUP
Surat Al Insaan menerangkan bahwa setelah manusia diciptakan,
manusia diberi petunjuk untuk mencapai kehidupan yang sempurna, ada
yang mengingkari dan ada yang tidak mengikutinya, ganjaran bagi
mereka yang mengikuti dan ancaman bagi mereka yang tidak
mengikutinya.
HUBUNGAN SURAT AL INSAAN DENGAN SURAT AL MURSALAAT.
1. Surat Al Insaan menerangkan tentang ancaman Allah terhadap
orang-orang yang durhaka, sedang pada surat Al Mursalaat Allah
bersumpah bahwa semua ancamannya itu pasti terjadi.
2. Surat Al Insaan menerangkan tentang kejadian manusia secara
umum, sedang surat Al Mursalaat menerangkan kejadian itu secara
terperinci.
MUQADDIMAH
Surat Al Mursalaat terdiri atas 50 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al Humazah.
Dinamai "Al Mursalaat" (Malaikat-Malaikat yang diutus), diambil dari
perkataan "Al Mursalaat" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Dinamai juga "Amma yatasaa aluun" diambil dari perkataan "Amma yatasaa
aluun" yang terdapat pada ayat 1 surat ini.
Pokok-pokok isinya:
Penegasan Allah bahwa semua yang diancamkan-Nya pasti terjadi;
peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum hari berbangkit;
peringatan Allah akan kehancuran umat-umat yang dahulu yang
mendustakan nabi-nabi dan asal kejadian manusia dari air yang
hina; keadaan orang-orang kafir dan orang mu'min di hari kiamat.
PENUTUP
Surat Al Mursalaat menerangkan azab yang akan diderita oleh orang-orang
yang menolak kebenaran yang dibawa oleh nabi Muhammad s.a.w. sebagaimana
azab yang diderita umat-umat yang dahulu yang menolak kebenaran yang dibawa
rasul-rasul mereka.
HUBUNGAN SURAT AL MURSALAAT DENGAN SURAT AN NABA'.
1. Kedua surat ini sama-sama menerangkan keadaan neraka tempat orang-orang
kafir menerima azab, dan keadaan surga tempat orang-orang yang bertakwa
merasakan ni'mat Allah.
2. Dalam surat Al Mursalaat diterangkan tentang "yauml fashl" (hari
keputusan) secara umum sedang surat An Naba' menjelaskannya.
MUQADDIMAH
Surat An Naba' terdiri atas 40 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al Ma'aarij.
Dinamai "An Naba'" (berita besar) diambil dari perkataan "An Naba'"
yang terdapat pada ayat 2 surat ini.
Dinamai juga "Amma yatasaa aluun" diambil dari perkataan "Amma yatasaa
aluun" yang terdapat pada ayat 1 surat ini.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Pengingkaran orang-orang musyrik terhadap adanya hari berbangkit
dan ancaman Allah terhadap sikap mereka itu; kekuasaan-kekuasaan
Allah yang terlihat dalam alam sebagai bukti adanya hari
berbangkit; peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari berbangkit;
azab yang diterima orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah
serta kebahagiaan yang diterima orang-orang mu'min di hari
kiamat; penyesalan orang kafir di hari kiamat.
PENUTUP
Surat An Naba' menerangkan pengingkaran orang-orang musyrik terhadap
hari berbangkit, ancaman Allah terhadap sikap mereka, azab yang mereka
terima di hari kiamat serta kebahagiaan orang-orang yang beriman.
HUBUNGAN SURAT AN NABA' DENGAN SURAT AN NAAZI'AAT.
1. Surat An Naba' menerangkan ancaman Allah terhadap sikap orang-orang
musyrik yang mengingkari adanya hari berbangkit, serta mengemukakan
bukti-bukti adanya hari berbangkit, sedang pada surat An Naazi'aat Allah
bersumpah bahwa hari kiamat yang mendahului hari berbangkit itu pasti
terjadi.
2. Sama-sama menerangkan huru-hara yang terjadi pada hari kiamat dan hari
berbangkit.
MUQADDIMAH
Surat An Naazi'aat terdiri atas 46 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyah, diturunkan sesudah surat An Naba'.
Dinamai "An Naazi'aat" (Malaikat-malaikat yang mencabut) diambil dari
perkataan "An Naazi'aat" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Dinamai pula "as Saahirah" yang diambil dari ayat 14, dinamai juga "Ath
Thaammah" diambil dari ayat 34.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Penegasan Allah tentang adanya hari kiamat dan sikap orang-
orang musyrik terhadapnya; manusia dibagi 2 golongan di akhirat;
manusia tidak dapat mengetahui kapan terjadinya saat kiamat.
II. Kisah:
Kisah Musa a.s. dengan Fir'aun.
PENUTUP
Surat An Naazi'aat mengutarakan sumpah Allah dengan menyebut malaikat
yang bermacam-macam tugasnya, bahwa hari kiamat pasti terjadi, dan
membangkitkan manusia itu adalah mudah bagi Allah, serta mengancam orang-
orang musyrik yang mengingkari kebangkitan dengan siksaan yang telah dialami
Fir'aun dan pengikut-pengikutnya. Selanjutnya surat ini menerangkan keadaan
orang-orang musyrik pada hari kiamat dan bagaimana kedahsyatan hari kiamat
itu.
HUBUNGAN SURAT AN NAAZI'AAT DENGAN SURAT 'ABASA.
Pada akhir surat An Naazi'aat ditaerangkan bahwa Nabi Muhammad s.a.w.
hanyalah pemberi peringatan kepada orang-orang yang takut dengan hari
kiamat, sedang pada permulaan surat 'Abasa dibayangkan bahwa dalam
memberikan peringatan itu hendaklah memberikan penghargaan yang sama kepada
orang-orang yang diberi peringatan dengan tidak memandang kedudukan
seseorang dalam masyarakat.
MUQADDIMAH
Surat 'Abasa terdiri atas 42 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyah, diturunkan sesudah surat An Najm.
Dinamai 'Abasa" (ia bermuka masam) diambil dari perkataan 'Abasa yang
terdapat pada ayat pertama surat ini.
Menurut riwayat, pada suatu ketika Rasulullah s.a.w. menerima dan
berbicara dengan pemuka-pemuka Quraisy yang beliau harapkan agar mereka
masuk Islam. Dalam pada itu datanglah Ibnu Ummi Maktum, seorang sahabat
yang buta yang mengharap agar Rasulullah s.a.w. membacakan kepadanya ayat-
ayat Al Qur'an yang telah diturunkan Allah. tetapi Rasulullah s.a.w.
bermuka masam dan memalingkan muka dari Ibnu Ummi Maktum yang buta itu,
lalu Allah menurunkan surat ini sebagai teguran atas sikap Rasulullah
terhadap ibnu Ummi Maktum itu.
Pokok-pokok isinya:
I. Keimanan:
Dalil-dalil keesaan Allah; keadaan manusia pada hari kiamat.
II. Dan lain-lain:
Dalam berda'wah hendaknya memberikan penghargaan yang sama
kepada orang-orang yang diberi da'wah; cercaan Allah kepada
manusia yang tidak mensyukuri ni'mat-Nya.
PENUTUP
Surat 'Abasa mengandung teguran Allah kepada Rasululah s.a.w. yang
lebih mengutamakan pembesar-pembesar Quraisy yang diharapkan agar mereka
masuk Islam daripada Ibnu Ummi Maktum yang buta, tapi telah diyakini
keimanannya; Al Qur'an adalah sebagai peringatan; dan salah satu sifat
manusia ialah tidak mensyukuri ni'mat Allah.
HUBUNGAN SURAT 'ABASA DENGAN SURAT AT TAKWIIR.
1. Sama-sama menerangkan tentang huru-hara pada hari kiamat.
2. Sama-sama menerangkan bahwa manusia pada hari kiamat terbagi dua.
3. Pada surat 'Abasa Allah s.w.t. menegur Muhammad s.a.w. sedang dalam
surat At Takwiir Allah menegaskan bahwa Muhammad s.a.w. adalah seorang
Rasul yang mulia.
MUQADDIMAH
Surat At Takwir terdiri atas 29 ayat dan termasuk golongan surat-surat
Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al Masadd. Kata "At Takwir" (terbelah)
yang menjadi nama bagi surat ini adalah dari kata asal (mashdar) dari kata
kerja "kuwwirat" (digulung) yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Pokok-pokok isinya:
Kegoncangan-kegoncangan yang terjadi pada hari kiamat; pada
hari kiamat setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerja-
kannya waktu di dunia; Al Qur'an adalah firman Allah yang disam-
paikan oleh Jibril a.s.; penegasan atas kenabian Muhammad s.a.w.;
Al Qur'an sumber petunjuk bagi umat manusia yang menginginkan
hidup lurus; suksesnya manusia dalam mencapai kehidupan yang
lurus itu tergantung kepada taufiq dari Allah.
PENUTUP
Surat At Takwiir mengemukakan tentang kejadian-kejadian pada hari kiamat
serta kebenaran Al Qur'an sebagai wahyu Allah dan kerasulan Nabi Muhammad
s.a.w.
HUBUNGAN SURAT AT TAKWIIR DENGAN SURAT AL INFITHAAR.
1. Permulaan dar kedua surat ini sama-sama mengemukakan kejadian-kejadian
yang dahsyat pada hari kiamat.
2. Pada surat At Takwiir dinyatakan bahwa tiap jiwa akan mengetahui apa-apa
yang telah dikerjakannya, kemudian pada surat Al Infithaar diulang lagi
dan ditegaskan bahwa manusia-manusia itu tidak dapat saling tolong-
menolong di akhirat.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 19 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah
dan diturunkan sesudah surat An Naazi'aat. Al Infithaar yang dijadikan
nama untuk surat ini adalah kata asal dari kata "Infatharat"(=terbelah)
yang terdapat pada ayat pertama.
Pokok-pokok isinya:
Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari kiamat; peringatan kepada
manusia agar tidak terpedaya sehingga durhaka kepada Allah; adanya
malaikat yang selalu menjaga dan mencatat segala amal perbuatan
manusia; pada hari kiamat manusia tak dapat menolong orang lain;
hanya kekuasaan Allah-lah yang berlaku pada waktu itu.
PENUTUP
Surat Al Infithaar ini menggambarkan kejadian-kejadian pada hari
kiamat, dan menerangkan keingkaran manusia kepada karunia Allah dan
bahwa segala amal perbuatan mereka itu akan mendapat pembalasan.
HUBUNGAN SURAT INI DENGAN SURAT AL MUTHAFFIFIIN.
1. Dalam surat Al Infithaar ini Allah menjelaskan adanya malaikat
yang menjaga dan mencata amal perbuatan manusia, lalu pada Surat
Al Muthaffifiin dijelaskan lagi tentang buku catatan itu.
2. Dalam surat Al Infithaar ini secara singkat diterangkan dua
golongan manusia pada hari kiamat yaitu orang-orang yang berbuat
kebajikan dan orang-orang yang berbuat kebajikan dan orang-orang
yang durhaka. Maka dalam surat Al Muthaffifiin diuraikan lebih
luas keadaan dan sifat kedua golongan manusia itu.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 36 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al 'Ankabuut dan merupakan
surat yang terakhir di Mekkah sebelum hijrah. "Al Muthaffifiin"
yang dijadikan nama bagi surat ini diambil dari kata
"Al Muthaffifiin" yang terdapat pada ayat pertama.
Pokok-pokok isinya:
Ancaman Allah s.w.t. terhadap orang-orang yang mengurangi
hak orang lain dalam timbangan, ukuran dan takaran; catatan
kejahatan manusia dicantumkan dalam sijjiin sedang catatan
kebajikan manusia dicantumkan dalam 'illiyyiin; balasan dan
macam-macam keni'matan bagi orang yang berbuat kebajikan; sikap
dan pandangan orang-orang kafir di sunia terhadap orang-orang yang
beriman; sikap orang-orang yang beriman di akhirat terhadap
orang-orang kafir.
PENUTUP
Surat Al Muthaffifiin mengandung ancaman-ancaman terhadap orang-orang
kafir dan orang-orang yang melakukan kecurangan, di samping itu
memberikan janji yang baik kepada mereka yang beriman dan melakukan
kebajikan.
HUBUNGAN SURAT AL MUTHAFFIFFIIN DENGAN SURAT AL INSYIQAAQ
1. Dalam surat Al Muthaffiffiin, Allah s.w.t. menerangkan bahwa segala
amalperbuatan manusia, yang baik maupun yang buruk tercatat dalam
suatu buku yang terpelihara. Dalam surat Al Insyiqaaq Allah s.w.t.
menjelaskan bahwa buku-buku catatan itu akan diberikan kepada
manusia pada hari kiamat dan cara bagaimana pemberiannya.
2. Dalam kedua surat ini, Allah juga menggambarkan ancaman bagi orang
yang kafir dan ganjaran yang tak terhingga bagi orang-orang yang
beriman.
MUQADDIMAH
Surat Al Insyiqaaq, terdiri atas 25 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al Infithaarr.
Dinamai "Al Insyiqaaq" (terbelah), diambil dari perkataan "Insyaqqat" yang
terdapat pada permulaan surat ini, yang pokok katanya ialah "insyiqaaq".
Pokok-pokok isinya:
Peristiwa-peristiwa pada permulaan terjadinya hari kiamat;
peringatan bahwa manusia bersusah payah menemui Tuhannya; dalam
menemui Tuhannya kelak ada yang mendapat kebahagiaan dan ada
pula yang mendapat kesengsaraan; tingkat-tingkat kejadian dan
kehidupan manusia di dunia dan di akhirat.
PENUTUP
Surat Al Insyiqaaq mengutarakan kejadian-kejadian permulaan terjadinya
hari kiamat, bagaimana balasan amaan yang baik dan perbuatan yang buruk;
dan kepastian terjadinya hari kiamat yang ditentang oleh orang-orang kafir.
HUBUNGAN SURAT AL INSYIQAAQ DENGAN SURAT AL BURUUJ.
1. Kedua surat ini sama-sama menerangkan janji-janji Allah kepada orang-
orang mu'min serta ancaman-anacaman-Nya kepada orang yang mengingkari
seruan Rasululah s.a.w.
2. Pada surat Al Insyiqaaq diterangkan sikap orang-orang musyrik terhadap
seruan rasululah s.a.w., sedang surat Al Buruuj menerangkan sikap orang-
orang musyrik dan tindakan-tindakan mereka yang biasa mereka lakukan
sejak dahulu terhadap orang-orang yang menerima seruan para rasul.
MUQADDIMAH
Surat Al Buruuj terdiri atas 22 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah diturunkan sesudah surat Asy-Syams.
Dinamai "Al Buruuj" (gugusan bintang) diambil dari perkataan
"Al Buruuj" yang terdapat pada ayat 1 surat ini.
Pokok-pokok isinya:
Sikap dan tindakan-tindakan orang-orang kafir terhadap orang-orang
yang mengikuti seruan para rasul; bukti-bukti kekuasaan dan keesaan
Allah; isyarat dari Allah bahwa orang-orang kafir Mekah akan ditimpa azab
sebagaimana kaum Fir'aun dan Tsamud telah ditimpa azab; jaminan Allah
terhadap kemurnian Al Quraan.
PENUTUP
Surat Al Buruuj mengutarakan sikap dan tindakan yang biasa dilakukan
oleh orang-orang kafir sejak dahulu kepada orang-orang yang mengikuti
seruan rasul dengan mengemukakan beberapa contoh yang telah dilakukan
oleh orang-orang yang dahulu. Kemudian Allah mengisyaratkan kemenangan
orang-orang yang beriman dan akan mengazab orang-orang kafir sebagai
bujukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan pengikut-pengikutnya dalam
menghadapi tindakan-tindakan orang-orang musyrik pada periode Mekah.
HUBUNGAN SURAT AL BURUUJ DENGAN SURAT ATH THAARIQ
1. Kedua surat ini sama-sama dimulai dengan bersumpahnya Allah
dengan menyebut langit.
2. Pada surat Al Buruuj disebutkan bahwa Al Quraan itu dijaga dan
dipelihara Allah dari segala yang dapat merusaknya, sedang surat
Ath Thaariq menerangkan bahwa Al Quraan adalah pemisah antara yang
hak dan yang batil
MUQADDIMAH
Surat Ath Thaariq terdiri atas 17 ayat, termasuk golongan surat-
surat Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al Balad.
Dinamai "Ath Thaariq" (yang datang di malam hari) diambil dari
perkataan "Ath Thaariq" yang terdapat pada ayat 1 surat ini.
Pokok-pokok isinya:
Tiap-tiap jiwa selalu dipelihara dan diawasi Allah; merenungkan
asal kejadian diri sendiri yaitu dari air mani akan menghilangkan sifat
sombong dan takabur; Allah kuasa menghidupkan manusia kembali pada hari
kiamat, pada hari itu tidak ada kekuatan yang dapat menolong selain Allah;
Al Quraan adalah pemisah antara yang hak dan yang batil.
PENUTUP
Surat Ath Thaariq menerangkan bahwa tiap-tiap diri tidak luput
dari pengawasan Allah. Sebagaimana Allah menciptakan manusia, maka Allah
dapat pula menghidupkan kembali bila ia telah mati; keterangan tentang
Al Quraan; bujukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. terhadap tipu daya orang-
orang kafir.
HUBUNGAN SURAT ATH THAARIQ DENGAN SURAT AL A'LAA
Pada surat Ath Thaariq diterangkan tentang penciptaan manusia
dan diisyaratkan pula penciptaan tumbuh-tumbuhan, sedang pada surat
Al A'laa diterangkan bahwa Allah menciptakan alam dengan sempurna dan
dengan ukuran-ukuran tertentu.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 19 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, dan diturunkan sesudah surat At Takwiir. Nama Al A'laa diambil
dari kata "Al A'laa" yang terdapat pada ayat pertama, berarti "Yang Paling
Tinggi". Muslim meriwayatkan dalam kitab Al Jumu'ah, dan diriwayatkan pula
oleh Ashhaabus Sunan, dari Nu'man ibnu Basyir bahwa Rasulullah s.a.w. pada
shalat dua hari Raya (Fitri dan Adha) dan shalat Jum'at membaca surat
Al A'laa pada rakaat pertama, dan surat Al Ghaasyiyah pada rakaat kedua.
Pokok-pokok isinya :
Perintah Allah untuk bertasbih dengan menyebut nama-Nya. Nabi
Muhammad s.a.w. sekali-kali tidak lupa pada ayat-ayat yang dibaca-
kan kepadanya. Jalan-jalan yang menjadikan orang sukses hidup
dunia dan akhirat. Allah menciptakan, menyempurnakan ciptaan-Nya,
menentukan kadar-kadar, memberi petunjuk dan melengkapi keperluan-
keperluannya sehingga tercapai tujuannya.
PENUTUP
Surat Al A'laa mengemukakan sifat-sifat Allah s.w.t dan salah satu
sifat Nabi Muhammad s.a.w. dan orang-orang yang akan mendapat kebahagiaan
di akhirat.
HUBUNGAN SURAT AL A'LAA DENGAN SURAT AL GHAASYIYAH.
Pada surat Al A'laa diterangkan secara umum tentang orang-orang
yang beriman, orang yang kafir, syurga dan neraka. Kemudian dalam surat
Al Ghaasyiyah dikemukakan kembali dengan cara yang lebih luas.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 26 ayat, termasuk surat-surat Makkiyah,
diturunkan sesudah surat Adz Dzaariat. Nama "Ghaasyiyah" diambil dari
kata "Al Ghaasyiyah" yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang
artinya peristiwa yang dahsyat, tapi yang dimaksud adalah hari kiamat.
Surat ini adalah surat yang kerap kali dibaca Nabi pada rakaat kedua
pada shalat hari-hari Raya dan shalat Jum'at.
Pokok-pokok isinya :
Keterangan tentang orang-orang kafir pada hari kiamat dan azab
yang dijatuhkan atas mereka; keterangan tentang orang-orang yang
beriman serta keadaan syurga yang diberikan kepada mereka sebagai
balasan; perintah untuk memperhatikan keajaiban ciptaan-ciptaan
Allah; perintah kepada Rasulullah s.a.w. untuk memperingatkan
kaumnya kepada ayat-ayat Allah karena beliau adalah seorang pem-
beri peringatan, dan bukanlah seorang yang berkuasa atas keimanan
mereka.
PENUTUP
Surat Al Ghaasyiyah menerangkan penderitaan orang-orang yang kafir
dan keni'matan orang-orang yang beriman pada hari kiamat.
HUBUNGAN SURAT AL GHAASYIYAH DENGAN SURAT AL FAJR.
1. Pada surat Al Ghaasyiyah, Allah menerangkan tentang orang-orang yang
pada hari kiamat tergambar di muka mereka kehinaan dan tentang orang-
orang yang bercahaya wajah mereka. Sedang pada surat Al Fajr disebutkan
beberapa kaum yang mendustakan lagi berbuat durhaka sebagai contoh dari
orang-orang yang tergambar di muka mereka kehinaan dan azab yang ditimpa
kan kepada mereka di dunia dan disebutkan pula orang yang berjiwa
muthmainnah, mereka itulah orang-orang yang wajahnya bercahaya.
2. Dalam surat Al Ghaasyiyah Allah mengemukakan orang-orang yang bercahaya
wajah mereka, sedang pada surat Al Fajr, disebutkan orang yang berjiwa
tenang di dunia karena iman dan takwanya yang nantinya di akhirat ber-
seri-seri wajah mereka.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 30 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Lail. Nama "Al Fajr" diambil dari
kata Al Fajr yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya "fajar".
Pokok-pokok isinya :
Allah bersumpah bahwa azab terhadap orang-orang kafir tidak akan
dapat dielakkan; beberapa contoh dari umat-umat yang sudah dibinasa
kan; keni'matan hidup atau bencana yang dialami oleh seseorang
bukanlah tanda penghormatan atau penghinaan Allah kepadanya,
melainkan cobaan belaka; celaan terhadap orang-orang yang tidak mau
memelihara anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin; kecaman
terhadap orang yang memakan harta warisan dengan campur aduk dan
orang yang amat mencintai harta; malapetaka yang dihadapi orang-
orang kafir di hari kiamat; orang-orang yang berjiwa muthmainnah
(tenang) mendapat kemuliaan di sisi Allah.
PENUTUP
Surat Al Fajr mengemukakan contoh umat yang ditimpa azab dan
beberapa sifat-sifat manusia yang tercela, serta menegaskan kemuliaan yang
diberikan Allah s.w.t kepada orang yang berjiwa tenang.
HUBUNGAN SURAT AL FAJR DENGAN SURAT AL BALAD.
1. Dalam surat Al Fajr terdapat celaan kepada orang yang amat mencintai
harta warisan dengan campur aduk dan tidak membantu orang-orang miskin,
sedang pada surat Al Balad dijelaskan penggunaan harta yang terpuji di
sisi Allah yaitu memerdekakan hamba sahaya, memberi makan anak yatim
dan anak-anak miskin.
2. Pada akhir surat Al Fajr manusia dibagi kepada ahli neraka dan ahli
syurga. Sedang pada surat Al Balad disebutkan bahwa manusia dibagi
kepada golongan kanan dan golongan kiri.
MUQADDIMAH
Surat Al Balad terdiri atas 20 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Qaaf.
Dinamai "Al Balad", diambil dari perkataan "Al Balad" yang terdapat
pada ayat pertama surat ini. Yang dimaksud dengan kota di sini ialah kota
Mekah.
Pokok-pokok isinya :
Manusia diciptakan Allah untuk berjuang menghadapi kesulitan;
janganlah manusia terpedaya oleh kekuasaan dan harta benda yang
banyak yang telah dibelanjakannya; beberapa peringatan kepada
manusia atas beberapa ni'mat yang telah diberikan Allah kepadanya
dan bahwa Allah telah menunjukkan jalan-jalan yang akan menyampai-
kannya kepada kebAhagiaan dan yang akan membawanya kepada kecelakaan.
PENUTUP
Surat Al Balad mengutarakan bahwa manusia haruslah bersusah payah
mencari kebahagiaan dan Allah sendiri telah menunjukkan jalan yang membawa
kepada kebaikan, dan jalan yang membawa kepada kesengsaraan. Tuhan meng-
gambarkan bahwa jalan yang membawa kepada kebahagiaan itu lebih sulit
menempuhnya daripada yang membawa kepada kesengsaraan.
HUBUNGAN SURAT AL BALAD DENGAN SURAT ASY SYAMS.
1. Kedua-dua surat ini sama-sama menerangkan bahwa Allah telah menunjukkan
kepada manusia dua buah jalan yaitu jalan yang pada surat Asy Syams
disebut jalan kefasikan dan jalan ketakwaan.
2. Pada surat Asy Syams ditegaskan bahwa orang yang menjalani jalan ketakwa-
an itu akan berbahagia dan orang yang menjalani jalan kefasikan itu akan
merugi.
MUQADDIMAH
Surat Asy Syams terdiri atas 15 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Qadar.
Dinamai "Asy Syams" (matahari) diambil dari perkataan Asy Syams yang
terdapat pada ayat permulaan surat ini.
Pokok-pokok isinya :
Kaum Tsamud telah dihancurkan Allah karena kedurhakaannya. Tuhan
membayangkan bahwa hal ini adalah mudah bagi-Nya, sebagaimana mudah-
nya menciptakan benda-benda alam, siang dan malam, dan menciptakan
jiwa yang tersebut dalam sumpah-Nya; Allah memberitahukan kepada
manusia jalan ketakwaan dan jalan kekafiran; manusia mempunyai
kebebasan memilih antara kedua jalan itu.
PENUTUP
Surat Asy Syams berisi dorongan kepada manusia untuk membersihkan
jiwanya agar mendapat keberuntungan di dunia dan di akhirat dan menyatakan
bahwa Allah akan menimpakan azab kepada orang-orang yang mengotori jiwanya
seperti halnya kaum Tsamud.
HUBUNGAN SURAT ASY SYAMS DENGAN SURAT AL LAIL.
Surat Asy Syams menerangkan bahwa orang yang mensucikan jiwanya
akan memperoleh keberuntungan dan orang yang mengotori jiwanya akan diazab
Allah, sedang surat Al Lail menerangkan perbuatan yang mensucikan jiwa itu
sehingga menghasilkan keuntungan dan perbuatan yang mengotorkan jiwa
sehingga menghasilkan kerugian.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 21 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al A'laa.
Surat ini dinamai "Al Lail" (malam), diambil dari perkataan "Al Lail"
yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Pokok-pokok isinya:
Usaha manusia itu berlainan, karena itu balasannya berlainan
pula; orang yang suka berderma, bertakwa dan membenarkan adanya
pahala yang baik dimudahkan Allah baginya melakukan kebaikan
yang membawa kepada kebahagiaan di akhirat, tetapi orang yang
dimudahkan Allah baginya melakukan kejahatan-kejahatan yang
membawa kepada kesengsaraan di akhirat, harta benda tidak akan
akan memberi manfaat kepadanya; orang yang bakhil merasa dirinya
cukup dan mendustakan adanya pahala yang baik.
PENUTUP
Surat Al Lail menerangkan bahwa amalan-amalan yang dikerjakan dengan
tulus ikhlas semata-mata mencari keridhaan Allah itulah yang membawa
kebahagiaan di akhirat kelak.
HUBUNGAN SURAT AL LAIL DENGAN SURAT ADH DHUHAA.
Pada surat Al Lail diterangkan bahwa orang yang taqwa akan dimudahkan
Allah mengerjakan prbuatan taqwa sehingga memperoleh kebahagiaan. Sedang
pada surat Adh Dhuhaa diterangkan bahwa keberuntungan di akhirat lebih baik
dari keberuntungan di dunia.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 11 ayat, termasuk golongan surat Makiyyah
dan diturunkan sesudah surat Al Fajr. Nama "Adh Dhuhaa" diambil dari kata
yang terdapat pada ayat pertama, artinya : waktu matahari sepenggalahan
naik.
Pokok-pokok Isinya :
Allah s.w.t. sekali-kali tidak akan meninggalkan Nabi Muhammad s.a.w
Isyarat dari Allah s.w.t. bahwa kehidupan Nabi Muhammad s.a.w. dan
da'wahnya akan bertambah baik dan berkembang; larangan menghina
anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta dan perintah
menyebut-nyebut ni'mat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur.
PENUTUP
Surat Adh Dhuhaa, menerangkan tentang bimbingan pemeliharaan
Allah s.w.t. terhadap Nabi Muhammad s.a.w. dengan cara yang tak putus-
putusnya dan mengandung pula perintah kepada Nabi supaya mensyukuri
segala ni'mat itu.
HUBUNGAN SURAT ADH DHUHAA DENGAN SURAT ALAM NASYRAH
1. Kedua surat ini amat erat hubungannya karena sama-sama ditujukan
kepada Nabi Muhammad s.a.w.
2. Kedua surat ini sama-sama menerangkan ni'mat Allah dan memerintah-
kan kepada Nabi untuk mensyukuri ni'mat itu.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyah dan diturunkan sesudah surat Adh Dhuhaa. Nama "Alam Nasyrah" diambil
dari kata "Alam Nasyrah" yang terdapat pada ayat pertama, yang berarti:
bukankah Kami telah melapangkan.
Pokok-pokok isinya:
Penegasan tentang ni'mat-ni'mat Allah s.w.t. yang diberikan
kepada Nabi Muhammad s.a.w., dan pernyataan Allah bahwa di-
samping kesukaran ada kemudahan karena itu diperintahkan kepada
Nabi agar tetap melakukan amal-amal saleh dan bertawakkal
kepada-Nya.
PENUTUP
Surat Alam Nasyrah ini merupakan tasliyah (penghibur hati) bagi
Nabi Muhammad s.a.w.
HUBUNGAN SURAT ALAM NASYRAH DENGAN SURAT AT TIIN.
Dalam surat Alam Nasyrah, Allah s.w.t. menjelaskan perintah kepada Nabi
Muhammad s.a.w selaku manusia sempurna. Maka dalam surat At Tiin,
diterangkan bahwa manusia itu adalah makhluk Allah yang mempunyai
kesanggupan baik lahir maupun batin. Kesanggupannya itu menjadi kenyataan
bilamana mereka mengikuti jejak Nabi Muhammad s.a.w
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al Buruuj.
Nama At Tiin diambil dari kata "At Tiin" yang terdapat pada ayat pertama
surat ini yang artinya buah Tin.
Pokok-pokok isinya:
Manusia makhluk yang terbaik rohaniah dan jasmaniah, tetapi
mereka akan dijadikan orang yang amat rendah jika tidak
beriman dan beramal saleh; Allah adalah Hakim Yang Maha Adil.
PENUTUP
Surat At Tiin menerangkan kedudukan manusia dan keadilan Allah s.w.t.
HUBUNGAN SURAT AT TIIN DENGAN SURAT AL 'ALAQ.
1. Surat At Tiin menerangkan bentuk kejadian manusia dan surat Al 'Alaq
menerangkan bahwa manusia dijadikan pada permulaannya dari segumpal
darah.
2. Pada surat Al 'Alaq dijelaskan lagi beberapa sifat-sifat manusia yang
menjadikan mereka hina dan sengsara, dan sifat-sifat manusia yang
menjadikan mereka berbahagia.
MUQADDIMAH
Surat Al 'Alaq terdiri atas 19 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyah. Ayat 1 sampai dengan 5 dari surat ini adalah ayat-ayat Al Qur'an
yang pertama sekali diturunkan, yaitu di waktu Nabi Muhammad s.a.w.
berkhalwat di gua Hira'.
Surat ini dinamai "Al 'Alaq" (segumpal darah), diambil dari perkataan
"Alaq" yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Surat ini dinamai juga dengan
"Iqra" atau "Al Qalam".
Pokok-pokok isinya:
Perintah membaca Al Qur'an; manusia dijadikan dari segumpal
darah; Allah menjadikan kalam sebagai alat mengembangkan
pengetahuan; manusia bertindak melampaui batas karena merasa
dirinya serba cukup; ancaman Allah terhadap orang-orang kafir
yang menghalang-halangi kaum muslimin melaksanakan perintah-Nya.
PENUTUP
Surat Al 'Alaq menerangkan bahwa Allah menciptakan manusia dari benda
yang hina kemudian memuliakannya dengan mengajar membaca, menulis dan
memberinya pengetahuan. Tetapi manusia tidak ingat lagi akan asalnya,
karena itu dia tidak mensyukuri ni'mat Allah itu, bahkan dia bertindak
melampaui batas karena melihat dirinya telah merasa serba cukup.
HUBUNGAN SURAT AL 'ALAQ DENGA SURAT AL QADR.
Pada surat Al 'Alaq Allah memerintahkan agar Rasulullah s.a.w. membaca
Al Qur'an, sedang pada surat Al Qadr Allah menerangkan tentang permulaan
turunnya Al Qur'an.
MUQADDIMAH
Surat Al Qadr terdiri atas 5 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyah, diturunkan sesudah surat 'Abasa.
Surat ini dinamai "Al Qadr" (kemuliaan), diambil dari perkataan
"Al Qadr" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Pokok-pokok isinya:
Al Qur'an dimulai diturunkan pada malam Lailatul Qadr, yang
nilainya lebih dari seribu bulan; para malaikat dan Jibril
turun ke dunia pada malam Lailatul Qadr untuk mengatur segala
urusan.
PENUTUP
Pada surat Al Qadr ini diterangkan bahwa permulaan Al Qur'an diturunkan
ialah pada malam lailatul Qadr dan diterangkan juga ketinggian malam
lailatul Qadr itu.
HUBUNGAN SURAT AL QADR DENGAN SURAT AL BAYYINAH.
Surat Al Qadr menerangkan tentang permulaan Al Qur'an diturunkan, sedang
surat Al Bayyinah menerangkan salah satu sebab Allah menurunkan Al Qur'an.
MUQADDIMAH
Surat Al Bayyinah terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surat-surat
Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ath Thalaq.
Dinamai "Al Bayyinah" (bukti yang nyata) diambil dari perkataan "Al
Bayyinah" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Pokok-pokok isinya:
Pernyataan dari ahli Kitab dan orang-orang musyrik bahwa mereka
akan tetap dalam agamanya masing-masing sampai datang nabi yang
telah dijanjikan oleh Tuhan. Setelah Nabi Muhammad s.a.w. datang,
mereka terpecah belah, ada yang beriman dan ada yang tidak,
padahal Nabi yang datang itu sifat-sifatnya sesuai dengan
sifat-sifat yang mereka kenal pada kitab-kitab mereka dan
membawa ajaran yang benar yaitu ikhlas dalam beribadah,
mendirikan sembahyang, menunaikan zakat.
PENUTUP
Dalam surat ini Allah menerangkan bahwa ajaran Muhammad s.a.w. adalah
ajaran yang benar dan agama yang dibawanya adalah agama yang lurus yang
mencakup pokok-poko ajaran yang dibawa nabi-nabi yang dahulu.
HUBUNGAN SURAT AL BAYYINAH DENGA SURAT AZ ZALZALAH.
Pada surat Al Bayyinah diterangkan orang yang akan mendapat balasan
yang baik dan orang yang akan mendapat siksa, sedang surat Az Zalzalah
menerangkan kapan datangnya balasan itu.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surat-surat
Madaniyyah diturunkan sesudah surat An Nisaa'. Nama "Az Zalzalah" diambil
dari kata: "Zilzaal" yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang berarti
goncangan.
Pokok-pokok isinya:
Kegoncangan bumi yang amat hebat pada hari kiamat dan
kebingungan manusia ketika itu; manusia pada hari kiamat itu
dikumpulkan untuk dihisab segala amal perbuatan mereka.
PENUTUP
Surat Az Zalzalah menerangkan tanda-tanda permulaan hari kiamat dan
pada hari itu manusia akan melihat sendiri hasil perbuatan mereka, baik
ataupun buruk, meskipun sebesar dzarrah.
HUBUNGAN SURAT AZ ZALZALAH DENGAN SURAT AL 'AADIYAAT.
Surat Az Zalzalah menerangkan balasan atas perbuatan yang baik dan
yang buruk, sedang pada surat Al 'Aadiyat Allah s.w.t. mencela orang-orang
yang telah mencintai kehidupan dunia dan mengabaikan kehidupan akhirat dan
tidak mempersiapkan diri mereka untuk kehidupan akhirat itu dengan amal
kebajikan.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 11 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah,
diturunkan sesudah surat Al'Ashr. Nama "Al 'Aadiyaat" diambil dari kata
"Al 'Aadiyaat" yang terdapat pada ayat pertama surat ini, artinya yang
berlari kencang.
Pokok-pokok isinya:
Ancaman Alllah s.w.t. kepada manusia yang ingkar dan yang
sangat mencintai harta benda bahwa mereka akan mendapat balasan
yang setimpal di kala mereka dibangkitkan dari kubur dan di
kala isi dada mereka ditampakkan.
PENUTUP
Surat Al 'Aadiyaat menjelaskan sifat-sifat buruk manusia dan
kebangkitan mereka serta pembalasan kepada mereka pada hari kiamat.
HUBUNGAN SURAT AL 'AADIYAAT DENGAN SURAT AL QAARI'AH.
Surat Al 'Aadiyaat ditutup dengan penyebutan hari kiamat, sedang
Surat Al Qaari'ah seluruhnya menjelaskan tentang hari kiamat itu.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 11 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Quraisy. Nama "Al Qaari'ah" diambil
dari kata "Al Qaari'ah" yang terdapat pada ayat pertama, artinya mengetok
dengan keras, kemudian kata ini dipakai untuk nama hari kiamat.
Pokok-pokok isinya:
Kejadian-kejadian pada hari kiamat, yaitu manusia bertebaran,
gunung berhamburan, amal perbuatan manusia ditimbang dan dibalasi.
PENUTUP
Surat Al Qaari'ah, seluruhnya menjelaskan hal-hal yang akan terjadi di
hari kiamat.
HUBUNGAN SURAT AL QAARI'AH DENGAN SURAT AT TAKAATSUR.
Dalam surat Al Qaari'ah dijelaskan golongan orang-orang yang masuk
surga dan golongan yang masuk neraka, sedang pada surat At Takaatsur
diterangkan salah satu sebab yang membawa orang masuk neraka.
MUQADDIMAH
Surat At Takaatsur terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Kautsar.
Dinamai "At Takaatsur" (bermegah-megahan) diambil dari perkataan
At Takaatsur yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Pokok-pokok isinya:
Keinginan manusia untuk bermegah-megahan dalam soal duniawi,
sering melalaikan manusia dari tujuan hidupnya. Dia baru
menyadari kesalahannya itu setelah maut mendatanginya; manusia
akan ditanya di akhirat tentang nikmat yang dibangga-banggakannya.
PENUTUP
Surat ini mengemukakan celaan dan ancaman terhadap orang-orang yang
bermegah-megahan dengan apa yang diperolehnya dan tidak membelanjakannya di
jalan Allah. Mereka pasti diazab dan pasti akan ditanya tentang apa yang
dimegah-megahkannya itu.
HUBUNGAN SURAT AT TAAKATSUR DENGAN SURAT AL 'ASHR.
1. Pada surat At Taakatsur Allah menerangkan keadaan orang yang bermegah-
megahan dan disibukkan oleh harta harta benda sehingga lupa mengingat
Allah, sedang surat Al 'Ashr menerangkan bahwa manusia akan merugi,
kecuali mereka beriman, beramal saleh dan nasehat menasehati dalam
kebenaran dan kesabaran.
2. Pada surat At Taakatsur Allah menerangkan sifat orang yang mengikuti
hawa nafsunya, sedang pada surat Al 'Ashr menerangkan sifat orang-
orang yang tidak merugi.
MUQADDIMAH
Surat Al 'Ashr terdiri atas 3 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Alam Nasyrah.
Dinamai "Al 'Ashr" (masa) diambil dari perkataan Al 'Ashr yang
terdapat pada ayat pertama surat ini.
Pokok-pokok isinya:
Semua manusia berada dalam keadaan merugi apabila dia tidak
mengisi waktunya dengan perbuatan-perbuatan baik.
PENUTUP
Surat ini menerangkan bahwa manusia yang tidak dapat menggunakan
masanya dengan sebaik-baiknya termasuk golongan yang merugi.
HUBUNGAN SURAT AL 'ASHR DENGAN SURAT AL HUMAZAH.
Pada surat Al 'Ashr Allah menerangkan sifat-sifat orang yang tidak
merugi, sedang dalam surat Al Humazah Allah menerangkan bberapa sifat
orang yang selalu merugi.
MUQADDIMAH
Surat Al Humazah terdiri atas 9 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Qiyaamah.
Dinamai "Al Humazah" (pengumpat) diambil dari perkataan "Humazah"
yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Pokok-pokok isinya:
Ancaman Allah terhadap orang-orang yang suka mencela orang
lain, suka mengumpat dan suka mengumpulkan harta tetapi
tidak menafkahkannya di jalan Allah.
PENUTUP
Dalam surat ini diterangkan bahwa orang-orang yang suka mencela orang-
orang lain, suka memfitnah dan suka mengumpulkan harta tetapi tidak
dinafkahkannya di jalan Allah, akan diazab.
HUBUNGAN SURAT AL HUMAZAH DENGAN SURAT AL FIIL.
Dalam surat Humazah diterangkan bahwa harta tidak berguna sedikitpun
untuk menghadapi kekuasaan Allah, sedang surat Al Fiil menerangkan bahwa
tentara gajah dengan segala macam perlengkapan perangnya tidak dapat
menghadapi kekuasaan Allah.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 5 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah,
diturunkan sesudah surat Al Kaafiru. Nama "Al Fiil" diambil dari kata
"Al Fiil" yang terdapat pada ayat pertama surat ini, artinya "gajah".
Surat Al Fiil mengemukakan cerita pasukan bergajah dari Yaman yang
dipimpin oleh Abrahah yang ingin meruntuhkan Ka'bah di Mekah. Peristiwa
ini terjadi pada tahun Nabi Muhammad s.a.w. dilahirkan.
Pokok-pokok isinya:
Cerita tentang pasukan bergajah yang diazab oleh Allah s.w.t.
dengan mengirimkan sejenis burung yang menyerang mereka sampai
binasa.
PENUTUP
Surat Al Fiil ini menjelaskan tentang kegagalan pasukan bergajah yang
dipimpin oleh Abrahah, karena Ka'bah dipelihara oleh Allah s.w.t.
HUBUNGAN SURAT AL FIIL DENGAN SURAT QURAISY.
Dalam surat Al Fiil, Allah s.w.t. menjelaskan kehancuran pasukan
bergajah yang hendak merobohkan Ka'bah, sedang dalam surat Quraisy Allah
memerintahkan kepada penduduk Mekah untuk menyembah Allah pemilik Ka'bah
itu.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 4 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah
dan diturunkan sesudah surat At Tiin. Nama "Quraisy" diambil dari kata
"Quraisy" yang terdapat pada ayat pertama, artinya suku Quraisy. Suku
Quraisy adalah suku yang mendapat kehormatan untuk memelihara Ka'bah.
Pokok-pokok isinya:
Peringatan kepada orang Quraisy tentang ni'mat-ni'mat yang
diberikan Allah kepada mereka karena itu mereka diperintahkan
untuk menyembah Allah.
PENUTUP
Surat Quraisy menerangkan kehidupan orang Quraisy serta kewajiban yang
seharusnya mereka penuhi.
HUBUNGAN SURAT QURAISY DENGAN SURAT AL MAA'UUN.
1. Dalam surat Quraisy, Allah menyatakan, bahwa Dia membebaskan manusia
dari kelaparan, maka dalam surat Al Maa'uun Allah mencela orang yang
tidak menganjurkan dan tidak memberi makan orang miskin.
2. Dalam surat Quraisy Allah memerintahkan menyembah-Nya maka dalam surat
Al Maa'uun Allah mencela orang yang shalat dengan lalai dan riya.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 7 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah,
diturunkan sesudah surat At Taakatsur. Nama "Al Maa'uun" diambil dari kata
"Al Maa'uun" yang terdapat pada ayat 7, artinya barang-barang yang berguna.
Pokok-pokok isinya:
Beberapa sifat manusia yang dipandang sebagai mendustakan agama.
Ancaman terhadap orang-orang yang melakukan shalat dengan lalai
dan riya.
PENUTUP
Surat Al Maa'uun menjelaskan sifat-sifat manusia yang buruk yang
membawa mereka ke dalam kesengsaraan.
HUBUNGAN SURAT AL MAA'UUN DENGAN SURAT AL KAUTSAR.
Dalam surat Al Maa'uun dikemukakan sifat-sifat manusia yang buruk,
sedang dalam surat Al Kautsar ditunjukkan sifat-sifat yang mulia, yang
diperintahkan mengerjakannya.
MUQADDIMAH
Surat Al Kautsar terdiri atas 3 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah diturunkan sesudah surat Al 'Aadiyaat. Dinamai "Al Kautsar"
(ni'mat yang banyak) diambil dari perkataan "Al Kautsar" yang terdapat pada
ayat pertama surat ini.
Surat ini sebagai penghibur hati Nabi Muhammad s.a.w.
Pokok-pokok isinya:
Allah telah melimpahkan ni'mat yang banyak karena itu
bersembahyang dan berkorbanlah; Nabi Muhammad s.a.w. akan
mempunyai pengikut yang yang banyak sampai hari kiamat dan
akan mempunyai nama yang baik di dunia dan di akhirat, tidak
sebagai yang dituduhkan pembenci-pembencinya.
PENUTUP
Surat ini menganjurkan agar orang selalu beribadah kepada Allah dan
berkorban sebagai tanda bersyukur atas ni'mat yang telah dilimpahkan-Nya.
HUBUNGAN SURAT AL KAUTSAR DENGAN SURAT AL KAAFIRUUN.
Dalam surat Al Kautsar Allah memerintahkan agar memperhambakan diri
kepada Allah, sedang dalam surat Al Kaafiruun perintah tersebut ditandaskan
lagi.
MUQADDIMAH
Surat Al Kaafiruun terdiri atas 6 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Maa'uun.
Dinamai "Al Kaafiruun" (orang-orang kafir), diambil dari perkataan
"Al Kaafiruun" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Pokok-pokok isinya:
Pernyataan Tuhan yang disembah Nabi Muhammad s.a.w. dan
pengikut-pengikutnya bukanlah apa yang disembah oleh orang-
orang kafir, dan Nabi Muhammad s.a.w. tidak akan menyembah
apa yang disembah oleh orang-orang kafir.
PENUTUP
Surat Al Kaafiruun mengisyaratkan tentang habisnya semua harapan orang-
orang kafir dalam usaha mereka agar Nabi Muhammad s.a.w. meninggalkan
da'wahnya.
HUBUNGAN SURAT AL KAAFIRUUN DENGAN SURAT AN NASHR.
Surat Al Kaafiruun menerangkan bahwa Rasulullah s.a.w. tidak akan
mengikuti agama orang-orang kafir, sedang dalam surat An Nashr diterangkan
bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. akan berkembang dan menang.
MUQADDIMAH
Surat An Nashr terdiri atas 3 ayat, termasuk golongan surat-surat
Madaniyyah yang diturunkan di Mekah sesudah surat At Taubah.
Dinamai "An Nashr" (pertolongan) diambil dari perkataan "Nashr" yang
terdapat pada ayat pertama surat ini.
Pokok-pokok isinya:
Janji bahwa pertolongan Allah akan datang dan Islam akan
mendapat kemenangan; perintah dari Tuhan agar bertasbih memuji-Nya,
dan minta ampun kepada-Nya di kala terjadi peristiwa yang
menggembirakan.
PENUTUP
Surat ini mengisyaratkan bahwa tugas Nabi Muhammad s.a.w. sebagai
Rasul telah mendekati akhirnya.
HUBUNGAN SURAT AN NASHR DENGAN SURAT AL LAHAB.
Surat An NAshr menerangkan tentang kemenangan yang diperoleh Nabi
Muhammad s.a.w. dan pengikut-pengikutnya, seang surat Al Lahab menerangkan
tentang kebinasaan dan siksaan yang akan diderita oleh Abu Lahab dan
isterinya sebagai orang-orang yang menentang Nabi.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 5 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah,
diturunkan sesudah surat Al Fath. Nama "Al Lahab" diambil dari kata
"Al Lahab" yang terdapat pada ayat ketiga surat ini yang artinya gejolak
api. Surat ini juga dinamakan surat "Al Masad".
Pokok-pokok isinya:
Cerita Abu Lahab dan isterinya yang menentang Rasul s.a.w.
Keduanya akan celaka dan masuk neraka. Harta Abu Lahab, tak
berguna untuk keselamatannya demikian pula segala usaha-usahanya.
PENUTUP
Surat Al Lahab menjelaskan kegagalan lawan-lawan Muhammad s.a.w.
HUBUNGAN SURAT AL LAHAB DEGAN SURAT AL IKHLASH.
Surat Al Lahab mengisyaratkan bahwa kemusyrikan itu tidak dapat
dipertahankan dan tidak akan menang walaupun pendukung-pendukungnya bekerja
keras. Surat Al Ikhlash mengemukakan bahwa tauhid dalam Islam adalah tauhid
yang semurni-murninya.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 4 ayat, termasuk golongan surat-surat
Makkiyyah, diturunkan sesudah sesudah surat An Naas. Dinamakan "Al Ikhlas"
karena surat ini sepenuhnya menegaskan kemurnian keesaan Allah s.w.t.
Pokok-pokok isinya:
Penegasan tentang kemurnian keesaan Allah s.w.t. dan menolak
segala macam kemusyrikan dan menerangkan bahwa tidak ada sesuatu yang
menyamai-Nya.
PENUTUP
Surat Al Ikhlas ini menegaskan kemurnian keesaan Allah s.w.t.
HUBUNGAN SURAT AL IKHLAS DENGAN SURAT AL FALAQ.
Surat Al Ikhlas menegaskan kemurnian Allah s.w.t. sedang surat
Al Falaq memerintahkan agar semata-mata kepada-Nya-lah orang memohon
perlindungan dari segala macam kejahatan.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 5 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah,
diturunkan sesudah surat Al Fiil. Nama "Al Falaq" diambil dari kata Al Falaq
yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya waktu subuh.
Diriwayatkan oleh Abu Daud, At Tirmizi dan An Nasa-i dari 'Uqbah bin
'Aamir bahwa Rasulullah s.a.w. bersembahyang dengan membaca surat Al Falaq
dan surat An Naas dalam perjalanan.
Pokok-pokok isinya:
Perintah agar kita berlindung kepada Allah s.w.t. dari segala macam kejahatan.
PENUTUP
Surat Al Falaq memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk
memohon perlindungan kepada Allah s.w.t. dari segala kejahatan.
HUBUNGAN SURAT AL FALAQ DENGAN SURAT AN NAAS.
1. Kedua-duanya sama-sama mengajarkan kepada manusia, hanya kepada Allah-
lah menyerahkan perlindungan diri dari segala kejahatan.
2. Surat Al Falaq memerintahkan untuk memohon perlindungan dari segala
bentuk kejahatan, sedang surat An Naas memerintahkan untuk memohon
perlindungan dari jin dan manusia.
MUQADDIMAH
Surat ini terdiri atas 6 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah,
diturunkan sesudah surat Al Falaq. Nama "An Naas" diambil dari "An Naas"
yang berulang kali disebut dalam surat ini yang artinya manusia.
Pokok-pokok isinya:
Perintah kepada manusia agar berlindung kepada Allah dari
segala macam kejahatan yang datang ke dalam jiwa manusia dari
jin dan manusia.
PENUTUP
Al Qur'an dimulai dengan surat Al Faatihah yang diantara isinya ialah
agar manusia memohon hidayat ke jalan yang lurus dan memohon pertolongan
dari Allah s.w.t. dan diakhiri dengan surat An Naas yang menganjurkan agar
manusia memohon perlindungan kepada Allah dari segala kejahatan.