Silahkan tunggu, data halaman sedang diproses
Fiqih Ibadah  ( Pembahasan Materi )
 
Bersama
KH. Ahmad Kosasih M.Ag
 
No.urut Upload : 217 Sebelumnya Terlama

(Lanjutan Tayammum)

Tayammum hanya dapat digunakan untuk satu kali sholat fardhu saja sekalipun belum mengalami hadats atau batal tayammumnya. Seperti seseorang yang melaksanakan sholat maghrib dengan tayammum maka untuk melaksanakan sholat isya’ harus bertayammum kembali sekalipun setelah sholat maghrib dia tidak mengalami hadats. Hal ini didasari atas pernyataan Ibnu Abbas: Termasuk sunnah Rasul bahwa tayammum hanya dapat digunakan untuk satu kali sholat wajib.

Ketentuan ini berlaku tidak hanya pada sholat wajib saja akan tetapi berlaku pula pada ibadah-ibadah wajib lainnya seperti thawaf wajib dan khutbah Jum’at. Maka seseorang yang sudah melaksanakan sholat wajib dengan tayammum dan ingin melaksanakan ibadah wajib lainya seperti sholat wajib qodho, sholat nazar, atau thawaf wajib ia harus bertayammum lagi sekalipun belum mengalami hadats. Demikian pula seseorang yang melaksanakan khutbah Jum’at maka untuk melaksanakan sholat Jum’at dia harus bertayammum lagi. Berbeda halnya dengan sholat jenazah sekalipun termasuk fardhu kifayah namun secara hukum ia dikelompokkan ke dalam sholat-sholat sunnat sehingga boleh dilakukan beberapa kali sholat jenazah dengan satu kali tayammum, atau boleh dilakukan beriringaan dengan satu sholat wajib tanpa harus bertayammum lagi. Demikianlah, sholat-sholat sunnat atau ibadah-ibadah sunnat lainnya dapat dilakukan tanpa dibatasi jumlahnya dengan satu kali tayammum, karena jika diharuskan bertayammum untuk setiap sholat sunnat akan menimbulkan beban yang akan mengakibatkan orang meninggalkannya. Oleh karena itu dalam sholat-sholat sunnat banyak terdapat keringanan seperti dibolehkan melaksanakannya sambil duduk sekalipun mampu berdiri, dan dalam perjalanan jauh dibolehkan melaksanakannya sambil menaiki kendaraan sekalipun tidak menghadap kiblat. Yang demikian itu agar sholat-sholat sunnat rutin dilaksanakan.
Apabila seseorang yang mengalami junub/hadats besar atau mengalami hadats kecil memiliki air yang tidak cukup untuk menghilangkan hadatsnya dia wajib menggunakan air tersebut kemudian bertayammum untuk menggantikan kekurangan air bagi anggota badan yang tidak terbasuh. Apabila seseorang yang berhadats  besar atau kecil dan terdapat najis pada badannya namun air yang dimiliki hanya cukup untuk membersihkan salah satunya saja, menghilangkan hadats atau membersihkan najis saja dia wajib menggunakan air tersebut untuk membersihkan najis saja kemudian bertayammum untuk mengangkat hadatsnya. Yang demikian itu karena pembersihan najis tidak ada penggantinya, berbeda dengan menghilangkan hadats baik wudhu maupun mandi ada penggantinya yaitu tayammum.
Apabila seseorang berada dalam kondisi tidak memiliki air dan tidak menemukan debu padahal waktu sholat sudah masuk dia wajib melaksanakan sholat sekalipun tanpa berwudhu dan tayammum untuk menghormati waktu sholat yang sudah masuk tersebut. Secara hukum sholatnya dianggap sah, artinya sudah menggugurkan kewajiban sholatnya. Akan tetapi apabila dia menemukan air maka sholat tersebut wajib diulangi sekalipun waktu sholat tersebut sudah habis atau sudah berselang dengan waktu sholat yang lain.

 

Saat ini Form untuk dapat mengirimkan pertanyaan seputar Fiqih Ibadah sedang dalam proses upload, Terimakasih.
 
Total Pages Visited ( 1.834.821 ) www.wisatahati.com