Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt. yang telah memberikan kesempatan kepada kami, Wisatahati, untuk menyampaikan kepada umat kandungan Alqur`an yang kami kutip dari beberapa kitab tafsir yang diakui antara lain Tafsiir al-Qur`aan al-'Azhiim karangan Ibnu Katsir, Ad-Durr al-Mantsuur fii at-Ta`wiil bi al-Ma`tsuur karangan Jalaluddin Assayuthi, Aysar at-Tafaasiir karangan Abu Bakar al-Jazairi, Jaami' al-Bayaan fii Ta`wiil al-Qur`aan karangan Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Tafsiir al-Maraaghi karangan Ahmad Mushthafa al-Maraghi. Kami menyadari keterbatasan kami dalam bidang ini, namun demi sampainya ajaran-ajaran dan tuntunan Alqur`an kepada umat kami berupaya semaksimal mungkin untuk menghadirkan kandungan Kitab Suci ini di hadapan umat dengan bahasa yang sederhana.
Penyampaian tafsir ini kami lakukan dengan mengikuti urutan ayat-ayat dan surah-surah di dalam Kitab Suci Alqur`an. Setiap ayat yang akan kami tafsirkan terlebih dahulu kami tulis teks ayatnya  dengan disertai terjemahnya yang kami kutip dari Alqur`an dan Terjemahnya yang disahkan oleh Departemen Agama R.I.
Mudah-mudahan rubrik sederhana ini dapat memberi manfaat yang besar bagi kita semua. Kritik dan saran Anda akan sangat berarti bagi peningkatan rubrik ini. Terimakasih dan salam Wisatahati.

(1). Surah al-Fatihah:

  

(1). Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Bismillah dijadikan sebagai ayat pertama dari seluruh ayat Alqur`an yang berjumlah 6236 ayat. Hal itu mengajarkan kita bahwa sepanjang hidup kita yang berpedoman kepada Alqur`an harus memulai setiap kegiatan dan aktifitas kita dengan mengucap bismillah untuk memohon pertolongan Allah agar bisa menunaikan setiap pekerjaan secara baik dan mendapat berkah. 
Bagi setiap orang yang hendak membaca surah Alqur`an dianjurkan untuk membaca bismillah terlebih dahulu sekalipun di dalam shalat, kecuali ketika hendak membaca surah at-Taubah maka tidak dianjurkan membacanya.
Disunnatkan pula membaca bismillah ketika hendak makan, minum,mengenakan pakaian, ketika memasuki dan keluar dari masjid, ketika menaiki kendaraan, dan ketika hendak mengerjakan pekerjaan apa saja yang baik sekalipun tidak penting. Rasulullah saw. bersabda: "Setiap urusan yang tidak diawali dengan membaca bismillah hasilnya akan kehilangan keberkahan". (al-Jaami' al-Shaghiir)
Allah adalah nama Zat Yang Maha Suci yang patut disembah dengan sebenar-benarnya dan berhak dipuji dan ditaati. Tidak ada selain Allah swt. yang berhak dipuji dan disembah karena selain Dia adalah makhluk-Nya.
Al-rahmaan al-rahiim. Kedua kata tersebut mempunyai arti yang berbeda meskipun keduanya berasal dari kata al-rahmah. Al-rahmaan berarti pemberi rahmat kepada seluruh makhluk-Nya tanpa membedakan antara makhluk berakal dan yang tidak, antara manusia yang baik dan yang jahat, antara yang beriman dan yang tidak. Akan tetapi rahmat yang diberikan itu merupakan rahmat-rahmat yang kecil dan rendah seperti susunan tubuh, makan-minum, istri, anak keturunan, kesehatan, kekayaan, dan lain-lain yang sifatnya duniawi. Al-rahiim mengandung arti pemberi rahmat terbesar yang tidak dapat dinilai dengan seluruh harta-kekayaan dan kekal abadi. Rahmat tersebut berupa hidayah atau petunjuk ke jalan yang lurus yang mengantarka seseorang kepada beriman kepada Allah swt. dan Rasul-Nya, kemudian di akhirat disediakan surga oleh Allah swt. dengan berbagai kenikmatan yang tidak pernah terlintas dalam bayangan manusia. Bahkan hanya rahmat Allah-lah yang akan menghantarkan seseorang masuk ke dalam surga sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya: "Tidak seorangpun yang akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah". Para sahabat bertanya: "Bahkan engkau wahai Rasulullah?" Rasulullah saw. menjawab: "Bahkan saya kecuali apabila Allah swt/ melimpahkan rahmat-Nya kepada saya". (HR. Ahmad).

  

(2). Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Pada ayat kedua dari surah al-Fatihah ini Allah swt. menyatakan bahwa semua bentuk pujian, keagungan, dan kesempurnaan hanya milik Allah Yang Maha Esa, tidak ada sesuatu yang menyamainya karena Dia-lah Tuhan segala sesusatu dan Pencipta segala sesuatu serta Pemiliknya. Rabb (Tuhan) berarti Tuhan  Yang ditaati, Yang Memiliki, dan Yang Memelihara.  'Aalamiin (semesta alam): Semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam seperti alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah swt. Pencipta semua alam itu.
Dan kita sebagai hamba-Nya senantiasa wajib memuji-Nya.
Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Nawwas bin Sam'an ia berkata: "Suatu hari onta Rasulullah saw. dicuri, maka ia bersabda:'Apabila Allah awt. mengembalikan onta saya maka saya akan bersyukur kepada-Nya'. Tidak lama kemudian onta itu berada di salah satu kabilah yang terdapat di dalamnya seorang wanita muslimah. Wanita tersebut merencanakan untuk mengambil onta itu dan berlari meninggalkan kabilah itu. Pada saat orang-orang di kabilah itu terlelap tidur ia berlari dengan onta dan tiba di Madinah pagi hari. Ketika kaum muslimin Madinah melihat onta Rasulullah  mereka sangat gembira dan langsung memberitahukan Rasulullah saw. bahwa onta yang hilang telah kembali. Ketika Rasulullah saw. melihat ontanya kembali ia mengucapkan: "Alhamdulillah". Para sahabat menanti Rasulullah apakah ia akan melaksanakan puasa atau shalat sebagai tanda syukurnya kepada Allah swt. Namun mereka tidak menyaksikan sesuatu dari Rasulullah sehingga mereka menyangka bahwa Rasulullah saw. lupa. Maka mereka berkata: 'Wahai Rasulullah, engkau pernah mengatakan bahwa apabila Allah swt. mengembalikan ontamu maka engkau akan bersyukur kepada Allah'. Rasulullah menjawa:'Bukankah saya telah mengucapkan alhamdulillah?”
Tirmidzi, Nasa`i, dan Ibnu Majjah meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ia berkata: "Rasulullah bersabada: 'Dzikir yang paling utama ialah laa ilaaha illallaah, sedangkan do'a yang paling utama ialah alhamdulillah'.

(3). Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Selain penjelasan yang telah dikemukakan mengenai ayat ini, perlu juga kami jelaskan bahwa kedua nama atau sifat rahmaan dan rahiim Allah ini menunjukkan bahwa ketuhanan Allah adalah ketuhanan yang penuh rahmat dan kebaikan bukan ketuhanan yang hanya menunjukkan kekuasaan-Nya dan pemaksaan-Nya. Sedangkan siksaan yang diancamkan oleh Allah baik di dunia maupun di akhirat kepada orang-orang yang tidak mentaati-Nya itu merupakan salah-satu bentuk pendidikan dari Allah kepada manusia agar mereka mau mengikuti jalan yang sudah digariskan oleh Allah untuk menghantarkan mereka kepada kesejahteraan hidup didunia dan kebahagiaan abadi di akhirat. Sebagaimana seorang guru atau seorang bapak yang menjanjikan anaknya hadiah atau suatu pemberian kalau ia patuh dan mengancamnya apabila ia membangkang. 


(4). Yang menguasai hari pembalasan.

Maalik (dengan memanjangkan miim), artinya Pemilik. Dapat pula dibaca malik (dengan memendekkan miim), artinya: Raja. Yaumiddin (hari pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalnya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin mengandung arti pula yaumulqiyaamah (hari kiamat), yaumulhisaab (hari penghitungan), yaumuljazaa' (hari pembalasan), dan sebagainya.
Allah swt. Penguasa di hari kiamat, hari di mana manusia diperhitungkan seluruh amal perbuatannya, yang baik dan yang buruk untuk diberikan balasannya. Dia-lah yang mengatur secara menyeluruh segala urusan di hari itu sehingga tidak seorangpun mengaku dirinya dapat bersekutu dengan Allah dalam mengurusi pada hari itu. Tidak seorangpun yang berani angkat bicara kecuali dengan seizin Allah swt. Semua manusia di hari itu sama di sisi-Nya, para raja, rakyat jelata, yang kaya dan yang miskin, semuanya tunduk di bawah keagungan-Nya, semua menanti untuk diperiksa oleh-Nya, berharap pahala-Nya dan takut akan siksa-Nya. Bahkan mulut-mulut manusia yang ketika di dunia pandai bicara dan berbohong untuk menutupi kesalahan-kesalahannya pada hari itu terkunci rapat, tidak dapat mengeluarkan sepatah-katapun. Yang berbicara saat itu justru anggota-anggota badannya dengan mengakui setiap perbuatan yang telah dilakukannya. "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.(QS. Yaasiin: 65). "Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Mereka berkata kepada kulit mereka: 'Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?' Kulit mereka menjawab: 'Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan".(QS. Fushshilat: 20-21).
Kehidupan di dunia memang untuk bekerja dan mencari bekal untuk kehidupan abadi di akhirat  bukan untuk menerima balasan yang sempurna. Oleh karena itu bisa terjadi bahwa ada orang-orang yang melanggar hukum-hukum Allah dan mengikuti hawanafsunya akan tetapi nampaknya mereka tidak merasakan akibat buruk dari tindakan-tindakan mereka itu. Sebaliknya banyak orang yang mengisi kehidupannya di dunia ini dengan taat dan patuh kepada Allah akan tetapi nampaknya mereka tidak memperoleh balasan dari amal-soleh mereka itu. Hanya di akhirat nanti setiap manusia akan menerima dengan sempurna balasan dari setiap perbuatan mereka yang baik maupun yang buruk sekecil apapun perbuatan tersebut.
Setiap muslim yang membaca ayat ini (al-Fatihah: 4) pada setiap raka'at shalatnya akan terbayang kepada hari kiamat dan kedahsyatannya sehingga mendorongnya untuk melakukan persiapan-persiapan dengan beramal soleh dan berhenti melakukan perbuatan-perbuatan maksiat.

Sampai kajian berikutnya. Salam Wisatahati.